Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Tengkawang Kalbar Jadi Komoditas Penelitian Bioprospeksi

A'an • Sabtu, 2 November 2024 | 14:28 WIB
PAPARAN : Koordinator Jaringan Tengkawang Kalimantan, Valentinus Heri saat memberikan paparan dalam Webinar Bioprospeksi Tengkawang dan Bedah Buku Tengkawang Pohon Kehidupan yang Penuh Manfaat.
PAPARAN : Koordinator Jaringan Tengkawang Kalimantan, Valentinus Heri saat memberikan paparan dalam Webinar Bioprospeksi Tengkawang dan Bedah Buku Tengkawang Pohon Kehidupan yang Penuh Manfaat.

PONTIANAK - Tengkawang, tanaman endemik Kalimantan Barat, kini menjadi fokus penelitian bioprospeksi yang diharapkan dapat membawa manfaat ekonomi dan ekologi bagi masyarakat dan lingkungan.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Barat, Setyo Haryani, menyebutkan bahwa tengkawang tersebar di delapan kabupaten di wilayah tersebut, termasuk Kapuas Hulu, Bengkayang, Ketapang, Landak, Melawi, Sanggau, Sekadau, dan Sintang.

“Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari Jaringan Tengkawang Kalimantan dimana pada tahun 2017 melakukan inventarisasi potensi dan sebaran tengkawang di 73 desa di 8 kabupaten di Kalimantan Barat,” ungkapnya dalam Webinar Bioprospeksi Tengkawang dan Bedah Buku Tengkawang Pohon Kehidupan yang Penuh Manfaat, Rabu (30/10).

Ia menambahkan potensi buah kering tengkawang yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar 6.048 ton yang tersebar di kawasan seluas 9.653 km persegi. Beberapa jenis tengkawang yang ada di Kalimantan Barat adalah jenis Tungkul, Cerindak, Rambai, Layar dan Bintang.

“Namun, data inventarisasi ini sudah lebih dari tujuh tahun dan perlu pemutakhiran data lagi,” tuturnya.

Saat ini spesies Tengkawang menjadi komoditas penelitian bioprospeksi yang dikerjakan rekan-rekan Jaringan Tengkawang Kalimantan yang didukung oleh Yayasan KEHATI. Program pelaksanaannya yang dimulai dari tahapan inventarisasi pengetahuan tradisional yang direncanakan bulan November ini dilakukan ke lebih dari 200 desa, bersamaan dengan panen raya Tengkawang.

“Lalu juga akan dilakukan eksplorasi sumber daya genetik lewat data dan jurnal ilmiah yang ada, sehingga mampu mendukung produk turunan Tengkawang untuk dapat dikomersialkan ke publik,” katanya.

Bioprospeksi menjadi penting karena merupakan salah satu upaya untuk memanfaatkan keanekaragaman hayati melalui penelusuran manfaat keanekaragaman hayati yang sistematik untuk tujuan komersial dari sumber senyawa kimia baru/ gen/ protein/ mikroorganisme, atau produk lain.

Koordinator Jaringan Tengkawang Kalimantan, Valentinus Heri mengungkapkan tantangan yang dihadapi masyarakat lokal dalam memanfaatkan tengkawang. Salah satunya adalah panen tengkawang bersifat musiman, dan kemampuan untuk mengolah buah tengkawang menjadi minyak masih terbatas karena fasilitas yang belum memadai.

Selain itu, perizinan untuk produksi dan pemasaran produk tengkawang masih sulit didapat, sementara harga buah tengkawang kering tidak stabil dan cenderung rendah.

Valentinus juga menyoroti bahwa pohon tengkawang semakin berkurang karena kebijakan yang ada belum sepenuhnya mendukung perlindungan dan pengembangan tanaman ini. “Belum banyak yang mengenal potensi tengkawang dalam bioprospeksi,” ungkapnya. (sti)

Editor : A'an
#kalbar #Tengkawang #DLHK