Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

RSUD Soedarso Segera Buka Pelayanan Radioterapi

Syahriani Siregar • Rabu, 12 Juni 2024 | 16:40 WIB
MEGAH: Penampakan gedung baru RSUD dr Soedarso dari sisi depan. Gedung ini terdiri dari dua bagian yang masing-masing terdiri dari enam lantai yang dilengkapi 277 tempat tidur. (Istimewa)
MEGAH: Penampakan gedung baru RSUD dr Soedarso dari sisi depan. Gedung ini terdiri dari dua bagian yang masing-masing terdiri dari enam lantai yang dilengkapi 277 tempat tidur. (Istimewa)

PONTIANAK - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso akan segera membuka pelayanan radioterapi untuk pasien kanker di Kalimantan Barat (Kalbar).

Operasional pelayanan radioterapi untuk pasien umum ditargetkan bisa dimulai pada Juli bulan depan, sementara untuk pasien BPJS kesehatan dibuka pada Agustus 2024.

Hal tersebut disampaikan Direktur RSUD Soedarso Hary Agung Tjahyadi saat kegiatan Penyusunan Standar Pelayanan Radioterapi RSUD Soedarso Tahun 2024 yang digelar, Senin (10/6).

"Hari ini (Senin) kami sosialisasi kepada beberapa unsur masyarakat terkait pelayanan radioterapi. Radioterapi ini sebenarnya sudah lama kami persiapkan, dan melewati beberapa tahapan, jadi bukan rumit, tetapi memang detail tahapan tentang radioterapi ini (cukup panjang)," ungkapnya.

Hary menjelaskan, terkait pelayanan radioterapi, secara gedung dan fasilitas penunjang sebenarnya sudah siap di tahun 2023 lalu.

Namun untuk bisa beroperasi, perlu ada tahapan perizinan yang harus dilalui.

Pertama sebelum membangun harus ada izin struktur bangunan. Kemudian setelah selesai, dan peralatan (alkes) masuk, maka perlu ada izin operasional dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

"Bapeten sudah melakukan visitasi, kemudian melakukan penilaian, dan sudah memberikan rekomendasi beberapa hal, yang sebetulnya tidak vital, karena persiapannya baik gedung, kemudian kalibrasi peralatan, kemudian SDM, sudah memenuhi persyaratan. Tinggal kemudian ada beberapa rekomendasi yang kami perbaiki, baik dokumen, dan beberapa hal untuk melengkapinya," jelasnya.

Dengan demikian, Hary menargetkan pada minggu ini izin operasional dari Bapeten sudah bisa keluar untuk pelayanan radioterapi RSUD Soedarso.

Setelah itu, lanjut dia, juga perlu ada izin dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

"Mudah-mudahan di kurun waktu tidak lebih dari satu bulan, izin Kemenkes itu bisa keluar, baru bisa kami operasionalkan, jadi diperkirakan operasional mudah-mudahan Juli pertengahan," katanya.

Jika sudah beroperasi, Hary menerangkan, untuk sementara pelayanan radioterapi hanya bisa melayani pasien umum.

Untuk pasien BPJS Kesehatan, selanjutnya perlu ada Perjanjian Kerja Sama (PKS), antara RSUD Soedarso dengan BPJS Kesehatan.

"PKS dengan BPJS juga nanti akan dilakukan, mudah-mudahan kalau yang umum bisa Juli pertengahan, mudah-mudahan Agustus itu peserta BPJS Kesehatan sudah bisa memanfaatkan terapi radiasi ini," terangnya.

Hary mengungkapkan, pelayanan radioterapi atau terapi radiasi merupakan salah satu jenis intervensi terhadap penyakit kanker.

Dimana saat ini Rumah Sakit (RS) milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar itu sudah memiliki pelayanan bedah kanker, dan kemoterapi.

Dengan kehadiran radioterapi, tentu bakal melengkapi pelayanan terhadap pasien kanker.

"Kami sudah punya kemoterapi, bedah kanker, dan satu lagi yang melengkapi sebagai (RS) layanan rujukan utama adalah radioterapi. Terapinya (terhadap kanker) bisa sendiri-sendiri, tetapi juga bisa kolaborasi dari tiga jenis tindakan tadi, bisa kemoterapi dengan radioterapi, lalu bisa operasi (bedah) dengan radioterapi, dan bisa ketiga-tiganya," paparnya.

Di tempat yang sama, Kepala Instalasi Radioterapi RSUD Soedarso dr. Rendhy Tito Apreza menambahkan, penyakit yang bisa ditangani dengan radioterapi sebagian besar memang untuk kasus keganasan atau kanker.

Radioterapi bisa dibilang merupakan salah satu pilihan pengobatan untuk kanker, selain bedah (operasi), dan juga kemoterapi.

Rendhy menyebutkan, di Indonesia kasus-kasus kanker yang ditangani dengan radioterapi kebanyakan adalah kanker payudara, kanker serviks atau leher rahim, dan kanker paru-paru.

"Kalau kemoterapi, dan bedah kami (RSUD Soedarso) sekarang sudah ada, dokter-dokternya juga sudah lengkap, dengan adanya radioterapi harapannya makin melengkapi lagi pengobatan kanker. Jadi saling bersinergi antara bedah, kemoterapi sama radioterapi, itu jalannya bareng-bareng, tidak ada yang lebih bagus, dan lebih jelek, semuanya sama, kalau dikombinasikan maka akan lebih bagus hasilnya," jelasnya.

Sesuai dengan rekomendasi WHO, dan yang selama ini sering dilakukan, menurut Rendhy pengobatan kanker memang dilakukan dengan kombinasi dari tiga pelayanan tadi.

Sebagai contoh di Indonesia, kata dia, paling banyak ditemukan kasus kanker payudara. Untuk pengobatannya, pertama dilakukan operasi (bedah), setelah itu lanjut menjalani kemoterapi, dan kemudian radioterapi.

"Jadi ketiganya dapat. Sementara ini kami (untuk radioterapi) baru buka poli konsultasi, selama ini sudah banyak yang konsultasi," ungkapnya.

Dari konsultasi yang dibuka di RSUD Soedarso, Rendhy mengatakan, sebagian besar pasien memang membutuhkan radioterapi.

Akan tetapi sebagaian besar pula menolak untuk dirujuk ke RS di luar Kalbar, atau hanya sekitar 20 persen yang bersedia dirujuk.

Sementara sisanya memilih untuk menunggu pelayanan tersebut beroperasi di RSUD Soedarso, dengan alasan biaya, dan lain sebagainya.

"Jadi dengan operasional instalasi radioterapi di RSUD Soedarso ini, kami berharap dapat membantu pasien yang membutuhkan.

Jadi tidak perlu jauh-jauh ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Apalagi radioterapi tindakannya tidak sekali dua kali, bisa sampai 25 kali, setiap hari pengobatannya, kurang lebih (selama) lima minggu," tutupnya.

Seperti diketahui, RSUD Soedarso memiliki instalasi radioterapi dengan luas gedung 44 meter kali 34,3 meter, atau 1.509,2 meter persegi.

Terdiri dari dua bunker Linear Accelerstor (Linac) multi energy, yang saat ini baru diisi satu pesawat Linac.

Kemudian satu bunker CT Simulator, satu bunker brachytherapy dengan sumber radiasi Cobalt-60, satu mould room, empat poliklinik, serta ruang pendukung lainnya. (bar)

Editor : Syahriani Siregar
#radioterapi #kalimantan barat #hary agung #RSUD Soedarso