PONTIANAK - Sungai Kapuas yang membelah Kota Pontianak bukan sekadar panorama indah. Di balik aliran airnya yang tenang, terjalin kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sungai. Salah satunya adalah penambang sampan atau yang akrab disapa sebagai ojek air.
Sejak pagi hingga sore, sampan-sampan kecil berjejer di sepanjang tepian sungai, siap mengantar warga menyeberangi sungai menuju tujuan mereka. Di tengah hiruk pikuk aktivitas perkotaan, sampan penyeberangan ini menjadi bagian integral dari kehidupan warga Pontianak.
"Saya sudah bertahun-tahun menjadi penyeberang di sini," ujar penambang sampan, Usman. "Setiap hari saya mengantar warga menyeberangi sungai untuk berbelanja, bekerja, atau sekadar mengunjungi keluarga di seberang," tambahnya.
Sampan penyeberangan bukan hanya alat transportasi, tetapi juga menjadi mata pencaharian bagi penambang. Mereka bekerja keras untuk menghidupi keluarga dengan mengandalkan jasa penyeberangan. Tarifnya pun terbilang murah, hanya Rp5.000 perorang.
"Meskipun penghasilannya tidak menentu, saya bersyukur bisa membantu warga yang membutuhkan. Saya berharap pemerintah dapat memperhatikan dan membantu kami agar kami dapat terus melayani warga dengan lebih baik," ungkap Usman.
Di tengah perkembangan kota yang semakin pesat, keberadaan sampan penyeberangan masih menjadi kebutuhan penting bagi warga Pontianak. Mereka menjadi bukti nyata bahwa sungai bukan hanya pemisah, tetapi juga penghubung yang erat antara warga.
Sampan penyeberangan, "ojek air" di Sungai Kapuas, terus menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Pontianak, mencerminkan keunikan dan ketahanan masyarakat di Kota Khatulistiwa ini. (hif/mgg)
Editor : Miftahul Khair