Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kenakan Pakaian Berbahan Tenun Ikat Sintang, Windy Ajak Promosikan Wastra Khas Kalbar

A'an • Selasa, 30 Januari 2024 | 12:16 WIB

 

TENUN: Pj Gubernur Kalbar Harisson dan Pj Ketua TP-PKK Kalbar Windy Prihastari mengenakan baju berbahan tenun Ikat Sintang dengan pewarna alam saat puncak peringatan HUT ke-67 Pemprov, Senin (29/1).
TENUN: Pj Gubernur Kalbar Harisson dan Pj Ketua TP-PKK Kalbar Windy Prihastari mengenakan baju berbahan tenun Ikat Sintang dengan pewarna alam saat puncak peringatan HUT ke-67 Pemprov, Senin (29/1).

PONTIANAK - Ada yang unik dari acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang digelar di Halaman Kantor Gubernur, Senin (29/1).

Dalam kesempatan yang spesial itu, Penjabat (Pj) Gubernur Kalbar Harisson, dan Pj Ketua TP-PKK Kalbar Windy Prihastari tampak serasi mengenakan baju adat berbahan tenun Ikat Sintang dengan pewarna alam. 

Baju tenun Ikat Sintang yang dikenakan Harisson dan Windy menggunakan bahan katun, dengan motif pupuk berapung. 

Kemudian pewarnaan yang digunakan menggunakan engkerebang (psychotria megacoma).

Motif pupuk berapung pada kain tenun Ikat Sintang dengan pewarna alam itu mempunyai filosofi tersendiri.

Motif berapung adalah motif kain yang menggambarkan pusaran air yang sangat deras.

Buih putihnya sangat menarik, tetapi sangat berbahaya bagi manusia yang sedang melakukan perjalanan hilir mudik melalui jalur air. 

“Jadi motif pupuk berapung ini mengingatkan kita untuk berhati-hati, jika melalui lintasan air yang ada pusarannya, dan motif ini juga menggambarkan kehidupan yang tenang, damai, walaupun keadaan pasang surut,” ungkap Windy.

Lebih lanjut Windy menjelaskan, proses pembuatan kain pantang, yang merupakan sebutan bagi masyarakat suku dayak di desa, terutama ibu-ibu pengrajin untuk menyebutkan tenun Ikat Dayak yang ada di Kabupaten Sintang.

Adapun proses yang dilakukan dalam pembuatan kain tenun tersebut, menggunakan istilah bahasa daerah. 

Pertama dimulai dari tahapan ngeluayan, merapikan benang, sekaligus milang benang (penghitungan benang). Lalu ngerap (memasang kerap), masang pelungan.

Kemudian negi (memasang pembatas pada benang). Nikai (mengikat benang). Lalu nyimpan benang ke tangga.

Selanjutnya nyaum (menyatukan dengan benang dari atas bawah ke atas). Ngaling benang (membuat benang agar bisa diikat). Ngebat (proses mengikat motif), dan nyelup (proses pewarnaan).

Selanjutnya dijelaskan Windy, tahap pencelupan dan penjemuran. Terdiri dari ngetas tampuk (membuka ikatan motif), ngerambai (membuka motif setelah diwarnai), mantang(menenun), jahit kumbuk puak dan mulas atau memilin kain. 

“Proses tersebut bisa memakan waktu dua sampai tiga bulan. Tergantung besar kecil ukuran, kesulitan pembuatan motif, dan berapa kali proses pembuatan warna,” paparnya. 

Menurut Windy berbagai momen penting harusnya bisa digunakan sebagai upaya promosi produkkekayaan yang dimiliki daerah ini. Termasuk di momen HUT Pemprov. Atau bisa juga promosi wastra khas Kalbar di berbagai event atau acara daerah, hingga ke tingkat nasional. 

Hal tersebut kata dia, sebagai upaya untuk terus mendorong agar produk khas lokal Kalbar bisa dikenal hingga ke luar Kalbar. Bahkan bisa diterima, dan diminati di pasaran internasional.

"Jadi baju yang saya kenakan hari ini (kemarin) menggunakan bahan kain tenun Ikat Sintang dengan motif berapung. Hasil baju yang saya pakai adalah hasil karya dari desiner lokal Kalbar yakni Hamisah.

Karya dari Hamisah ini juga sudah dikenal di luar Kalbar, dengan berbagai permintaan model desain pakaian yang ia ciptakan,” pungkasnya. (bar/r)

 

Editor : A'an
#harisson #Baju adat #kalbar #Windy prihastari #tenun Ikat Sintang #HUT Pemprov Kalbar ke 67