PONTIANAK - Dies Natalis ke-4 Universitas Widya Dharma Pontianak (UWDP) sekaligus HUT ke-40 Yayasan Widya Dharma Pontianak sukses digelar. Pembukaan dilaksanakan pada 26 Agustus sebagai hari berdirinya UWDP dan penutupan 12 November sebagai hari lahirnya Yayasan UWDP.
Amandus Ambot, S.Ag., Lic.Th., OFM.Cap, Ketua Panitia bersyukur rangkaian kegiatan berjalan lancar. Semua tak lepas dari kerja sama semua pihak.
“Ada banyak rangkaian kegiatan yang kami lakukan, ada seminar ilmiah, aneka perlombaan baik bidang olahraga, seni, musik, tari dan lomba debat. Kemudian ada pemilihan putra-putri kampus UWDP 2024 serta jalan sehat,” paparnya.
Kali ini tema yang diangkat “Transformasi Pendidikan Holistik Menuju Universitas Widya Dharma Pontianak yang Unggul. Kegiatan ini juga memiliki tagline beriman. “Beriman bukan yang artinya eksklusif hanya Kristen, Khatolik tetapi keluarga besar UWDP kan bermacam-macam agama,” jelasnya.
Tagline lainnya bersaudara karena sama-sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan sehingga harus saling menghormati, mengasihi dan menyayangi. Kemudian berkualitas baik dari segi intelektual maupun akhlaknya.
Dr. M. Hadi Santoso, S.E., M.M., Rektor UWDP mengatakan wisudawan tahun ini berjumlah 716 orang. Terbanyak berasal dari Program Studi Manajemen.
Berdasarkan tracer study terakhir, sekitar 70 persen lebih lulusan UWDP terserap sangat cepat antara satu hingga tiga bulan.
“Tentu kami berharap wisudawan kami kembali ke masyarakat bisa berkarier bagus tidak hanya sebagai pencari kerja, tetapi bisa menciptakan lapangan kerja. Bisa mengangkat kehidupan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Karena hampir 70 persen mahasiswa kami berasal dari pelosok,” katanya.
Hadi juga berpesan pada alumni dimanapun berada selalu menjaga nama baik perguruan tinggi, sebab itu menjadi jaminan bagi perkembangan perguruan tinggi ke depan.
UWDP juga memiliki target menjadi perguruan tinggi yang berbasis riset dan hasilnya berguna bagi masyarakat dan negara.
“Sesuai tema yang diangkat, pendidikan yang UWDP terapkan tidak hanya dari sisi holistic tetapi untuk semua aspek kehidupan,” tuturnya.
Meski diakui Hadi bahwa tantangan yang dihadapi cukup kompleks. Tidak hanya persaingan perguruan tinggi swasta yang berlomba-lomba menampilkan keunggulan masing-masing, tetapi juga regulasi pemerintah dan menteri pendidikan yang dari tahun ke tahun semakin ketat dan menekankan pada aspek kualitas.
“Maka untuk tetap eksis kami harus terus meningkatkan mutu, mengejar akreditasi unggul bahkan akreditasi nasional agar visinya tercapai,” pungkasnya. (mrd)
Editor : A'an