Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ketua AJI Pontianak Soroti Ancaman AI terhadap Jurnalisme

Novantar Ramses Negara • Selasa, 6 Mei 2025 | 09:46 WIB
Ilustrasi AI.
Ilustrasi AI.

PONTIANAK POST - Ketua AJI Pontianak, Rendra Oxtora, menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (Artificial intelligence-AI) saat ini menghadirkan dilema besar bagi dunia jurnalistik. Teknologi ini memang mampu mempercepat proses produksi berita dan mengolah data dalam skala besar. Namun disisi lain, AI juga membuka celah bagi penyebaran disinformasi yang lebih canggih serta mengikis peran jurnalis manusia.

“AI tidak punya kesadaran etik, tidak punya tanggung jawab sosial. Jika tidak diantisipasi, jurnalisme bisa tergantikan oleh konten yang manipulatif dan algoritma yang tak memihak pada kebenaran,” ujar Rendra, baru-baru ini.

Menurutnya, tantangan hari ini bukan hanya intimidasi fisik atau tekanan kekuasaan, tetapi juga sistem digital yang bisa membanjiri ruang publik dengan informasi tanpa verifikasi. Karena itu, AJI mendorong agar dunia pers, akademisi, dan masyarakat sipil mulai merumuskan pedoman etis penggunaan AI dalam industri media.

Sekretaris AJI Pontianak, Hamdan Darsani menambahkan bahwa kebebasan pers harus terus dijaga sebagai fondasi demokrasi, tak peduli tantangannya bersumber dari represi konvensional atau dari inovasi teknologi.

“Kami ingin memperkuat kesadaran bahwa hak untuk memperoleh informasi yang akurat tetap mutlak, dan jurnalis harus menjadi penjaga garda terdepan dalam era disrupsi ini,” tegas Hamdan.

Sebagai informasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak, bersama LBH Kalbar, IJTI Kalbar, dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Kalbar, menggelar kegiatan pemutaran film dokumenter dan diskusi publik dngan tema: “Tantangan Kecerdasan Buatan terhadap Kebebasan Pers.”

Peringatan ini juga menjadi ruang penghormatan bagi jurnalis Naimullah yang meninggal secara misterius pada 1997 di Pontianak. Kisahnya diangkat dalam film dokumenter karya Dian Lestari dan Hafidh Ravy Pramanda yang diputar dalam agenda peringatan. Bagi banyak jurnalis, kasus Naimullah adalah pengingat nyata bahwa profesi ini tak pernah lepas dari risiko, baik di masa lalu maupun sekarang.

Dian Lestari dari LBH Kalbar menyatakan bahwa mengenang Naimullah bukan sekadar menoleh ke belakang, tapi juga untuk membangun kesadaran perlindungan jurnalis di masa depan yang kian kompleks.

“Zaman boleh berubah, tapi ancaman terhadap jurnalis tetap ada—hanya bentuknya yang kini berbeda, termasuk melalui teknologi,” kata Dian.

Peringatan tahun ini menegaskan bahwa kebebasan pers tak hanya soal melawan pembungkaman, tapi juga soal menjaga integritas di tengah kecanggihan buatan. Ketika algoritma mulai mengendalikan arus informasi, peran manusia sebagai penjaga kebenaran menjadi semakin krusial.

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia di Pontianak tahun ini menjadi ajang peringatan yang tak hanya mengenang sejarah kelam jurnalisme lokal, tetapi juga mengangkat isu kontemporer yang kian mendesak: ancaman kecerdasan buatan (AI) terhadap kebebasan pers dan kualitas informasi. (mse/mrd)

Editor : Hanif
#industri media #Aji Pontianak #dunia jurnalistik #teknologi #dunia pers #ai #jurnalis #dilema