Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Supadio Resmi Tak Lagi Jadi Bandara Internasional, Warga Nilai Tak Relevan untuk Kalbar

A'an • Jumat, 26 April 2024 | 11:18 WIB

Bandara Supadio kini tak lagi menyandang status bandara Internasional setelah Kementerian Perhubungan secara resmi menetapkan bandara kebanggaan warga Kalbar ini sebagai bandara domestik.
Bandara Supadio kini tak lagi menyandang status bandara Internasional setelah Kementerian Perhubungan secara resmi menetapkan bandara kebanggaan warga Kalbar ini sebagai bandara domestik.
SUNGAI RAYA - Status bandar udara (bandara) Supadio di Kabupaten Kubu Raya resmi berubah dari bandara internasional menjadi bandara domestik yang hanya melayani rute penerbangan dalam negeri.

Hal tersebut diketahui dari Keputusan Menteri (KM) Perhubungan Republik Indonesia (RI) Nomor KM 31 Tahun 2024 tentang Penetapan Bandara Internasional yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi pada 2 April 2024.

Dalam KM 31 tersebut ditetapkan sebanyak 17 bandara internasional se-Indonesia. Yang mana Bandara Supadio tidak termasuk salah satu di antaranya. Bandara yang tidak tercantum dalam KM 31, yang penggunaan sebelumnya merupakan bandara internasional, otomatis berubah menjadi bandara domestik, termasuk Bandara Supadio.

“Dengan keluarnya KM 31 Tahun 2024 itu maka Bandara Supadio berubah status menjadi bandara domestik, tidak lagi melayani penerbangan internasional,” ungkap Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), Harisson kepada awak media, Kamis (25/4) siang.

Lebih lanjut Harisson menjelaskan, salah satu alasan yang dikemukakan pemerintah pusat, bahwa dengan banyaknya bandara internasional di tanah air, justru mempermudah masyarakat Indonesia ke luar negeri. Kebanyakan masyarakat yang ke luar negeri tujuannya adalah berwisata, jalan-jalan, dan juga berbelanja. Kondisi itu dinilai dapat menghabiskan devisa, atau merugikan negara.

“Jadi, dari data yang dihimpun, banyak warga negara kita (Indonesia) yang keluar negeri daripada orang luar negeri berkunjung ke Indonesia, melalui bandara-bandara internasional tersebut. Intinya ternyata rugi kalau banyak bandara internasional, justru devisa kita tergerus,” katanya.

Melihat alasan tersebut, Harisson menyatakan pemerintah provinsi (pemprov) tentu mendukung kebijakan pemerintah pusat agar devisa negara tidak terus tergerus. “Kalau dari perhitungan bahwa dengan adanya bandara internasional, devisa kita (Indonesia) tergerus, dan perhitungan ini betul,  pemprov (pasti) mendukung (kebijakan pusat),” pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, salah satu warga Kota Pontianak, Jefri (43) sangat menyayangkan perubahan status Bandara Supadio dari internasional menjadi domestik.

Ia merasa kebijakan itu justru akan berdampak negatif cukup besar, terhadap perekonomian maupun pariwisata di Kalbar. Mantan pengusaha tur dan travel itu menilai perubahan status bandara dari internasional menjadi domestik tidak relevan diberlakukan untuk Supadio, sebagai bandara terbesar di Kalbar.

“Apakah ada jaminan dengan dijadikannya Bandara Supadio sebagai bandara domestik bisa menekan mobilisasi warga Indonesia ke luar negeri? Justru sebaliknya, orang luar negeri jadi berpikir untuk ke Pontianak, karena mereka harus transit lewat Jakarta atau kota lainnya,” ungkap dia.

 Jefri menambahkan, dampak dari kebijakan itu tentu akan membuat Kalbar kehilangan banyak potensi kunjungan wisatawan mancanegara. Soalnya jika harus transit, otomatis memakan biaya yang besar, ditambah lagi harga tiket domestik cenderung lebih mahal.

“Pontianak ini harusnya memiliki bandara internasional karena sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan berbagai negara (tetangga). Wajar kalau wisatawan (mancanegara) yang datang ke Pontianak menurun. Mestinya pemerintah kita memikirkan bagaimana menarik wisatawan untuk datang ke sini, bukan malah menutup diri,” tegasnya.

Pria yang hobi traveling itu lantas mengungkapkan alasan mengapa warga Indonesia lebih senang liburan ke luar negeri, terutama di wilayah Asia atau Asia Tenggara. Pertama, kata dia, karena biaya tiket pesawat ke luar negeri jauh lebih murah ketimbang di dalam negeri.

“Harga tiket pesawat yang (domestik) gila-gilaan (mahal), jika dibandingkan tiket ke luar negeri, malah bisa berlipat-lipat selisihnya,” ujarnya.

Lalu alasan yang kedua, menurut Jefri, biaya transportasi umum di luar negeri juga lebih terjangkau, serta banyak pilihan. Ia merasa tidak begitu sulit untuk menggunakan transportasi umum di luar negeri, atau negara tetangga. Harapannya pemerintah Indonesia bisa mengevaluasi hal-hal tersebut, sehingga industri pariwisata di negara ini tidak kalah saing dengan luar negeri.

“Selain itu, banyak tempat wisata yang tidak berbayar (di luar negeri), sehingga memberikan pilihan bagi pelancong yang memiliki budget minim,” pungkasnya. (bar)

Editor : A'an
#bandara domestik #kalbar #bandara supadio #resmi