PONTIANAK - Ulang Tahun Kota Pontianak yang dilaksanakan setiap bulan Oktober kerap dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, seperti membuat manggar hingga membuat pokok telok. Namun, yang dilakukan oleh para siswa MIN 2 Pontianak ini berbeda. Mereka membuat pokok telok dan manggar dari barang bekas.
“Kami mengadakan jepin bersama siswa, guru, staf sekolah serta orangtua siswa. Ada pula lomba saprahan dan pokok telok,” ungkap Kepala MIN 2 Pontianak, Nurbaiti.
Nurbaiti mengatakan, pokok telok yang terbuat dari bahan bekas ini akan memberikan edukasi kepada siswa bahwa barang yang tidak lagi berguna bisa disulap menjadi barang yang bernilai.
Pokok telok yang dibuat kali ini, ada yang terbuat dari kain bekas hingga plastik dari bekas botol atuapun minuman. Adapun manggar yang menghiasi sekolah, dibuat dari plastik bekas dan sisa plastik deterjen.
Dalam momen kali ini, siswa juga mengikuti lomba saprahan, sebuah tradisi makan bersama secara berhampar. Saprahan sendiri memiliki tata cara tersendiri dalam menampilkan kuliner khas Melayu, dalam hak ini khususnya di Pontianak.
“ Ada yang menghidangkan nasi kebuli, nasi putih, semur daging dan ayam, sayur dalca, pacri nanas, sambal wak dolah. Ada juga bingke berendam, talam ubi dan lain sebagainya yang dibuat oleh masing-masing kelas dan ditata secara rapi,” jelasnya.
Seluruh rangkaian kegiatan ini, kata dia, merupakan upaya untuk melestarikan budaya dan ciri khas Kota Pontianak yang telah ada sejak dulu. Generasi muda menurutnya penting untuk mengenal tradisi dan budaya dimana tempat ia lahir atau berpijak.
Yusmirawati, guru MIN 2 Pontianak mengatakan, menambahkan, dalam pembautan manggar, para siswa diajak untuk memanfaatkan plastik bekas. “Kami memanfaatkan sisa kantong plastik, juga plastik sisa kantong deterjen,” ungkap nya.
Aktivitas ini menurut Yusmirawati adalah untuk memberikan edukasi kepada siswa terutama tentang pemanfaatan sampah plastik untuk menjadi barang yang bernilai. Hal ini juga sejalan implementasi Kurikulum Merdeka.
“Program ini juga sesuai dengan kurikulum merdeka, yakni P5RA (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan Lil'alaamin),” tuturnya.
Siswa memanfaatkan kantong bekas plastik dan limbah plastik bekas deterjen. Untuk membuat manggar ini, para siswa melihat tutorialnya terlebih dahulu, kemudian dirangkai bersama-sama di sekolah.
“Harapannya, anak-anak bisa memanfaatkan barang bekas untuk didaur ulang kembali,” pungkasnya. (sti)
Editor : A'an