PONTIANAK - Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Barat Harisson membuka acara puncak Pajak Bertutur 2024 yang digelar di Pontianak Convention Center (PCC), Rabu (7/8).
Kegiatan yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Indonesia secara serentak se-Indonesia itu, merupakan upaya mengampanyekan program inklusi kesadaran pajak dalam pendidikan, terkhusus bagi generasi muda Indonesia.
Pajak Bertutur 2024 dibuka dengan ditandai pemukulan gong bersama, yang turut diikuti oleh Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak Yon Arsal, Rektor Universitas Tanjungpura (Untan) Garuda Wiko, dan disaksikan jajaran perwakilan Forkopimda Kalbar, serta para tamu undangan lainnya.
Kegiatan ini melibatkan lebih dari 23 ribu siswa, dengan mengangkat tema, Lampaui Batas, Bangkit untuk Indonesia Emas. Program ini melibatkan pegawai DJP yang memberikan edukasi kepada para pelajar mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
Harisson menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan RI yang telah memilih Kota Pontianak, Kalbar sebagai penyelenggara puncak acara Pajak Bertutur Tahun 2024. Dirinya menerangkan bahwa Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2045 mendatang. Pada periode tahun 2020 hingga 2045 nanti, diperkirakan Indonesia akan memiliki jumlah penduduk usia produktif sebesar 70 persen.
Usia produktif tersebut, lanjut dia, adalah mereka yang berusia di rentang 15 tahun sampai dengan 64 tahun. Sementara sisanya sebesar 30 persen, merupakan kelompok penduduk tidak produktif, baik yang berusia kurang dari 14 tahun maupun yang di atas 65 tahun.
"Nah, adik-adik mahasiswa, dan juga anak-anakku yang saat ini duduk di bangku SMP dan SMA, adalah generasi muda yang lahir di rentang tahun 1997 sampai dengan 2012. Kalian lebih dikenal dengan Generasi Z atau Gen Z. Adik-adik mahasiswa yang lahir di tahun 2005, pada tahun 2045 nanti akan berusia 40 tahun, dan yang lahir di tahun 2009, pada tahun 2045 akan berusia 36 tahun," paparnya.
Artinya, kata Harisson, mereka semua adalah Generasi Emas Indonesia yang akan menjadi motor penggerak pembangunan Indonesia pada 2025-2045, yaitu pada 21 atau 20 tahun lagi dari sekarang. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia mencanangkan visi besar untuk menjadi negara maju dengan ekonomi kuat, dan masyarakat sejahtera di tahun 2045.
"Pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia itulah kita ingin mencapai Indonesia emas, dimana kita tidak hanya membangun kekuatan ekonomi, dan infrastruktur, akan tetapi juga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)-nya”, ungkapnya.
Harisson lantas meluruskan beberapa stigma negatif yang saat ini beredar di masyarakat terkait pemanfaatan pajak oleh pemerintah. Pertama mengenai anggapan pajak hanya untuk orang kaya.
"Faktanya, tukang pentol kuah yang keliling dengan kendaraan roda duanya juga harus membayar pajak kendaraan bermotor. Kalian belanja di marketplace hijau, biru atau orange, itu juga bayar Pajak Pertambahan Nilai (PPn) sebesar 11 persen. Semua warga punya kewajiban membayar pajak," tegasnya.
Kemudian mengenai anggapan bahwa pajak memberatkan masyarakat. "Pertanyaan saya, sekolah gratis, duplikasi Jembatan Kapuas 1 dan Kapuas Landak, itu dibangun dengan uang siapa? Uang negara. Darimana sumber pendapatan terbesar negara? Dari pajak. Apakah kemudian memberatkan masyarakat? Justru saat belum ada duplikasi jembatan, masyarakat Pontianak Timur, dan Utara terbebani dengan kemacetan. Alhamdulillah sekarang sudah mulai berkurang," ujarnya. (bar/r)
Editor : A'an