Oleh : Siti Sulbiyah
Rombongan wisatawan dari Jakarta disambut dengan hangat ketika mereka tiba di Bandara Supadio Pontianak. Perjalan mereka di kota ini dimulai ketika menaiki bus yang akan membawa mereka menuju Desa Wisata BML atau Kampung Melayu BML, di Kota Pontianak. Dalam perjalanan, seorang tour guide menjelaskan beberapa objek wisata di kota ini, serta bangunan-bangunan yang dilewati sepanjang perjalanan.
“Kita mengenalkan diri, juga menjabarkan rute-rute wisata,” kata Maryam, si pemandu wisata.
Sesampainya di waterfront Pontianak, tepatnya di dekat Pelabuhan Senghie, rombongan disambut dengan tradisi palang pintu dan pencak silat, serta tabur beras kuning dan pengalungan kain corak insang. Mereka melanjutkan kegiatan dengan menyusuri tepian sungai kapuas, makan dengan besaprah, membatik di Rumah Batik Kamboje, hingga menyusuri sungai Kapuas dengan kapal wisata.
Ini adalah rangkaian tour wisata di Kampung Melayu BML. Rombongan dipandu oleh tour guide dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan BML, pada Desember 2024 yang lalu. Uniknya, para pemandu adalah emak-emak yang merupakan warga di kelurahan tersebut.
Zuraida (57), salah satu tour guide Kampung Melayu BML mengatakan, beberapa anggota Pokdarwis telah dilatih untuk menjadi tour guide profesional. Ada tujuh orang tour guide yang telah dinyatakan lulus dalam uji kompetensi. Dua laki-laki-laki, lima orang perempuan.
“Kalau yang perempuan satu orang anak muda, yang lainnya emak-emak,” kata dia.
Ia mengatakan emak-emak yang menjadi tour guide adalah ibu rumah tangga yang aktif dalam kegiatan ekonomi dan sosial di Kelurahan BML. Mereka ada yang membuka usaha, aktif di kesenian membatik, hingga terlibat dalam kegiatan PKK.
Dia menceritakan, terbentuk tour guide ini berawal dari adanya Pokdarwis BML. Pokdarwis ini berperan dalam memaksimalkan potensi wisata di kawasan waterfront di Kampung Melayu BML. Daerah ini memang memiliki potensi wisata yang menarik, mulai dari sungai, meriam karbit, kuliner khas Melayu Pontianak, kerajinan, hingga bangunan-bangunan bersejarah yang masih kokoh berdiri.
Kampung Melayu BML pernah terpilih sebagai desa wisata terbaik pada tahun 2022. Desa ini terpilih sebagai juara Harapan 1 Desa Wisata untuk kategori Desa rintisan. Hal ini semakin memotivasi warga, khususnya Pokdarwis BML untuk pengembangkan wisata agar semakin teratata dengan profesional.
Melatih para anggota Pokdarwis sebagai tour guide adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk keberlanjutan kepariwisataan di sana. Apalagi, saat ini sudah ada paket wisata yang ditawarkan untuk para pelancong yang ingin berwisata di Kota Pontianak.
Zuraida adalah warga Asli Kampung Melayu BML. Ia tahu betul sejarah dari kawasan yang menjadi saksi sejarah pembangunan di Kota Pontianak tersebut. Ini bekal awal yang cukup baginya untuk menjadi seorang pemandu wisata.
“Saya juga asalnya (di sini), dapat cerita dari orang tua secara turun temurun,” tuturnya.
Potensi wisata di kawasan waterfront Kampung Melayu BML menurutnya sangat besar. Di sana ada pelabuhan Senghie, pelabuhan tertua di Kota Pontianak. Ada pula bangunan tua milik Yayasan Kuning Agung yang masih mempertahankan kesenian musik tradisional Khas Tionghoa. Belum lagi bangunan-bangunan tua yang hingga kini masih ditempati warga.
Ada pula aktivitas membatik di Rumah Batik Kamboje, mengikuti tradisi saprahan, serta hadirnya UMKM yang memproduksi kuliner khas Pontianak, seolah menjadi penyempurna wisata di kawasan tersebut.
Ibu Rumah Tangga jadi Tour Guide
Pokdarwis Benua Melayu Laut (BML) memberdayakan para perempuan sebagai tour guide di kawasan wisata tepian sungai Kapuas tersebut. Sebagian bahkan merupakan ibu rumah tangga. Nia Kurniasih (43) salah satunya. Ia telah menjadi tour guide sejak beberapa bulan terakhir.
“Masih baru (jadi tour guide), baru membawa dua kali tamu,” ungkapnya.
Ia merasa jam terbangnya masih sangat minim. September tahun lalu bahkan baru saja ia selesai mengikuti uji kompetensi tour guide. Pasca mengikuti uji kompetensi, Pokdarwis BML mencoba membuat paket tour.
Baginya BML menjadi wadah bagi warga di kelurahan tersebut untuk lebih berdaya dan meningkatkan perekonomian. Nia yang merupakan ibu rumah tangga baru aktif dalam kegiatan ekonomi dan pariwisata di BML sejak tahun 2022. Suaminya terlebih dulu aktif di Pokdarwis Hang Tuah sebagai ketua. Hang Tuah pada masa itu merupakan satu dari dua pokdarwis di BML, yang kemudian digabung menjadi satu.
Sejak penggabungan pokdarwis tersebut, ia mulai aktif dalam kegiatan ekonomi dan wisata di kelurahan tersebut. Ia belajar membatik di Rumah Batik Kamboja, hingga mengikuti pelatihan manajemen pokdarwis. Karya-karya batik dari para pengrajin Rumah Batik Kamboja kini semakin dikenal oleh masyarakat.
Maryam (50) adalah salah satu tour guide di Kampung Melayu BML. Sejak September 2023 yang lalu ia telah mengikuti uji kompetensi sebagai pemandu wisata dan dinyatakan lulus. Walau sudah lulus uji kompetensi, namun perasaan cemas muncul saat pengalaman pertama sebagai pemandu wisata.
“Awalnya merasa aduh bisa tidak ya, karena kami akui soal tour guide ini masih awam,” katanya.
Pengalaman pertamanya adalah memandu para pelancong dari Jakarta. Ia bertugas menyambut rombongan dari Bandara Supadio Pontianak. Selama perjalanan ke lokasi, di dalam bus ia menceritakan sedikit sejarah Kota Pontianak.
Meski merasa cemas saat memulai pengalaman pertamanya, namun saat dijalani ternyata tidak demikian. Ia justru merasa nyaman karena para tamu juga menyambutnya dengan kehangatan.
Rosdiana (46) tidak pernah menyangka dirinya akan menjadi pemandu wisata di Kampung Melayu BML. Semula ia hanya terlibat aktif dalam aktivitas kesenian, seperti membatik di Rumah Batik Kamboje di kelurahan tersebut.
Karena berkumpul dengan emak-emak produktif lainnya, ia pun menerjunkan diri dalam dunia kepariwisataan. Tujuannya adalah mengembangkan wisata yang potensial di tempat tinggalnya.
Sama seperti pemanduan wisata emak-emak lainnya, Rosdiana juga merasa kurang percaya diri ketika pertama kali ikut terlibat mendampingi wisatawan. Namun, hal yang terjadi justru sebaliknya. Ia mampu melayani dengan baik. “Ternyata setelah dijalani malah merasa nyaman,” kata dia. **
Editor : Syahriani Siregar