PONTIANAK POST – Kondisi ekonomi di Kota Pontianak tahun 2025 semakin menekan para pelaku usaha, terutama di sektor sembako. Hasan, seorang pedagang bahan pokok dan produk pertanian mengungkapkan keresahannya atas situasi yang semakin sulit.
Menurutnya, sejak awal 2025 distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog dihentikan. Padahal, beras subsidi tersebut selama ini menjadi pilihan utama masyarakat kelas menengah ke bawah.
"Sejak Januari-Februari 2025, tidak ada pendistribusian beras SPHP. Katanya karena keterbatasan stok, tetapi kami sendiri tidak tahu pasti penyebabnya," ujar Hasan yang selama ini menjadi mitra resmi Bulog.
Padahal, kata dia, sebelum November 2024, Badan Pangan Nasional sempat menyatakan bahwa stok pangan di tahun 2025 mencukupi. Namun, kenyataannya, beras SPHP tidak lagi tersedia di pasaran sejak awal tahun ini. Bahkan setelah Maret 2025, belum ada tanda-tanda distribusi kembali. Hasan mendapat informasi bahwa beras subsidi kemungkinan baru tersedia kembali pada Juni, tetapi dengan nama berbeda.
Dengan tidak adanya beras SPHP, masyarakat terpaksa membeli beras komersial yang harganya jauh lebih mahal.
"Kalau sebelumnya bisa beli satu karung, sekarang banyak yang beli pakai kresek, kiloan. Karena yang lima kiloan semuanya premium, harganya mahal, bisa sampai Rp80 ribu per karung," keluhnya.
Ia menilai kondisi ekonomi yang sulit menyebabkan daya beli masyarakat menurun drastis. Hasan mengaku kini harus menerapkan sistem pembayaran cash tempo untuk tetap bisa berjualan dan membantu para pelanggannya. "Pembeli bayar bertahap, dua sampai tiga kali. Akibatnya, perputaran uang saya juga tersendat," ujarnya.
Tak hanya itu, Hasan melihat situasi ini juga berdampak pada sektor properti. Hasan yang juga sempat memasok bahan bangunan ke perusahaan properti melihat tren penurunan yang signifikan. "Selama 2025 ini banyak developer yang belum berani membangun karena kesulitan mencari pembeli. Ekonomi yang lesu membuat daya beli masyarakat semakin turun," tambahnya.
Hasan menegaskan bahwa kondisi ekonomi bukan hanya "tidak baik-baik saja", tapi sudah sangat memprihatinkan. "Sejak 2022 sudah terasa sulit, tapi 2025 ini jauh lebih parah. Pendapatan masyarakat menurun, perputaran uang macet, harga-harga naik, dan stok barang pun terbatas," katanya.
Para pedagang dan pelaku usaha berharap ada solusi nyata dari pemerintah untuk mengatasi krisis ekonomi ini. Jika tidak, bukan hanya pedagang yang akan kesulitan melainkan juga masyarakat luas yang semakin terhimpit oleh kondisi yang tak menentu.
“Perubahan daya beli masyarakat, setahun terakhir menurun, saat ini (2025) semakin turun. Bukan karena harga-harga naik, tapi pendapatan masyarakat kurang. Perputaran uangnya susah,” pungkasnya. (bar)
Editor : A'an