PONTIANAK POST – Produksi padi di Kalbar mengalami kenaikan signifikan pada 2024, namun tidak merata di semua daerah. Beberapa kabupaten/kota mencatatkan pertumbuhan produksi yang positif, sementara beberapa lainnya justru mengalami penurunan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2024 mencapai 764,78 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 9,21 persen dibandingkan 2023 yang hanya 700,29 ribu ton GKG. Namun, peningkatan ini tidak terjadi di semua wilayah.
"Pada 2024, luas panen padi mencapai 247,21 ribu hektare dengan produksi padi sebanyak 764,78 ribu ton gabah kering giling (GKG)," kata Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin dalam berita resmi statistik BPS baru-baru ini.
Saichudin mengatakan kenaikan produksi padi pada 2024 terutama terjadi di Kabupaten Ketapang, Sambas, Mempawah, Sekadau, Sintang, Kubu Raya, Bengkayang, dan Kota Singkawang.
Tiga daerah dengan produksi tertinggi sepanjang tahun adalah Kabupaten Sambas, Ketapang, dan Landak. Kabupaten Sambas, sebagai salah satu lumbung padi utama di Kalbar, terus mencatat peningkatan hasil panen.
Selain itu, Kabupaten Ketapang juga menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan, didorong oleh perluasan lahan panen dan peningkatan produktivitas petani. Ke depan, proyeksi untuk Januari hingga April 2025 menunjukkan bahwa Kabupaten Sambas, Sanggau, dan Landak akan menjadi daerah dengan produksi padi tertinggi.
Hal ini menunjukkan adanya pergeseran dinamika produksi, dengan Sanggau yang diprediksi mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Lanjut Saichudin, di sisi lain, beberapa daerah mengalami penurunan produksi padi pada 2024. Kabupaten Landak, Kapuas Hulu, Melawi, Kayong Utara, Sanggau, dan Kota Pontianak menjadi wilayah dengan penurunan produksi yang cukup mencolok.
Kota Pontianak dan Kabupaten Melawi bahkan tercatat sebagai dua daerah dengan produksi padi terendah sepanjang 2024, bersama Kota Singkawang.
Faktor seperti keterbatasan lahan, perubahan iklim, dan tantangan dalam distribusi air diduga menjadi penyebab utama penurunan produksi di beberapa wilayah ini.
Menurut Saichudin pada awal 2025, proyeksi menunjukkan bahwa penurunan produksi yang cukup besar akan terjadi di Kabupaten Mempawah, Ketapang, Kubu Raya, Sintang, dan Kayong Utara. Sementara itu, Kabupaten Sanggau, Landak, Sambas, dan Bengkayang justru diprediksi mengalami peningkatan produksi yang cukup signifikan.
Perubahan produksi padi di Kalimantan Barat menunjukkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pertanian di tiap daerah. Kabupaten yang mengalami peningkatan produksi umumnya memiliki akses yang lebih baik terhadap sarana pertanian, irigasi, dan dukungan teknologi pertanian.
Sebaliknya, daerah yang mengalami penurunan produksi mungkin menghadapi kendala seperti cuaca ekstrem, keterbatasan infrastruktur, dan berkurangnya lahan produktif.
Dengan adanya tren kenaikan produksi di beberapa daerah serta potensi penurunan di daerah lainnya, kebijakan pemerintah daerah dan dukungan terhadap petani menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas produksi padi di Kalimantan Barat. (mse)
Editor : A'an