PONTIANAK POST – Umat Katolik di Paroki Keluarga Kudus Pontianak melaksanakan prosesi Jalan Salib untuk mengenang Kisah Sengsara Yesus Kristus pada Jumat (18/4).
Prosesi Jalan Salib digelar pada Jumat pagi sekira pukul 07.00. Prosesi dimulai dari Rumah Dinas Ketua DPRD Kalbar di Jalan Sutan Syahrir. Umat berkumpul satu jam sebelum proses Jalan Salib dimulai.
Selain salib utama, umat juga membawa salib yang disediakan oleh lingkungan. Setidaknya ada 30 salib dengan aneka ragam bentuk. Mulai dari yang sederhana hingga terbuat dari alumunium.
Pastor Paroki Keluarga Kudus Pontianak, RP Yohanes Thomas Maria Puji Nurcahyo, CM mengatakan, setiap umat yang hadir dalam prosesi jalan salib diperkenankan untuk memikul salib yang telah dibawa atau disediakan oleh lingkungan.
“Semua boleh mencoba untuk memikul salib, termasuk anak-anak,” kata Pastor Puji sesaat sebelum prosesi dimulai.
Ia menambahkan, “Kita semua mencoba untuk merasakan sambil merenungkan sengsara Tuhan bagi kita.”
Pastor Puji berharap, dengan prosesi mengenang sengsara Tuhan Yesus yang digelar pada Jumat Agung itu membuat umat semakin dewasa dan bertumbuh dalam iman.
“Semoga dengan prosesi ini, kita semakin tumbuh di dalam kasih, di dalam pengharapan, dan di dalam cinta kita kepada Tuhan,” katanya.
Setelah itu, prosesi jalan salib dimulai dengan penghentian pertama di halaman Rumah Dinas Ketua DPRD Kalbar. Umat mengikuti dengan khimad seluruh prosesi tersebut.
Dari penghentian pertama, umat memasuki jalan di Taman Akcaya menuju penghentian kedua hingga seterusnya. Setiap penghentian selalu berhenti dan mendaraskan doa-doa untuk mengenang kisah Tuhan Yesus memikul salib menuju Golgota.
Proses jalan salib berakhir di Gereja Keluarga Kudus Pontianak. Umat memasuki gereja untuk mengikuti prosesi selanjutnya.
Pada siang hari, digelar ibadat Jumat Agung yang dilakukan dua kali, yakni pukul 13.00 dan pukul 16.30.
Jalan Salib merupakan devosi yang mengarahkan pandangan spiritual kita pada peristiwa Yesus Kristus mulai dari keputusan hukuman mati pada Yesus hingga peristiwa pemakaman-Nya.
Dalam bahasa Latin, Jalan Salib disebut Via Dolorosa artinya Jalan Penderitaan. Inilah saat-saat terakhir hidup Yesus secara historis di dunia. Devosi ini adalah peringatan akan peristiwa tersebut.
Tradisi Jalan Salib dirintis oleh Santo Fransiskus Asisi, diperkenalkan oleh Ordo Fransiskan abad ke-14 lalu meluas di Gereja Katolik Roma pada abad pertengahan.
Paus Klemens XII menetapkan secara resmi terkhusus perhentian-perhentiannya secara definitif pada abad XVII yang berlaku sampai sekarang.
Pada peristiwa Jalan Salib orang beriman diyakinkan bahwa dosa manusia, tipu daya iblis, penderitaan hingga kematian tidak sanggup mengalahkan kesetiaan kasih Allah pada ciptaan. Sebab ciptaan dicipta untuk dicinta. (mnk)
Editor : Miftahul Khair