Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

LDK Muhammadiyah Kalbar Hadirkan Pesantren Ramadan di Lapas 2A Pontianak, Mengenal Allah Bukan Sekadar Nama Indah

A'an • Rabu, 5 Maret 2025 | 10:20 WIB
Pembukaan pesatnren Ramadan 1446 H di Lapas Kelas 2A Pontianak dan Lembaga Dakwah Komunitas PWM Kalbar, Senin (3/3).
Pembukaan pesatnren Ramadan 1446 H di Lapas Kelas 2A Pontianak dan Lembaga Dakwah Komunitas PWM Kalbar, Senin (3/3).

PONTIANAK POST - Pesantren Ramadan digelar di Lapas Kelas 2A Pontianak pada 3 Maret lalu. Acara ini digelar oleh Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalbar. Dihadiri oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat, Dr. Samsul Hidayat, MA, yang sekaligus menjadi pembicara utama dalam kegiatan tersebut. Hadir pula Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalbar, Aswan Bahri.

Perwakilan Kalapas 2A, Untung mengapreasiasi kegiatan tersebut. "Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi momentum penting dalam meningkatkan aspek spiritual dan mental para warga binaan. Kami berharap, melalui pembelajaran agama, mereka dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah dan mengukuhkan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah masa hukuman berakhir,” ungkap Untung.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat, Dr. Samsul Hidayat, membahas tentang mengenal Allah (ma'rifatullah) sebagai tujuan utama kehidupan. Menurutnya, ma'rifatullah sebagai salah satu tujuan utama kehidupan manusia. “Mengenal Allah bukan sekadar mengetahui nama-nama indah-Nya (Asmaul Husna) yang berjumlah 99, tetapi juga berarti menyelaraskan hati dan tindakan kita dengan kehendak-Nya,” jelasnya.

Menurutnya, pengenalan terhadap Allah juga berarti mengakui bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik Allah dan berjalan sesuai ketetapan-Nya.
“Dalam proses ini, para warga binaan diharapkan bisa lebih tenang dan ikhlas dalam menghadapi segala ujian hidup, termasuk dalam masa pembinaan di lapas ini,” tambahnya.

Samsul juga menjelaskan konsep "Releasing" dalam rehabilitasi narapidana.
Releasing atau melepaskan, khususnya dalam konteks rehabilitasi spiritual bagi narapidana. Konsep ini bertujuan untuk membantu warga binaan melepaskan rasa bersalah, dendam, dan ketakutan melalui zikir Asmaul Husna yang relevan.
Pertama, melepaskan rasa bersalah dengan Asma 'At-Tawwab'

Rasa bersalah kerap kali menjadi beban berat bagi narapidana. Untuk itu, Samsul mengajak para peserta untuk melafalkan Asma 'At-Tawwab' yang berarti "Yang Maha Penerima Taubat" secara berulang-ulang. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Thaha ayat 82. "Maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar."
“Visualisasikan rasa bersalah tersebut terlepas dari hati dan digantikan dengan ketenangan batin,” ujar Samsul.

Ia juga memberikan teknik refleksi diri dengan pertanyaan mendalam seperti, "Apakah saya bisa melepaskan rasa bersalah ini?" dan "Kapan saya akan melepaskannya?" dengan jawabannya yang tegas: "Sekarang."
Kedua, melepaskan rasa dendam dengan Asma 'Al-‘Afuww'. Selain rasa bersalah, dendam juga menjadi penghambat utama proses rehabilitasi. Samsul mengenalkan Asma 'Al-‘Afuww' (الْعَفُوُ) yang berarti "Yang Maha Pemaaf." Melalui dzikir "Ya ‘Afuww," para narapidana diajak untuk melepaskan rasa dendam dan membangun sikap pemaaf.

Melalui metode ini, warga binaan diajak untuk menyadari, menerima, dan secara aktif melepaskan rasa dendam dengan pertanyaan refleksi, "Bisakah saya melepaskan rasa dendam ini?" dan "Kapan saya akan memaafkan?" dengan jawabannya yang optimis: "Sekarang."

Apresiasi dan harapan di Akhir Acara

Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PW Muhammadiyah Kalbar, Aswan memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Pesantren Ramadhan ini. “Program ini merupakan wujud nyata dakwah dan kontribusi Muhammadiyah dalam mendukung proses rehabilitasi warga binaan. Kami berharap para narapidana tidak hanya mendapatkan pencerahan spiritual, tetapi juga mampu membawa perubahan positif dalam hidup mereka,” ucapnya.

Acara yang berlangsung dengan penuh hikmat ini ditutup dengan doa bersama. Para peserta tampak antusias dan terharu, menunjukkan bahwa kegiatan ini membawa pengaruh positif bagi mental dan spiritual mereka. Diharapkan, melalui pendekatan spiritual dan konsep “Releasing” yang disampaikan, para narapidana dapat kembali ke masyarakat dengan jiwa yang lebih tenang, bersih dari dendam, dan siap memulai lembaran baru dalam kehidupan. (*/uni)

Editor : A'an
#ramadan #lapas kelas 2a pontianak #PWM Kalbar