PONTIANAK - Jalur kapal-kapal besar yang masuk ke Pontianak melalui muara Jungkat kerap mengalami hambatan hingga menyebabkan kapal kandas berhari-hari. Kenyataan di lapangan, terdapat titik-titik pendangkalan yang seharusnya bisa dicari solusi oleh para pihak terkait, sehingga alur pelayaran dari Pontianak dan sebaliknya bisa berjalan tanpa hambatan.
Manajer Cabang PT Dharma Lautan Utama, Fitri Cutyadi membenarkan, kondisi alur masuk dan keluar kapal jalur Pontianak telah mengalami pendangkalan. Untuk kapalnya yang membawa angkutan orang, barang dan kebutuhan sembako dari arah Semarang ke Pontianak begitu juga sebaliknya kerap terkendala dengan kondisi saat ini.
“Saya sejak 2021 di sini, belum ada jalur kapal ini dilakukan pengerukan. Kapal kami sudah beberapa kali kandas,” ungkapnya kepada Pontianak Post, Jumat (1/9).
Apalagi ditambah kondisi kemarau seperti ini. Sungai mengalami pendangkalan, sehingga kapal-kapal besar yang mengangkut muatan orang dan barang kebutuhan pokok semakin sulit masuk ke Pontianak.
Untuk satu bulan ini, ungkapnya sudah dua kapal kandas di jalur Pontianak. Bahkan Kapal LBN Lima kandas sejak 20 Agustus lalu dan sampai sekarang belum ada progres untuk lepas dari alur tersebut.
kapal kandas
Akibat kejadian ini, berbuntut dampak yang merugikan banyak pihak. Materi sudah pasti, beban operasional karena kapal kandas, belum lagi barang angkutan yang berada di dalam kapal. Jika barang yang dibawa jenis sembako atau buah-buah ketika kapal kandas selama berhari-hari bisa membuat buah dan sayuran busuk. Pastinya akan merugikan para distributor.
Dampak lainnya, pasokan sayuran dan buah-buah baik dari Pontianak ke Semarang dan sebaliknya akan mengalami kekurangan. “Harapan saya, persoalan jalur kandas ini bisa menjadi perhatian pemerintah dan otoritas Pelabuhan untuk melakukan pengerukan alur. Jika kami terhambat, pasokan kebutuhan pokok dan lainnya juga bisa tersendat,” ungkapnya.
Begitu pula dengan angkutan orang. Semenjak covid 19 mereda, terdapat kenaikan jumlah penumpang kapal dari Pontianak-Semarang dan sebaliknya. Jika dulu sekali berangkat bisa membawa 250 penumpang, saat ini jumlah penumpang bisa meningkat hingga 400 orang bahkan lebih.
Jika alur kapal masih mengalami kedangkalan, kapal kandas bukan tak mungkin akan kerap terjadi. Sebagai Perusahaan pelayaran pasti akan banyak mengalami kerugian. Bukan hanya penumpang saja, namun ini akan terganggu dengan jadwal keberangkatan, belum lagi kapal lainya yang tak bisa lewat karena masih adak kapal yang kandas. (iza)
Editor : Syahriani Siregar