Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Januari 2025, Prajogo Pangestu Orang Kalbar Terkaya di Indonesia dan ke-34 di Dunia !

A'an • Rabu, 1 Januari 2025 | 19:36 WIB
Prajogo Pangestu, pria kelahiran asal Sungai Betung, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.
Prajogo Pangestu, pria kelahiran asal Sungai Betung, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.

PONTIANAK - Januari 2025 barusan datang. Forbes real time billionaires Jakarta, merelease nama-nama konglomerat papan atas memuncaki sebagai orang terkaya di Indonesia pada Rabu(1/1). Posisi crazy rich tersebut dipegang oleh taipan papan atas kelahiran Sungai Betung, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat pada 13 Mei tahun 1944 silam, yakni Prajogo Pangestu.

Pria asli bernama Phang Djoem Phen ini berdiri di puncak teratas bersama miliarder lain versi forbes. Lima nama orang terkaya tersebut bahkan diantaranya masuk daftar 100 besar orang terkaya di dunia. Lima orang terkaya ini hampir menguasai lini bisnis di Indonesia, seperti perbankan, properti, pertambangan, batu bara, petrokimia, energi terbarukan, e-commerce hingga tembakau. Dari bisnis ini, 5 orang terkaya di Indonesia mempunyai harta kekayaan fantastis hingga Rp2.062,1 triliun.

Nama Prajogo Pangestu berada di urutan pertama sebagai orang terkaya di Indonesia saat ini. Harta kekayaan pria berusia 80 tahun ini mencapai USD 43,3 miliar atau setara Rp 701,4 triliun (kurs Rp16.200 per USD) dari bisnis petrokimia hingga energi terbarukan. Perusahaan yang dimiliki Prajogo Pangestu seperti Barito Pacific, Chandra Asri, Petrindo Jaya Kreasi hingga Barito Renewables Energy. Dengan kekayaan Rp701,4 triliun, Prajogo menduduki peringkat 34 dalam daftar orang terkaya di dunia versi Forbes.

Prajogo Pangestu sendiri diketahui merupakan Taipan Perkayuan terbesar di Indonesia sebelum Krisis Ekonomi 1997 terjadi. Bisnisnya berawal pada akhir tahun 70-an di bawah perusahaan Djajanti Timber Group dan selanjutnya membentuk nama Barito Pacific. Nilai kekayaan Prajogo per Desember 2022 dikabarkan tercatat sebesar US$4,9 miliar atau setara dengan Rp 76 triliun. Laporan terbaru 2023 versi forbes bahkan kabarnya sudah menyentuh level angka 5,7 miliar USD.

Namun, di balik kesuksesan Prayogo Pangestu mengelola perusahaan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia, ternyata dulunya pria asli bernama Phang Djoem Phen harus memulainya dari bawah. Kurang beruntung secara finansial dalam kehidupan keluarnya waktu itu, hingga sempat menjadikannya sebagai sopir angkot di kotanya.

Semasa kecil, Prajogo Pangestu juga menjalani hidup yang cukup keras. Sejak kecil juga, Taipan asal Kalbar ini harus bekerja demi membantu sang keluarga. Waktu itu ayahnya bahkan bekerja sebagai seorang penyadap getah karet.

Karena keterbatasan biaya, Prajogo Pangestu juga hanya mampu dapat menamatkan bangku sekolahnya hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun hidup di tengah keterbatasan, namun tak membuat Phang Djoem Phen menyesali nasib hidupnya. Justru dia lebih bekerja keras memikirkan nasib keluarganya.

Sikap baik dan motivasi tingginya menghidupi keluarga dengan cara halal, justru menjadi sebagai gerbang pembuka kesuksesannya. Prajogo bahkan sampai merantau ke Jakarta mengejar impian kecilnya. Tinggal di ibukota, Indonesia tak serta merta membuatnya mendapat penghasilan.

Prayogo bahkan sempat kecewa hingga harus kembali ke kampung halamannya. Dikutip dari Data Indonesia, saat pulang ke kampung halamannya, Prajogo kembali membulatkan tekadnya mengais rezeki dari bawah. Dia menjadi sopir angkot. Sekitar tahun 1960, sambil menjalani pekerjaannya, Prayogo membuka awal mula kunci suksesnya. Dia bertemu bertemu dengan pengusaha kayu asal Malaysia bernama Bong Sun On atau Burhan Uray. Dari pertemuan dengan pengusaha kayu asal Malaysia tersebut, akhirnya jalan menuju sukses seperti terbuka. Prajogo pun waktu itu mulai meniti karir di PT Djajanti Group milik Sun On pada 1969. Berkat kerja keras dan tangan midasnya, tujuh tahun kemudian Prajogo mendapatkan jabatan sebagai general manager (GM) di pabrik Plywood Nusantara.

Kurang lebih setahun berkarir, dia pun memberanikan diri membuka usaha sendiri. Mulanya, dia membeli CV. Pacific Lumber Coy yang bermodalkan utang bank. Perusahaan ini sukses dan membawa ke lantai bursa pasar modal Indonesia pada tahun 1993, sebelum akhirnya berganti nama menjadi PT Barito Pacific pada tahun 2007.

Bisnis Prajogo Pangestu terus melesat hingga bekerja sama dengan berbagai pengusaha termasuk penguasa waktu itu. Karier, Prajogo Pangestu sendiri juga cukup menyebar dan pernah di berbagai posisi. Dari menjadi Presiden Komisaris PT.Tri Polyta Indonesia Tbk, Presiden Komisaris PT.Chandra Asri Petrochemical Center, Wakil Presiden Komisaris PT.Tanjungenim Lestari Pulp & Paper, Presiden Komisaris PT.Barito Pacific Timber Tbk, hingga Komisaris PT.Astra International, 1993-1998 pernah dijalaninya.
Namun melesatnya perkembangan bisnis Prajogo Pangestu dilansir Forbes, setelah tahun 2007 Barito Pacific mengakuisisi 70 persen perusahaan petrokimia Chandra Asri. Perusahaan ini juga melantai di Bursa Efek Indonesia. Tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.

Waktu itu juga, Thai oil mengakuisisi 15 persen saham Chandra Asri sekitar bulan Juli 2021. Kesuksesan bisnis petrokimia dalam negeri, selanjutnya bulan Maret 2022, keluarga Pangestu kembali mengambil alih produsen energi panas Star Energy. Caranya dengan mengakuisisi 33 persen saham dari BCPG Thailand seharga US$440 juta atau Rp6,8 triliun.

Perusahaan ini diincar Prajogo Pangestu sejak tahun 2009 silam. Setelah itu, Prajogo akhirnya melakukan akuisisi sehingga jumlah saham Star Energy menjadi 66,66 persen saham beredar.

Hasilnya, selain bisnis bidang perkayuan, usaha Barito Group meluas di berbagai bidang.
Diketahui PT. Barito Pacific Tbk dengan kodem emiten saham BRPT adalah perusahaan energi terintegrasi berbasis di Indonesia dengan berbagai aset di sektor energi dan industri. Melalui Star Energy, Barito Pacific mengoperasikan perusahaan panas bumi terbesar di Indonesia yang juga merupakan perusahaan panas bumi terbesar ketiga di dunia.

Bekerja sama dengan Indonesia Power, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh PLN, Barito Pacific tengah mengembangkan proyek Jawa 9 & 10, yaitu pembangkit listrik tenaga uap dengan teknologi ultra supercritical berkapasitas 2 x 1.000 MW yang akan dipasang dengan teknologi pengurangan emisi yang belum pernah ada sebelumnya.
Pembangkit listrik ini akan membantu Indonesia memodernisasi kemampuan pembangkit listrik yang sudah lama sekaligus mengurangi biaya dengan menurunkan konsumsi bahan bakar hingga 20% per kwh; sehingga mengurangi emisi karbon secara pro-rata. Barito Pacific juga merupakan pemegang saham pengendali dan mengkonsolidasikan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dengan nama kode emiten TPIA, merupakan satu-satunya perusahaan petrokimia terintegrasi dan terbesar di Indonesia.

Peringkat kedua dipegang oleh Low Tuck sebagai orang terkaya di Indonesia. Low Tuck Kwong yang dijuluki raja batu bara Indonesia ini memiliki kekayaan USD 28,2 miliar atau setara Rp 456,8 triliun. Low Tuck Kwong merupakan pendiri Bayan Resources yang bergerak di sektor pertambangan batu bara. Selain itu, pria berusia 76 tahun tersebut juga mengendalikan perusahaan energi terbarukan asal Singapura, Metis Energy dan memiliki saham di The Farrer Park Company dan Samindo Resources. Dengan kekayaan Rp456,8 triliun, Prajogo menduduki peringkat 67 dalam daftar orang terkaya di dunia versi Forbes.

Nama berikutnya adalah R Budi Hartono. Miliarder berusia 84 tahun ini memiliki kekayaan USD 24 miliar atau setara Rp 388,8 triliun dari bisnis tembakau hingga perbankan.
Perusahaan yang dimiliki R Budi Hartono adalah Djarum, pemegang saham terbesar BCA hingga e-commerce Blibli. Dengan kekayaan Rp388,8 triliun, R Budi Hartono menduduki peringkat 78 dalam daftar orang terkaya di dunia versi Forbes. Selanjutnya  Michael Bambang Hartono yang merupakan kakak dari R Budi Hartono menduduki peringkat 4 sebagai orang terkaya di Indonesia saat ini. Sama seperti sang adik, sumber kekayaan Michael Bambang Hartono berasal dari bisnis tembakau hingga perbankan. Pria berusia 85 tahun ini mempunyai kekayaan USD 23,1 miliar atau setara Rp 374,2 triliun. Perusahaan yang dimiliki Michael Bambang Hartono adalah Djarum, pemegang saham terbesar BCA hingga e-commerce Blibli. Dengan kekayaan Rp374,2 triliun, Michael Bambang Hartono menduduki peringkat 85 dalam daftar orang terkaya di dunia versi Forbes.

Nama terakhir adalah Sri Prakash Lohia menjadi orang terkaya di Indonesia nomor 5 dengan kekayaan US D8,7 miliar atau setara Rp 140,9 triliun dari bisnis petrokimia melalui perusahaan Indorama Group. Sri Prakash Lohia yang kini berusia 72 tahun memperoleh sebagian besar kekayaannya dengan memproduksi pupuk dan polimer. Pada tahun 1970-an dia dan ayahnya pindah dari India ke Indonesia, di mana mereka mendirikan Indorama Corp sebagai pembuat benang pintal. Perusahaannya juga memiliki pembangkit listrik yang memproduksi produk-produk industri termasuk pupuk, poliolefin, bahan mentah tekstil, dan sarung tangan medis.Dengan kekayaan Rp 140,9 triliun, miliarder yang tinggal di London ini menempati peringkat 319 dalam daftar orang terkaya di dunia versi Forbes.(den)

Editor : A'an
#prajogo pangestu