PONTIANAK- Sejumlah pedagang sembako di Kota Pontianak mengeluh dengan tak menentunya harga beras dari agen.
Salah satunya dialami Reza, pemilik toko Bersinar di komplek Pasar Flamboyan, Pontianak.
Menurut Reza, hampir satu bulan terakhir, harga beras mengalami fluktuasi, khususnya beras kualitas premium.
Ia pun terpaksa mengambil untung tak seberapa dari setiap penjualan per karungnya.
“Sebagai pedagang kami pun bingung dengan harga beras. Berubah-ubah. Kemarin kita ambil ke agen harganya sekian, tiga hari kemudian harga sudah berubah,” kata Reza saat ditemui Pontianak Post di tokonya, Selasa (20/02).
Untuk beras premium seperti beras merek CK misalnya, per karung ukuran 20 Kg, ia jual dengan harga Rp 338 ribu. Sedangkan harga dari agen sekitar Rp 330 ribu.
Sedangkan untuk beras merek Anak Raja, harga per 5 Kg dari agen sekitar Rp 83 ribu, ukuran 10 kg Rp 161 ribu, ukuran 15 kg Rp 239 ribu, dan ukuran 20 Kg sekitar Rp 318 ribu.
“Jadi untuk jual eceran, rata-rata keuntungannya sekitar Rp700,” kata dia.
Sementara, harga beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih tetap Rp 57.000 per 5 Kg.
Reza mengaku, beras SPHP sempat mengalami kekosongan pasokan beberapa hari lalu. Namun saat ini pasokan sudah kembali normal.
“Untuk SPHP pasokannya sudah normal,” bebernya.
Menurut Reza, setiap toko atau pedagang eceran menjual beras dengan harga yang berbeda-beda.
Hal senada juga diungkapkan pedagang lainnya, Chan, pedagang eceran di Paasr Flamboyan.
Ia menyebutkan, kenaikan harga beras ini terjadi sebelum Imlek dan pasca-pemungutan dan penghitungan suara Pemilu 2024.
“Setelah pemilu itu kenaikannya sekitar 400 rupiah per kilogram untuk beras premium,” katanya.
Jika diakumulasikan, kenaikan sebelum pemilu (kurun waktu sebulan terakhir) ditambah pasca-pemilu, kenaikan harga beras bisa sekitar Rp1 ribu per kilogram.
Sedangkan untuk kenaikan beras premium per karungnya mencapai sekitar Rp9 ribu.
Kemudian untuk harga beras premium dalam kemasan 10 kilogram seharga Rp148 ribu. Sedangkan harga perkilogram mulai Rp 15 ribu hingga Rp15.500.
Atas kenaikan itu, pedagang juga merasa kebingungan untuk menjualnya. Selain itu, kenaikan harga tersebut juga mempengaruhi terhadap ketersediaan stok di pasaran.
“Stok barang pun kurang. Orang enggak berani ambil karena harga mahal,” ucapnya.
Terpisah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat kembali menyerahkan Bantuan Sosial (Bansos) berupa beras dan pangan kepada masyarakat Kabupaten Kubu Raya yang dipusatkan di Kecamatan Sungai Kakap bertempat di Yayasan Budi Mulia Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Senin (19/2).
Bantuan sebanyak 5.700 kg atau 5,7 ton beras Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) milik Pemprov Kalbar ini disalurkan dalam rangka menekan angka inflasi serta membantu warga terdampak banjir di Kubu Raya.
Penjabat Gubernur Harisson mengatakan, bansos diberikan kepada masyarakat yang kurang mampu.
“Kita tetap konsisten memberikan Bansos ini kepada masyarakat dalam rangka mengendalikan inflasi di Kalimantan Barat,” kata Harisson.
Dalam upaya pengendalian inflasi ini, pemprov tidak hanya menyalurkan bansos tetapi juga rutin melaksanakan operasi pasar dan pangan murah.
“Operasi pasarnya juga tetap kita lanjutkan. Hal ini dilakukan supaya Inflasi kita (Kab/Kota se-Kalbar) tetap terjaga. Tapi memang yang menjadi pusat perhatian itu biasanya kita di daerah-daerah yang menjadi perhitungan inflasi seperti Kota Singkawang, Kota Pontianak, kemudian Kabupaten Sintang, Kayong Utara, Ketapang dan termasuk juga di Kubu Raya," ungkapnya. (arf)
Editor : Syahriani Siregar