PONTIANAK - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional meninjau kondisi dan perencanaan pengembangan konektivitas di Pelabuhan Kijing, Pelabuhan Dwikora serta kawasan industri sekitarnya. Peninjauan juga sudah dilakukan pada Pelabuhan Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah.
Sejumlah topik didiskusikan dalam peninjauan yang dilakukan Direktur Transportasi Bappenas, Ikhwan Hakim bersama Kepala Bidang Perencanaan Bappeda Kalbar, Budi L Sanjaya, GM Pelindo Pontianak Hambar Wiyadi, Manager Komersial Ervin Bayu Sanjaya, serta Edwin Danil.
Salah satu yang dibahas terkait potret dan isu strategis angkutan laut domestik. Antara lain tingginya biaya logistik karena masih mahalnya ongkos transportasi laut. Sebagai contoh untuk jarak yang hampir sama (1.600-1.700 mil laut), ongkos angkut peti kemas per teus dari Jakarta-Hongkong sekitar Rp4.6 juta, lebih murah bila dibandingkan rute Jakarta-Sorong Rp17,5 juta.
Kondisi ini disebabkan masih rendahnya muatan (load factor). Lalu terbatasnya kawasan ekonomi, dan konsolidasi rute belum maksimal. Sebagai contoh untuk pengiriman cargo Surabaya ke Sorong muatan 100 persen, sedangkan untuk rute balikannya hanya terisi 30 persen.
Selain itu, faktor infrastruktur dan layanan pelabuhan simpul peti kemas domestik belum mampu menampung kapal besar. Rata-rata ukuran kapal Indonesia hanya 700 teus, jauh di bawah ukuran ideal 2500 teus.
Lebih lanjut dalam diskusi dipaparkan juga kebijakan pemerintah untuk pembenahan konektivitas laut yaitu dengan penggunaan kapal berukuran lebih besar akan menurunkan ongkos transportasi laut.
Lalu standardisasi kinerja pelabuhan simpul petikemas domestik, pembangunan kawasan dan konektivitas pada hinterland, reformasi tarif kepelabuhan, serta restrukturisasi pengelolaan pelabuhan yang diusahakan secara komersial.
General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Pontianak, Hambar Wiyadi memaparkan, produksi Terminal Kijing telah berkembang pesat per Juli ini sudah ada 245 kunjungan kapal dengan throughput 884 ribu ton curah cair dan 63 ribu ton curah kering.
Lanjut Hambar, Terminal Kijing untuk komoditas CPO berasal dari Kalbar 32,4 persen, Riau 21,3 persen, dan Jambi 19,1 persen. Sedangkan cargo muatan petikemas masih didominasi oleh kebutuhan domestik 90,6 persen dan ekspor hanya 9,4 persen dengan produksi per Juli sebesar 139 ribu teus.
Hambar juga menyampaikan terkait tantangan pelabuhan sungai, alur bisnis pelabuhan, proses pelayanan kapal, supply chain,serta penjelasan tentang program Strategis Nasional Pengendalian Korupsi (Stranas pPK) yang telah diimplementasikan di Pelabuhan Pontianak.
"Misalnya menggunakan sistem operasi pelayanan kapal terpadu melalui Phinnisi, dan ke depan akan dikembangkan juga penerapan data identifikasi truk tunggal (SingleTruck Identification Data / STID) serta sistem monitoring TKBM," pungkas Hambar. (mse)
Editor : Syahriani Siregar