Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Harisson Sebut Gawai Dayak Milik Bersama, Kemeriahan Malam Pembukaan PGD XXXVIII Kalbar

Syahriani Siregar • Selasa, 21 Mei 2024 | 13:26 WIB

Pj Gubernur Harisson memukul alat musik Kangkuang tanda dibukanya PGD XXXVIII Provinsi Kalbar di Rumah Radakng, Senin (20/5) malam.
Pj Gubernur Harisson memukul alat musik Kangkuang tanda dibukanya PGD XXXVIII Provinsi Kalbar di Rumah Radakng, Senin (20/5) malam.
PONTIANAK - Malam pembukaan Pekan Gawai Dayak (PGD) XXXVIII Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) Tahun 2024 berlangsung meriah digelar di Rumah Radakng Pontianak, Senin (20/5).

Dibuka dengan tari kolosal, nyanyian, dan juga atrakasi seni budaya, opening seremoni PGD XXXVIII Provinsi Kalbar mampu menarik perhatian ribuan pasang mata yang hadir malam tadi.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Penjabat (Pj) Gubernur Kalbar Harisson beserta istri yang juga Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kalbar Windy Prihastari, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus, Anggota DPR RI Adrianus Asia Sidot, Sekjen MADN Jakobus Kumis, Ketua DAD Kalbar Cornelius Kimha, dan juga jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kalbar.

Termasuk para tokoh lintas etnis, dan budaya yang ada di Kalbar, serta tamu undangan dari dalam maupun luar negeri lainnya.

PGD XXXVIII Provinsi Kalbar Tahun 2024 secara resmi dibuka oleh Pj Gubernur Kalbar Harisson yang dilanjutkan dengan pemukulan alat musik Kangkuang.

"Sebagaimana kita ketahui bersama Pulau Kalimantan termasuk pulau di Indonesia yang memiliki ragam kelompok suku dan etnis, salah satu sukunya yang paling terkenal adalah suku dayak, suku yang dikenal mengekspresikan kepercayaannya dengan menggelar berbagai ritual upacara adat yang beragam," ungkapnya.

Harisson mengatakan, PGD yang diselenggarakan setiap tahun bertujuan untuk melestarikan adat istiadat sebagai identitas budaya dayak, yang sudah ada sejak turun temurun.

Sekaligus juga sebagai sarana untuk mengembangkan seni budaya yang dapat dinikmati, tidak hanya oleh suku dayak tapi seluruh masyarakat di Kalbar.

"Gawai Dayak ini merupakan salah satu warisan budaya tak benda, artinya sudah jadi milik bersama. Dan merupakan pesta panen yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur komunitas masyarakat dayak atas kemurahan rezeki oleh tuhan berupa hasil panen sepanjang tahun," ujarnya.

Menurut Harisson Gawai Dayak juga merupakan nilai budaya yang dapat mengangkat kreativitas pelaku seni dalam memperkenalkan kesenian di tingkat nasional maupun internasional.

Yakni sesuai dengan tema memperkuat tradisi, dan budaya dayak untuk Indonesia raya dan sub tema sinergitas pelestarian kebudayaan dayak dalam kehidupan masyarakat yang bermartabat di tengah kemajemukan.

Melalui tema tersebut Harisson mengajak wujudkan komitmen bersama untuk terus melestarikan budaya dayak di tengah era modernisasi, dan globalisasi.

"Budaya dayak dengan segala keunikan dan kekayaannya merupakan aset bangsa yang harus dijaga, dan dilestarikan, memiliki nilai luhur dan menjadi pedoman hidup. Mari bergandengan tangan bersatu padu melestarikan budaya dayak agar dapat diwariskan kepada generasi penerus," ajaknya.

Di tempat yang sama, Majelis Kehormatan MADN Lasarus menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Kalbar yang benar-benar hadir dalam mendukung PGD di Kalbar.

"Saya sudah dapat laporan bahwa PGD ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, itu artinya Gawai Dayak ini merupakan milik kita semua. Ini bukan lagi milik masyarakat dayak, tapi masyarakat luas, bahkan milik masyarakat Indonesia," ungkapnya.

Atas nama MADN dan pengurus dirinya mengucapkan selamat gawai di Kalbar, dan juga gawai yang digelar di kabupaten/kota.

Lasarus yang juga Anggota DPR RI dapil Kalbar itu mengimbau seluruh masyarakat dayak yang hadir untuk mensukseskan bersama PGD tahun ini.

Serta bersama-sama pula menjaga keamanan serta ketertiban, maupun kemeriah selama PGD berlangsung.

"Terima kasih seluruh pihak yang sudah terlibat pada kegiatan ini terutama panitia, dan Sekberkesda. Mari jadikan PGD sebagai warisan budaya Indonesia, sebagai acara yang slalu dinantikan, dirindukan semua pihak," katanya.

Sementara itu, Ketua Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (Sekberkesda) Eugene Yohanes Palaunsoeka menyampaikan, PGD adalah wadah ekspresi bagi sanggar serta komunitas pecinta budaya Dayak. Dimana isi dari komunitas atau sanggar tersebut tak seluruhnya merupakan orang Dayak.

"Itu menunjukkan bahwa dayak milik bersama, milik masyarakat Kalbar, jadi gawai bukan hanya milik orang dayak. Bahkan dengan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, artinya PGD ini milik Indonesia. Jadi mari kita jaga, kembangkan, dan populerkan bersama," ajaknya.

Seperti diketahui lomba-lomba yang diadakan pada PGD XXXVIII Kalbar tahun ini sangat beragam.Baca Juga: Finalis Budare Gawai Dayak XXXVIII, Sosialisasikan Tempat Wisata dan Cegah Stunting

Di antaranya ada pemilihan bujang dara gawai, lomba sumpit, lomba lagu dayak anak-anak, lomba silat, lomba melukis perisai, lomba busana anak, lomba gasing, lomba tari, lomba masakan tradisional khas Dayak, lomba tato, dan lainnya.

Untuk tahun ini PGD sendiri digelar pada 20-25 Mei 2024. Namun sebelum itu juga terlebih dahulu digelar berbagai acara seperti Misa Syukur, Ziarah, dan Ngampar Bide.

Adapun PGD XXXVIII Provinsi Kalbar mengangkat tema Memperkuat Tradisi dan Budaya Dayak untuk Indonesia Raya.

Dengan mengusung dayak Kabupaten Landak, dan simbol yang diangkat berupa Pabayo, sebagai tanda masyarakat dayak atas pesta syukur. (bar)

Editor : Syahriani Siregar
#PGD #harisson #kalimantan barat #pekan gawai dayak #forkopimda