Kata Bebby pihak rumah sakit kekurangan anggaran sekitar Rp12 miliar pertahun untuk mencukupi kebutuhan obat. Hal tersebut diketahuinya saat Komisi IV DPRD Kota Pontianak melakukan kunjungan ke RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadrie, beberapa waktu lalu.
"Kunjungan kita ke Rumah Sakit Kota mengkonfirmasi kekosongan obat yang dikeluhkan masyarakat. Ternyata, masalahnya anggaran, mereka kekurangan Rp12 miliar pertahun untuk mencukupi kebutuhan obat," kata Bebby, kemarin.
Bahkan, akibat kekurangan anggaran ini, menurutnya, menyebabkan persoalan dengan distributor dan ada utang yang mesti diselesaikan.
Ia berharap persoalan ini dapat segera diatasi Pemerintah Kota Pontianak. Sebab, diungkapkan dia bahwa obat menjadi kebutuhan mendasar pasien rumah sakit yang harus diatasi segera. Apalagi, yang dikhawatirkan dia bahwa kondisi ini sudah dikeluhkan masyarakat beberapa tahun terakhir.
"Kita berharap mereka segera mengatasi. Dinas Kesehatan juga harus bertanggung jawab mengatasi masalah yang ada di rumah sakit Kota Pontianak dan puskesmas agar mereka yang berobat bisa mendapat fasilitas obat yang mereka butuhkan," katanya.
Di samping obat-obatan, Bebby juga berharap pelayanan kesehatan secara online dimaksimalkan. Sebab, dia melihat pelaksanaannya belum maksimal sehingga terjadi antrian panjang di Rumah Sakit Kota.
"Kota berharap aplikasi pendaftaran online bisa diperbaiki, agar dengan mudah mendapat pelayanan kesehatan masyarakat," tutupnya.
Sementara Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Eva Nurfarihah, pekan lalu telah memastikan persediaan obat di rumah sakit Kota Pontianak berangsur normal. Persoalan kekurangan stok yang terjadi beberapa waktu yang lalu telah mereka atasi.
"Beberapa obat yang kosong sudah kami penuhi dan mulai berdatangan," ungkapnya, kemarin.
Diakuinya, beberapa waktu lalu di rumah sakit yang dipimpinnya itu memang terjadi kekosongan obat. Salah satu penyebabnya adalah karena kunjungan pasien yang melonjak di beberapa poli, terutama pasien yang memiliki penyakit kronis yang jumlahnya naik hampir dua kali lipat lebih.
Dia menyebut, beberapa poli yang pengunjungnya naik signifikan itu seperti poli penyakit dalam, poli saraf, poli jantung, dan lain sebagainya. Akibat meningkatnya kunjungan tersebut, persediaan obat yang ada tidak cukup. Kondisi ini, menurutnya, diperburuk dengan anggaran tahun ini untuk pembelian obat tidak mencukupi.
Sebagai langkah penanggulangan, pihaknya telah berkonsultasi dengan Dewan Pengawas Rumah Sakit Kota Pontinak dan Dinas Kesehatan Kota Pontianak.
"Instruksi dari dewas dan dinkes mempercepat pergeseran perubahan anggaran agar kita bisa belanja obat dan itu sudah kita lakukan," terangnya.
Selain itu, tambahnya, dianjurkan pula untuk menjadikan belanja obat sebagai prioritas utama sehingga kegiatan lainnya ditunda sementara. Pihaknya juga meminta bantuan Dinas Kesehatan Kota Pontianak dan Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar yang mereka miliki untuk menyuplai sejumlah obat yang kosong.
"Khusus untuk emergency, yang harus segera, pemesanannya lama, maka kebutuhannya segera kita upayakan dengan meminta bantuan pada rumah sakit sekitar kita, termasuk RS swasta juga membantu meminjamkan obat," ucapnya.
Eva menambahkan, untuk pemesanan obat di RS Kota Pontianak, tidak seperti membeli obat di toko, melainkan dengan prosedur dan standar administrasi yang harus dipenuhi. "Apalagi kita RS daerah ada syarat administrasi yang harus diikuti," tuturnya.
Dirinya berharap, dengan adanya peningkatan jumlah pasien yang berdampak pada baiknya kebutuhan obat, pemerintah bisa menambah anggaran untuk pembelian obat agar bisa mengantisipasi persoalan stok obat seperti yang terjadi sebelumnya.
Di sisi lain, Eva menyangkal adanya kabar bahwa pihak RS Kota Pontianak memberikan obat yang kedaluarsa. Dirinya memastikan bahwa obat yang diberikan kepada pasien merupakan obat yang aman dan sesuai dengan kebutuhan pasien. (iza) Editor : Syahriani Siregar