PONTIANAK – Yayasan Dian Tama memfasilitasi lima warga Jepang yang ingin berziarah ke Makam Juang Mandor pada Minggu (3/9/2023). Lima warga Jepang itu diterima Juru Kunci Makam Juang Mandor, Uca Suherman.
Lima warga Jepang itu membawa rangkaian bunga sebagai bentuk duka, empati, dan simpati mereka terhadap korban kekejaman tentara Jepang pada era peperangan. Reiko Teramoto baru menginjak usia remaja saat peristiwa Mandor terjadi.
Teramoto yang sekarang berusia 91 tahun masih belia ketika mendengar berita tragedi pembunuhan ribuan orang di Kalimantan Barat, yang mereka kenal dengan tanah Borneo.
Pasukan Jepang masuk ke Kalimantan Barat periode tahun 1942 hingga 1945. Teramoto yang sudah paham dan mendengar pemberitaan terkait pembantaian itu merasa sedih. Ia memahami kejadian perang di dunia, termasuk di Kalimantan Barat.
"Sudah lama saya ingin mengunjungi tanah Borneo. Tapi belum kesampaian. Hari ini, saya berkesempatan ke sini. Saya pakai kesempatan ini untuk berziarah ke Mandor," kata Teramoto yang diterjemahkan Hirowaka Tsuyoshi.
Selain Teramoto dan Hirowaka Tsuyoshi, datang juga Nagao Sumie, Shaito Keiko, dan Muta Yoko. Mereka turut menyesal atas peristiwa yang membuat ribuan orang meninggal dunia dalam tragedi Mandor tersebut.
Teramoto mengungkapkan rasa sesal dan belangsungkawa atas kejadian sekitar 80 tahun lalu. "Saya juga minta maaf atas kekeliruan penguasa Jepang di masa itu," kata Teramoto.
Teramoto mengajak semua orang saling menghargai keberadaan kebebasan dan kemerdekaan setiap bangsa. "Alangkah bahagia jika semua orang mewujudkan kedamaian dan persahabatan," kata Teramoto.
Saat berkeliling Makam Juang Mandor, lima warga Jepang ini menerima penjelasan dari Uca Suherman. Ia menjelaskan cukup detil terkait peristiwa yang mengakibatkan banyak orang kehilangan nyawanya.
Nagao Sumie merogoh tas kecil yang dibawanya. Ia mengambil buku kemudian mencatat beberapa hal dari penjelasan juru kunci makam.
Sedangkan temannya yang lain mengabadikan momen ziarah itu dengan mengambil beberapa foto dengan tustel yang dibawanya.
Tiba di Makam Juang Mandor, warga Jepang ini disuguhkan relief yang menggambarkan peristiwa tersebut terjadi. Mereka mendengarkan penjelasan Uca Suherman, penjaga makam.
Mereka juga meletakkan dua karangan bunga saat berziarah. Karangan bunga itu diberi tulisan, "Peperangan adalah pilihan terburuk. Perang mengubah orang damai menjadi kejam. Kami berjanji melanjutkan kegiatan kami untuk meniadakan peperangan agar terjadi perdamaian di dunia. --Reiko Teramoto dan kawan-kawan."
Mereka kemudian diajak melihat beberapa makam yang ada di Makam Juang Mandor tersebut, termasuk Makam 10, yang menjadi lokasi pemakaman korban yang merupakan para raja-raja dan orang-orang terpelajar.
Kini, Reiko Teramoto telah menunaikan keinginannya mengunjungi Makam Juang Mandor, yang peristiwanya diketahui ketika masih berusia remaja.(*/r/mnk)
Editor : A'an