PONTIANAK - Ketua Komisi III DPRD Kota Pontianak, Mujiono mengatakan, di tahun depan Pemerintah Kota Pontianak akan melakukan investasi pergantian pipa PDAM Tirta Khatulistiwa dengan alokasi anggaran Rp20 hingga Rp30 miliar.
Dengan pergantian pipa tersebut, kejadian kebocoran yang kerap terjadi di daerah Sungai Jawi dan Jalan Perdana kemungkinan besar bisa terminimalisir.
“Tingkat kebocoran air PDAM memang tinggi. Dari datanya kurang lebih 28 sampai 29 persen. Jika dari 100 persen, kerugian masih cukup tinggi. Temuan kebocoran ini kebanyakan di dua titik, pertama Sungai Jawi dan Jalan Perdana,” ungkap Mujiono, Senin (11/9).
Pihak Komisi III DPRD Pontianak malahan sudah melakukan pemantauan di lapangan. Hasilnya memang kerap terjadi kebocoran di dua titik. Yaitu Jalan Perdana dan daerah Sungai Jawi hingga Pal V.
Dari hasil pengecekan teman-teman Komisi III di lapangan, bahwa kondisi pipa besar PDAM memang harus dilakukan pergantian. Jika tidak dilakukan, maka akan semakin sering kebocoran terjadi di dua titik ini.
Dalam upaya petugas PDAM melakukan perbaikan pipa besar yang mengalami bocor itu, membutuhkan waktu cukup lama. Mula-mula pastinya distribusi air mesti dilakukan penghentian sementara. Sebab jika volume air terus mengalir akan membuat petugas mengalami kesulitan dalam perbaikan pipa ini. Jika demikian, air yang terbuang itu akan sia-sia dan tak sampai ke konsumen.
Penyebab terjadinya kebocoran bermacam. Seperti terdapat pembongkaran kegiatan proyek di lapangan, lalu tekanan air yang terlalu tinggi, membuat beberapa bagian pipa pecah dan mesti dilakukan perbaikan.
“Jika temuan kebocoran cepat maka perbaikan bisa cepat. Namun jika kebocoran baru diketahui seminggu, tinggal dihitung berapa kerugian air yang terbuang cuma-cuma ini,” ujarnya.
Menurut Mujiono, pergantian pipa memang harus segera dilakukan. Jika tidak PDAM akan berkutat pada tambal sulam pipa bocor. Jika dihitung biaya perbaikan ini memakan biaya yang cukup besar. Kalau kejadian kebocoran semakin tinggi, maka biaya laba yang didapat PDAM ujungnya hanya habis buat perbaikan pipa saja.
“Kami juga sudah hitung, biaya kerugian kebocoran ini angkanya tinggi dalam setahun. Kurang lebih 29 miliar. Jika kebocoran bisa ditekan 20 sampai 15 persen, maka tingkat kerugian juga akan semakin rendah,” ungkapnya.
Dia melanjutkan soal investasi IPA di Pontianak Barat, jika betul terealisasi, diarsa dia akan mengurangi tingkat kebocoran di Sungai Jawi. Sebab untuk distribusi air bersi ke Sungai Jawi hingga Pal ini berasal dari IPA Imam Bonjol. Bila tekanan kuat, tak menutup kemungkinan pipa bisa bocor kembali.
“Mudah-mudahan saja IPA di Pontianak Barat bisa terealisasi. Dengan pipa baru, kemudian tekanan air juga tidak terlalu tinggi, sehingga temuan kebocoran akan semakin minim,” ujarnya.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan solusi agar tidak terjadi kebocoran pipa PDAM adalah dengan pergantian pipa. “Tahun 2024 rencana pipa itu akan diganti,” ungkapnya.
Untuk meminimalisir terjadinya kebocoran pipa, untuk malam hari tekanan harus dikurangi. Untuk sementara inilah solusi yang dilakukan. Jika terdapat temuan kebocoran seperti kemarin di daerah Sungai Jawi dan Pal sudah dilakukan perbaikan pipa. Namun ini hanya sementara.
“Solusi sebetulnya adalah pergantian pipa jenis Pem kalau sekarang pipa yang digunakan itu jenis PPC,” jelasnya. (iza)
Editor : Syahriani Siregar