PONTIANAK POST - Ratusan warga dari berbagai Desa di Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat belakangan ini dihadapkan pada masalah kelangkaan gas elpiji 3 kilogram, yang mengakibatkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kelangkaan ini memaksa warga kembali menggunakan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
Fenomena ini terjadi meskipun pemerintah mengklaim telah melakukan perbaikan kebijakan terkait distribusi gas elpiji 3 kilogram. Namun dampak narasi yang sempat muncul ke publik masih dirasakan masyarakat setempat.
Ibnu Chandra Purnomo, warga Radak 2 dari wilayah Transmigrasi, mengungkapkan bahwa gas elpiji 3 kilogram sudah sulit ditemukan di Kecamatan Terentang. "Sejak kebijakan Menteri Bahlil muncul, meskipun sudah diperbaiki, dampaknya masih terasa. Warga kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram," katanya kepada Pontianak Post di Terentang.
Menurut dia untuk mendapatkan gas elpiji 3 kilogram, warga harus antre dengan membawa tabung kosong dan menunjukkan Kartu Keluarga (KK). Namu letak pangkalan gas terdekat justru berada di Desa Radak 1, yang cukup jauh dari pemukiman mayorias warga. Selain itu, pangkalan gas hanya menjatahkan satu tabung untuk satu kepala keluarga, dan membatasi akses warga terhadap pasokan gas.
Akibat kelangkaan ini, katanya, banyak warga, terutama ibu-ibu, terpaksa kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak. Ibu-ibu dan suaminya terpaksa mencari ranting-ranting lapuk, kayu tua, atau menebang pohon yang sudah berumur uzur.
"Untuk masakan ringan seperti sayur, kami pakai kayu bakar. Tapi untuk memasak nasi dan lauk berat, kami masih berusaha pakai gas elpiji 3 kilogram," tutur Ibnu.
Ibnu melanjutkan bahwa kelangkaan gas elpiji ini baru terjadi sekitar satu bulan terakhir. Sebelumnya, warga bisa mengambil maksimal dua tabung gas. Namun sekarang hal tersebut tidak lagi diperboleh. Pangkalan gas elpiji terdekat beralasan bahwa pasokan dari Ibukota Kabupaten Kubu Raya, Sungai Raya, atau Kota Pontianak mengalami kekurangan.
"Satu pangkalan gas harus melayani semua desa di sini. Sementara itu, di pihak eceran, tabung elpiji 3 kilogram juga tidak tersedia," jelasnya.
Kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah distribusi gas elpiji di daerah tersebut. "Kami berharap ada solusi cepat agar kami tidak terus bergantung pada kayu bakar, yang sebenarnya kurang praktis dan tidak ramah lingkungan," pungkas Ibnu.
Sampai berita ini diturunkan, kelangkaan gas elpiji di Kecamatan Terentang dan pemandangan antri ibu-ibu dan bapak-bapak masih belum teratasi. Warga setempat berharap agar pasokan gas segera kembali normal agar aktivitas rumah tangga dapat berjalan lancar tanpa hambatan.(den)
Editor : A'an