Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dialog Lintas Agama Dan Budaya, "Resiliensi Nilai Keagamaan Pada Kearifan Lokal Di Era Modern"

A'an • Minggu, 17 November 2024 | 11:01 WIB
Himpunan Mahasiswa Program Studi Studi Agama Agama IAIN Pontianak saat menggelar Dialog Lintas Agama dan Budaya.
Himpunan Mahasiswa Program Studi Studi Agama Agama IAIN Pontianak saat menggelar Dialog Lintas Agama dan Budaya.

PONTIANAK - Dengan bangga, Himpunan Mahasiswa Program Studi Studi Agama Agama IAIN Pontianak sukses melakukan Dialog Lintas Agama dan Budaya dengan tema Resiliensi Nilai Keagamaan Pada Kearifan Lokal di Era Modern. Dialog ini bertujuan untuk membangun pemahaman, menghargai kearifan lokal serta mendorong toleransi, terutama di tengah tantangan intoleransi yang sering muncul dalam masyarakat.

Secara singkat dijelaskan bahwa tema ini berbicara mengenai nilai-nilai keagamaan yang bertahan dan beradaptasi dalam konteks kearifan lokal, terutama di tengah tantangan dan perubahan yang dibawa oleh modernisasi.

Acara ini melibatkan berbagai tokoh dari kalangan agama yang berbeda, berikut diskusi singkat tentang pandangannya terhadap tema yang diangkat.

Felisitas Yuswanto, Dosen Stakat-N Pontianak mengatakan terdapat moment bersejarah yang bisa menjadi fenomena kontradiktif ataupun provokatif. Salah satunya momen kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal, Nasaruddin Imam Besar Masjid Istiqlal mencium kening Paus sebanyak 2 kali, momen ini terjadi ketika Paus Fransiskus dan Nasaruddin berfoto bersama.

Paus kembali mencium tangan Imam Besar Masjid Istiqlal sembari mengatakan “kamu menganggapku saudara mu, kamu juga saudara ku”. Karena satu poin pertama yaitu “Dia Saudara”. Melalui tindakan, mereka melambangkan untuk dunia tentang persaudaraan. Namun, jika dilihat dengan negatif maka tindakan ini akan kontradiktif.

Hidup merupakan “seni perjumpaan” dengan setiap orang, bahkan dengan orang-orang di pinggiran dunia dan dengan bangsa-bangsa asli, karena “masing-masing dari kita bisa belajar sesuatu dari yang lain. Tak ada seorangpun yang tidak berguna dan tak ada seorangpun boleh disingkirkan”.

Budi Purwanto, Pengawas Pendidikan Agama Buddha Tingkat TK, SMP, SMA/ SMK se Kota Pontianak memandang dalam Agama Buddha, menghadapi era modern bukanlah sebuah institusi yang statis dan tertutup. Agama Buddha bersifat dinamis dan terbuka, dengan arti Agama Buddha menghargai serta merangkul budaya lokal. 

Dalam Anguttara Nikaya. 4.65 Buddha Gautama tidak pernah memaksa pengikutnya untuk meninggalkan tradisi atau budaya mereka sendiri, sebaliknya Buddha Gautama mendorong untuk mempraktikkan ajaran dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Melalui proses adaptasi ini, Agama Buddha mampu merangkul dan menghargai budaya dan tradisi dengan pendekatan inklusif dan universal.

Sutadi, Ketua MATAKIN Kalbar menjelaskan dalam konteks resiliensi nilai keagamaan pada kearifan lokal di era modern, pandangan agama Khonghucu, terutama dalam kaitannya dengan konsep Yin Yang dan konsep Zhong Shu. Kearifan lokal dalam konsep Yin Yang dilihat dari bagaimana ajaran ini mengintegrasikan tradisi dan budaya setempat. Misalnya, praktik kebajikan seperti cinta kasih  dan keadilan, tidak hanya diterapkan dalam konteks religius tetapi juga dalam interaksi sehari-hari di masyarakat.

Dengan demikian, ajaran Konghucu mampu memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian budaya lokal sambil tetap relevan di era modern.

Melalui konsep Zhong Shu, Zhong Shu terdiri dari dua komponen utama: Zhong yang berarti kesetiaan atau satya kepada Tuhan, dan Shu yang berarti empati atau tenggang rasa kepada sesama manusia. Konsep ini menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal antar manusia.

Samsul Hidayat, Dosen SAA IAIN Pontianak, mengatakan dalam konteks Islam, kearifan lokal dapat dilihat sebagai manifestasi dari ajaran agama yang disesuaikan dengan budaya dan tradisi setempat. Misalnya, praktik-praktik sosial seperti gotong royong, penghormatan terhadap orang tua, dan menjaga lingkungan hidup merupakan contoh nilai-nilai keagamaan yang diinternalisasi dalam budaya lokal yang diimplementasikan oleh anak-anak muda.

Melalui Board Game, dengan judul Harmoni Nusantara: Jalan Moderasi, merupakan permainan yang memiliki konsep moderasi beragama upaya memelihara kearifan lokal terutama nilai-nilai keagamaan yang dituangkan dalam bentuk permainan. Boardgame ini memungkinkan pemain mengeksplorasi nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal bisa bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan modernisasi yang menentang tradisi dan keyakinan lokal.

Dalam permainan ini, setiap pemain akan memasuki dunia yang kaya akan keragaman budaya dan keyakinan, di mana mereka dapat mengeksplorasi berbagai situasi yang mencerminkan interaksi antar agama dan kearifan lokal. Melalui skenario yang disajikan, pemain dituntut untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mencari solusi yang mencerminkan sikap toleran dan saling menghormati.

Putu Dupa Bandem, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia, menjawab pertanyaan tentang pandangan masyarakat bahwa orang Melayu sudah pasti orang Islam, namun demikian ada fakta lain yang ditemukan dia orang Melayu tapi bukan beragama Islam. Apa yang menyebabkan pandangan ini hidup di masyarakat.

"Mari kita lihat orang Bali. Masyarakat Bali dikenal dengan tradisi Hindu yang kental, namun tidak semua orang Bali menganut agama Hindu. Ada juga yang memilih untuk memeluk agama lain, seperti Kristen atau Islam," ungkapnya.

Begitu pula dengan orang Melayu; meskipun mayoritasnya adalah Muslim, ada juga yang beragama Kristen, Buddha, dan lainnya.

"Kita ini Bhinneka Tunggal Ika, kelahiran kita yang disebut dari suku, ras, etnis itu tidak langsung sesuai dengan agama, bisa saja karena setelah dewasa kita akan mempelajari agama, oleh karena itu tidak semua kelahiran dari etnis tidak harus agama A. Orang Bali tidak harus agama Hindu, ada juga orang bali dari agama lainnya," pungkasnya. (mrd/*r)

Editor : A'an
#IAIN Pontianak #himpunan mahasiswa