PONTIANAK - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) berusaha semaksimal mungkin mencegah masuknya virus African Swine Fever (ASF) yang berpotensi menyerang babi.
Pengetatan dilakukan mengingat kebutuhan babi menjelang Natal dan Tahun Baru semakin meningkat.
Kepala Disbunnak Kalbar, Heronimus Hero mengatakan, Kalbar saat ini membutuhkan pasokan babi dari provinsi lain.
“Ada yang didatangkan dari Bali, Lampung, dan Sumatera Utara,” ungkap Hero, Senin (4/12).
Pihaknya pun memastikan telah melakukan pengetatan terhadap babi yang akan masuk ke wilayah Kalbar.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menutup sementara pasokan babi dari luar Kalbar yang dikirim melalui jalur darat.
“Hal ini karena adanya risiko untuk kontaminasi penyakit ASF,” ucapnya.
Risiko yang dimaksud, lanjut dia, karena jalur darat memiliki rute lebih panjang sehingga membuka celah terkontaminasinya babi dengan virus tersebut.
Rute pengiriman ini memang tidak sepenuhnya melalui jalur darat.
Babi yang dikirim dari Bali ke Jawa Tengah ditempuh dengan jalur darat, yang kemudian dikirim menggunakan kapal ke Pelabuhan Kumai, di Kalimantan Tengah.
“Kemudian barulah dari Kumai ke daerah-daerah tujuan yang ada di Pontianak dan lainnya. Jadi sangat risiko di titik-titik berhenti itu terkontaminasi Flu Babi Afrika,” ucapnya.
Dengan begitu, pasokan babi hanya bisa masuk melalui jalur laut, di mana pengiriman langsung dari pelabuhan daerah asal ke Kalbar melalui Pelabuhan Sintete, Kabupaten Sambas.
Pihaknya berusaha semaksimal mungkin menutup celah bagi tertularnya virus yang mematikan babi tersebut. Bila ada ternak yang berindikasi terkontaminasi virus ASF, pihaknya segera mengambil sampel untuk diteliti.
Kemampuan peternak babi di Kalbar dalam memenuhi kebutuhan lokal diakuinya belum mencukupi.
Karena itulah, para pengusaha mendatangkan babi dari dari luar Kalbar. Sejauh ini pasokan babi dari daerah luar relatif lancar meskipun hanya mengandalkan kiriman melalui jalur laut secara langsung.
“(Dari Januari) sampai November ini ada 132 ribu ekor babi yang didatangkan ke Kalbar. Untuk menyambut Natal, beberapa pelaku usaha sudah memasukkan 6000 ribu ekor,” ungkapnya.
Untuk harga daging babi saat ini berkisar Rp140 per kg. Harga ini menurutnya jauh lebih murah dibandingkan dengan beberapa waktu lalu yang sempat berada pada angka Rp160 ribu per kg.
Hero menyebut, Kalbar pernah mengalami surplus babi hingga produksinya mencapai 500 ribu ekor dalam satu tahun. Kalbar bahkan mampu menjadi pemasok babi di Indonesia.
Namun, dikarenakan adanya penyakit ini, populasinya turun menjadi 46 ribu ekor.
Karena itulah, pasokan dari luar Kalbar sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan lokal. (sti)
Editor : Syahriani Siregar