Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Desa Jungkat Terimbas Deforestasi: Genangan Air Hancurkan Lahan Pertanian dan Ketahanan Pangan

Siti Sulbiyah Kurniasih • Minggu, 27 April 2025 | 03:29 WIB
ILUSTRASI HUTAN GUNDUL
ILUSTRASI HUTAN GUNDUL

PONTIANAK POST - Dampak deforestasi, baik untuk kepentingan energi maupun ekspansi lainnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satu contohnya terjadi di Desa Jungkat, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah.

Lahan-lahan pertanian yang dulunya subur kini tak lagi dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Genangan air yang terus-menerus terjadi di lahan pertanian warga menjadi bencana sunyi yang menggerus ketahanan pangan masyarakat setempat. Petani kehilangan peluang panen, bahkan sejak tahap awal penanaman.

Munawaroh (45) mengaku sulit berladang lima tahun terakhir.  “Hujan sedikit, banjir. Habis menabur pupuk, hujan (ada genangan),” keluh wanita dari Desa Jungkat tersebut.

Bukan hanya gagal panen, petani bahkan sudah gagal sebelum bibit ditanam. Munawaroh ingat betul, November 2024 lalu ia hendak menanam padi dengan luas satu hektare. Lahan sudah dibersihkan, namun batal dilakukan karena muncul genangan banjir dan tak surut-surut.

“Bibitnya sudah tidak bisa dipakai, karena tidak bisa disimpan,” katanya. Kerugian yang harus ia terima sekitar Rp500 ribu. Baginya, angka tersebut cukup besar.

Murakip (48), Ketua Poktan Bina Usaha, Warga Desa Jungkat bercerita dulu ia tak perlu beli beras. Santan pun buat sendiri karena kelapa berlimpah ruah.

Namun, kondisi ini tak mampu ia dan banyak petani lain pertahankan karena rusaknya lahan pertanian mereka. Berbagai jenis tanaman pangan mereka tak tumbuh subur bahkan mati, seperti kelapa, pinang, dan banyak komoditas pertanian lainnya. Mereka juga kesulitan untuk mengembangkan komoditas yang dulunya jadi andalan, seperti padi, jagung, hingga keladi.

“Bapak ini malu kalau mengakui beli beras, karena bapak ini ketua kelompok tani, yang harusnya bisa dapat beras dari hasil berladang,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Link-AR Borneo, Ahmad Syukri menilai dampak dari deforestasi yang nyata adalah hilangnya sumber pangan bagi masyarakat, seperti yang dialami oleh Desa Jungkat, Kabupaten Mempawah.

“Hal ini tentunya bertentangan dengan Asta Cita Presiden Prabowo untuk isu ketahanan pangan. Lahan yang tidak bisa ditanami membuktikan bahwa dampaknya tidak hanya lingkungan, namun juga terhubung dengan masalah ekonomi,” ujarnya.

Ia menilai bahwa kawasan hutan yang dulunya menjadi penyangga air kini telah digantikan oleh perkebunan monokultur. Akibatnya, daya dukung lingkungan hilang dan wilayah menjadi rentan terhadap bencana ekologis seperti banjir.

“Dulu ekosistem hutan punya keragaman tanaman, sekarang diganti satu jenis pohon saja. Ini jelas mengubah fungsi kawasan,” tegasnya.(sti)

Editor : Hanif
#deforestasi #panen #petani #desa jungkat #genangan air #ketahanan pangan #Lahan Pertanian #Penanaman