PONTIANAK POST - Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono mengatakan ke depan rencana pemerintah akan menerapkan satu kecamatan satu tempat penampungan sementara (TPS). Dalam upaya perwujudannya itu, pihaknya kini tengah melakukan kajian agar program tersebut bisa terealisasikan.
“Persoalan keberadaan TPS di Pontianak memang menjadi sesuatu dilema bagi kami (DLH). Selama ini penempatan TPS berada di pinggir jalan atau daerah ramai,” ujar Usmulyono kepada Pontianak Post, Senin (20/1).
Akibat penempatan TPS di tepian jalan, justru mengakibatkan wilayah tersebut tampak kumuh. DLH pun mencoba melakukan evaluasi di titik-titik tertentu agar dilakukan peniadaan TPS. Seperti daerah Sungai Jawi, keberadaan TPS tak jauh dari Gang Waspada dekat Masjid Syakirin kini sudah ditutup, sehingga TPS di daerah tersebut kini hanya menyisakan satu TPS saja.
Namun beda lagi dengan daerah lain, seperti di Jalan baru Pemda pihaknya justru membangun satu TPS dengan mempertimbangkan karena wilayah tersebut perlahan kini semakin ramai penduduknya.
Rencana ke depan DLH sebetulnya akan memberlakukan satu kecamatan satu TPS. Jika ini bisa terealisasi, maka pengelolaan sampah di Kota Pontianak akan semakin bagus. Sebab kesemua sumbangan sampah menjadi terpusat di satu kecamatan, kemudian tugas DLH tinggal membawanya ke TPA Batu Layang.
Untuk mewujudkan itu memang tak mudah. Sebab DLH mesti memikirkan segala kesiapannya. Termasuk penjemputan produksi sampah dari rumah-rumah masyarakat.
“Rencana ini akan kami lakukan. Tahap pertama akan dicoba di satu kecamatan percontohan, kemungkinan di Kecamatan Pontianak Kota atau Pontianak Selatan,” ungkapnya.
Tantangannya kini adalah pada penjemputan sampah dari gang-gang yang diproduksi masyarakat. Ini bisa dilakukan oleh pihak ketiga, seperti pelaku usaha pengangkut sampah menggunakan tosa. Hanya saja, untuk tanggungan biaya, DLH hanya dari TPS ke TPA. Namun untuk sampah dari TPS tanggung jawabnya ada di masing-masing masyarakat.
Sejauh ini pelaku usaha pemungutan sampah menggunakan tosa di Kota Pontianak semakin banyak. Dari data DLH, terdapat tiga kelompok dengan jumlah anggotanya lumayan banyak. “Untuk satu kelompok pengangkut sampah menggunakan tosa, ada yang anggotanya hampir mencapai dua ratus orang,” ujarnya.
Dengan adanya jemput bola pengangkut sampah menggunakan tosa, artinya tak ada lagi alasan masyarakat malas membuang sampah karena kediamannya jauh dari TPS.
“Memang ini ada dikenakan biaya, bagi masyarakat mau bisa mendapatkan jasa mereka. Namun bagi yang tidak mau, bisa membuang sampah tersebut sendiri ke TPS,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan sosialisasi terhadap rencana satu kecamatan satu TPS ini. Nanti pesertanya perwakilan masyarakat di tingkat RT.(iza)
Editor : A'an