Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Windy Prihastari Dorong Produk UMKM Lokal Tembus Pasar Internasional

A'an • Kamis, 28 November 2024 | 10:05 WIB

 

JAGA KUALITAS: Windy Prihastari Harisson mengajak seluruh pihak khususnya perajin untuk menjaga kualitas, mutu dari Wastra khas Kalbar.
JAGA KUALITAS: Windy Prihastari Harisson mengajak seluruh pihak khususnya perajin untuk menjaga kualitas, mutu dari Wastra khas Kalbar.

PONTIANAK – Pejabat Ketua Dekranasda Kalimantan Barat, Windy Prihastari Harisson mengungkapkan potensi besar yang dimiliki UMKM di Kalimantan Barat. Berbagai produk unggulan daerah, mulai dari kuliner hingga kerajinan, telah berhasil menarik perhatian pasar nasional dan internasional.

Beberapa produk kuliner khas Kalbar, seperti olahan dari talas atau keladi, lidah buaya, serta jajanan tradisional seperti kue bingke dan chai kue. Produk-produk ini tidak hanya menjadi andalan lokal tetapi juga daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Kalbar.

“Nah, seperti di Kuliner kita memiliki produk olahan dari Talas/Keladi, Lidah Buaya, dan banyak lagi kuliner basah yang juga menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kalbar seperti kue tradisional Bingke, Chai kue, dan jajanan kue tradisional lainnya,” kata Windy.

Selain itu, produk kerajinan dan wastra Kalbar juga terus menunjukkan keunggulannya. Anyaman tikar bidai dari Bengkayang dan kerajinan akar keladi air dari Kubu Raya merupakan beberapa contoh produk yang telah dikenal luas.

"Untuk cakupan pasar produk kita sudah banyak yang dapat menembus pasar nasional dan internasional, jadi banyak produk UMKM Kalbar sudah tidak hanya dipasarkan di pasar lokal saja," imbuhnya.

Windy menambahkan jika Dekranasda Kalbar berkomitmen untuk mempromosikan produk-produk ini ke tingkat yang lebih luas. Windy menegaskan bahwa wastra Kalimantan Barat, sebagai bagian dari identitas budaya, terus dikembangkan menjadi penggerak ekonomi kreatif dan pendukung UMKM.

"Dekranasda bersama stakeholder terkait berkolaborasi secara pentahelix dalam melakukan pembinaan Dekranasda dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Kami telah mengadakan workshop di daerah perbatasan dengan para perajin tenun, memberikan pelatihan dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas produk,” ujar Windy.

Lanjut Windy, tidak hanya berhenti pada produk kain, Dekranasda mendorong inovasi perajin agar mampu menciptakan produk fashion dan kriya, seperti tas, sandal, anting, hingga jilbab. Pelatihan juga diberikan untuk memastikan para perajin dapat mengikuti tren terkini.

Windy menambahkan, upaya regenerasi perajin juga menjadi perhatian utama. Salah satu contoh adalah seorang pemuda di Kapuas Hulu yang berhasil menjadi pemuda pelopor tingkat nasional melalui pengembangan wastra dan membuka sekolah khusus perajin.

Untuk melindungi kreativitas dan inovasi lokal, Windy mengimbau agar produk seni, budaya, fashion, dan lagu didaftarkan sebagai kekayaan intelektual. Windy Optimis, dengan kolaborasi dan inovasi yang terus dilakukan UMKM Kalbar akan semakin berkembang dan menghasilkan produk unggulan yang mampu bersaing di pasar global.

Sementara itu UMKM merupakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. UMKM merupakan dua kategori usaha yaitu usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah. Dalam pembagian kewenangan berdasarkan Undang –Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah terdapat pembagian kewenangan dimana untuk usaha mikro merupakan kewenangan pemerintah kabupaten/ kota dan usaha kecil menengah merupakan kewenangan pemerintah provinsi.

Untuk kategori UMKM berdasarkan Undang – Undang Nomor 8 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Salah satu yang menjadi kriteria adalah kekayaan bersih usaha dan nilai penjualan usaha tahunan, yaitu usaha mikro memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50 juta dan hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300 juta.

Lalu usaha kecil memiliki kekayaan bersih Rp50 juta–Rp500 juta dan hasil penjualan tahunan Rp300 juta–Rp2,5 miliar. Kemudian usaha menengah memiliki kekayaan bersih Rp500 juta–Rp10 miliar dan hasil penjualan tahunan Rp2,5 miliar–Rp50 miliar. (mse)

Editor : A'an
#UMKM #Windy prihastari