PONTIANAK - Perum Bulog Divre Kalimantan Barat kembali menyalurkan bantuan beras cadangan sebanyak 10.087 ton bagi 336.266 warga Kalimantan Barat. Penyaluran beras tersebut untuk menghadapi fluktuasi harga beras, Senin (11/9).
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kalbar, Bambang Prihatmoko mengutarakan, penyaluran bantuan beras merupakan arahan Presiden Joko Widodo. Hal ini sebagai langkah antisipasi dan penambahan pasokan pangan di tengah masyarakat.
“Ini sebagai langkah antisipasi menghadapi fluktuasi harga beras dan menambah pasokan pangan beras di tengah masyarakat,” katanya di gudang Bulog, Kubu Raya.
Bambang mengutarakan, penyaluran bantuan beras ini sekaligus bertujuan untuk menekan harga kenaikan beras yang saat ini tengah terjadi.
“Tujuannya supaya berkurang demand masyarakat di pasar. Jadi secara tidak langsung mengendalikan harga,” jelasnya.
Bantuan pangan ini, kata Bambang, akan disalurkan ke seluruh Kalbar selama tiga bulan berturut-turut. Masing-masing keluarga akan mendapatkan 10 kilogram beras per bulan.
“Penyaluran ini dilakukan selama tiga bulan berturut-turut dari September, Oktober dan November. Total 10.087 ton beras khusus untuk tahap dua ini se-Kalbar,” katanya.
Sementara itu khusus untuk Kota Pontianak, bakal disalurkan 627 ton untuk alokasi tiga bulan tersebut. Selain penyaluran bantuan beras cadangan, Bulog juga aktif dan rutin melakukan program SPHP guna menambah pasokan beras di tingkat pengecer dan konsumen.
“Dalam menghadapi fluktuasi harga di pasar, Bulog selain menyalurkan bantuan pangan juga aktif dan rutin melakukan program SPHP. Menambah pasokan beras di tingkat pedagang, pengecer khususnya di pasar tradisional,” katanya.
Pelaksana Harian Sekda Kalbar, Alfian Salam mengatakan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, akan menggencarkan program operasi pasar untuk menekan kenaikan harga beras di pasaran. Hal tersebut dilakukan lantaran kenaikan harga beras sudah terjadi dua pekan beklakangan. Lonjakan harga berkisar Rp1.000 per kilogram untuk kualitas beras premium.
"Harga beras di pasaran berada pada angka Rp14.000 sampai 15 ribu per kilogram. Ada naik tetapi sedikit," ucapnya, Senin (11/9).
Menurut dia, guna mengantisipasi kenaikan harga beras, Pemprov Kalbar secepatnya melakukan operasi pasar pada sejumlah pasar tradisional. Pemprov Kalbar juga akan mengawal bapoktin (bahan pokok penting) lainnya yang rentan mengalami kenaikan dampak dari peningkatan inflasi.
“Operasi pasar terpadu nantinya dikoordinir Dinas Perindustrian Perdangandan ESDM bersama Dinas Ketahanan Pangan guna bersama-sama mengendalikan bapoktin naik,” kata dia.
Alfian menambahkan bahwa angka produksi padi per Januari hingga September 2023 di Kalbar memang terus mengalami penurunan.
Dia meminta Dinas Tanaman Pangan Kalbar dapat mencermati kondisi produksi padi yang semakin hari mengalami penurunan. Hingga berdampak pada kenaikan harga beras di pasaran. Harusnya agar ada langkah-langkah strategis dalam mengatasinya. Kenaikan harga beras medium di kabupaten/kota di Kalbar mulai terjadi dari Januari hingga September 2023. Peningkatan kenaikan harganya bahkan sampai 2,91 persen.
Harga beras terendah di Kota Pontianak dan Kubu Raya masih berada pada angka Rp 10.820 per kilogram. Sementara kenaikan harga beras tertinggi terjadi di Kabupaten Sanggau dikisaran Rp14.240 per kilogram. Kenaikan harga beras premium mencapai 1,49 persen. Harga terendah di Kabupaten Kubu Raya berada pada kisaran Rp12.500 per kilogram. Harga tertinggi di Pontianak, Rp16.173 per kilogram.
Syarif Amin Muhammad, Wakil Ketua DPRD Kalbar menyoroti pemberitaan beras Indonesia yang sedang trending sekarang. Dia mengambil kajian dari beberapa media nasional bahwa Indonesia terancam krisis beras, imbas dair langkah eksportir pangan India dan dampak El Nino.
"Bicara El Nino adalah fenomena iklim yang ditandai suhu dan kondisi cuaca ekstrem yang dapat mengganggu kehidupan dan mata pencaharian. salah satunya petani beras. Ini akan berdampak ke petani di Kalimantan Barat," kata dia.
Sementara itu, sebanyak 300 batang pohon cabai hasil tanaman warga binaan pemasyarakatan rumah tahanan negara Kelas IIA Pontianak siap panen. Panen perdana cabai hasil tanaman warga binaan tersebut langsung disaksikan Kepala Rutan Kelas 2A Pontianak, Raja M. Ismael Novadiansyah.
Raja mengatakan, meski berada di balik tembok rumah tahanan, tidak membuat warga binaan pemasyarakatan untuk tidak berkreativitas. Salah satu contohnya, lanjut Raja, beberapa warga binaan berhasil bercocok tanam cabai.
"Alhamdulillah, hari ini (kemarin) kami panen perdana cabai hasil tanaman warga binaan dan hasilnya sudah siap dipasarkan," kata Raja.
Raja mengungkapkan, keberhasilan warga binaan bercocok tanam cabai, pada dasarnya bukan hanya bicara tentang menanam saja. Melainkan adanya upaya pembinaan yang terus dilakukan.
"Ini adalah bukti bahwa semua individu, terlepas dari masa lalu mereka, memiliki potensi untuk berubah dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat," ucap Raja.
Raja menyatakan, dirinya selalu mendukung kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan warga binaan di Rutan. Karena ketika kegiatan tersebut berhasil, itu membuktikan bahwa pelayanan kemandirian yang diberikan telah sukses.
"Ini adalah bukti bahwa kesalahan masa lalu tidak harus menentukan masa depan seseorang," ujar Raja.
Raja menambahkan, panen perdana cabai tersebut adalah bukti bahwa setiap orang memiliki potensi untuk mengubah hidupnya dan menjadi aset bagi masyarakat untuk turut serta aktif dalam pembangunan dan pengentasan kemiskinan.
"Panen cabai dari Rutan Pontianak bukan hanya tentang tumbuh subur, tetapi juga tentang memberikan harapan dan inspirasi kepada semua orang," ungkapnya.
Raja berharap, dengan kesempatan yang diberikan dan kerja keras yang terus dilalukan, siapapun termasuk warga binaan pemasyarakatan yang saat ini sedang berada di rumah tahanan dapat merubah dirinya menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. (arf/adg/den)
Editor : Syahriani Siregar