Di era 90-an, pengantar surat lekat dengan panggilan Pak Pos. Menggunakan seragam berwarna oranye, dengan motor berwarna khas tim sepakbola Belanda, Pak Pos menjadi garda terdepan dalam pengantaran surat menyurat. Kini, meski tidak seeksis dulu, nyatanya peran Pak Pos masih dirasa manfaatnya.
Mirza Ahmad Muin, Pontianak
KANTOR Pos begitu familiar bagi masyarakat sebelum memasuki tahun 2 ribuan. Betapa tidak, keberadaan Kantor Pos, yang melayani jasa kurir, logistik, dan keuangan menjadi pilihan utama masyarakat sebelum perusahaan swasta yang melayani jasa pengiriman barang begitu perkasa saat ini.
“Dulu kalau kita mau melamar kerja. CV kita harus dikirim ke Kantor Pos. Nanti Pak Pos lah yang mengantar surat lamaran kita di perusahaan yang dituju. Saya ingat betul itu,” kenang Dian, salah satu yang pernah mendapatkan pelayanan di Kantor Pos, Jalan Sultan Syahrir Pontianak.
Kata dia, di Kantor Pos dulu, sangat ramai masyarakat. Tujuan mereka ke sana bermacam. Paling sering tentu berkirim surat dokumen.
Saking seringnya, bahkan sebagian masyarakat pasti pernah memiliki pengalaman sama dengannya, yaitu antre panjang.
Saking tingginya pelayanan pengiriman dokumen, Kantor Pos menempatkan banyak petugas khusus untuk pelayanan ini.
Di depan pintu masuk Kantor Pos, tepatnya di papan pengumuman, juga banyak informasi yang sangat membantu masyarakat.
Pengumuman lowongan kerja (loker) paling banyak. Sehingga adanya pengumuman lowongan kerja itu begitu membantu masyarakat dalam mendapatkan informasi loker.
Tingginya pelayanan jasa antarsurat dan dokumen di Kantor Pos, berdampak pada meningkatnya aktivitas pengantar surat di jalanan kala itu. Dulu untuk mengenali Pak Pos, cukup mudah.
Ciri khasnya mereka menggunakan kendaraan dan seragam berwarna oranye. Darinyalah surat menyurat dan dokumen bisa sampai ke rumah rumah.
Namun kini keberadaan pengantar pos, sudah jarang terlihat lalu lalang di Kota Pontianak. Kata Dian, mungkin dikarenakan jasa pengiriman dokumen surat dan barang oleh swasta kian tumbuh.
Sehingga peran pelayanan dari Pak Pos tidak setinggi zaman dulu. Tetapi hingga kini Kantor Pos tetap beroperasional.
Bisa dibilang mereka perusahaan perintis dalam jasa antar surat dan dokumen di Indonesia.
Terpisah petugas Pos, di wilayah Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Rizwan Saputra mengungkap sudah 4 tahun bekerja sebagai pengantar Pos di wilayahnya.
“Surat menyurat dan dokumen yang biasa saya antar, kadang juga ada barang. Dalam memberikan pelayanan pada masyarakat, banyak suka duka dirasa,” kata Rizwan kepada Pontianak Post.
Ia menuturkan selama mengantarkan surat dan dokumen ke kantor dan rumah-rumah, cukup banyak pengalaman dirasa. Ban bocor, mogok di jalan, kehujanan sampai sulit menemukan alamat jadi teman.
“Kalau sampai tersesat sekali atau sampai masuk ke sarang penyamun, itu saya belum pernah Bang,” katanya.
Lebih dalam, kata dia, di daerah Kembayan, wilayahnya cukup luas. Ada 13 desa. Saat tugas, mesti keluar masuk kampung.
Jalan rusak menjadi tantangan dirinya ketika mengantar surat dan dokumen.
Apalagi jika daerah tersebut usai diguyur hujan lebat, tugasnya sebagai pengantar pos semakin berat. Pernah juga, ketika di perjalanan membawa banyak dokumen surat, hujan turun dengan deras.
Ketika kiri serta kanan jalan hutan, mau tak mau harus jalan terus sambil mengamankan dokumen agar tidak basah. Setelah dokumen diamankan, perjalanan dilanjutkannya sampai menemukan tempat berteduh.
Belum lagi menemukan konsumen yang kurang ramah, atau memarahinya karena sesuatu hal. Namun ia tetap berupaya memberi pelayanan baik pada semua konsumen yang ditemukannya.
Kata dia, banyak pengalaman didapat sebagai pengantar pos. Ia bisa menemukan banyak hal baru.
Kemudian daerah baru yang belum pernah dilaluinya. Tapi ketika menjadi pengantar pos, kesemuanya dapat terwujud.
Kalau dulu, kata dia, petugas Kantor Pos memiliki motor khas berwarna oranye. Untuk saat ini, di Kembayan, sepeda motor tersebut sudah tidak ada lagi.
Untuk pengantaran dokumen dan surat menyurat, ia sendiri menggunakan kendaraan pribadi. Baginya hal itu tak masalah.
Selain suka duka menjadi pengantar pos, tugas ini juga memiliki kepuasan tersendiri baginya. Apalagi ketika menemukan costumer baru yang baik, ramah, dan sopan.
“Sekarang saya pun sudah dikenal banyak orang di Kembayan sebagai petugas pengantar pos. Bagi saya ini betul-betul menyenangkan,” tutupnya. (*)
Editor : Syahriani Siregar