PONTIANAK POST – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan status siaga darurat penanganan bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan terhitung sejak 17 April hingga 31 Oktober 2025.
Ketua Satgas Informasi Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalbar, Daniel menyampaikan keputusan tersebut merupakan tindak lanjut dari koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Dari hasil pertemuan bersama BMKG, disebutkan dia, Kalbar tengah memasuki musim kemarau basah.
“Musim kemarau basah ini artinya ada hujan, dan ada panas. Jadi musim yang kadang kala membuat kita menjadi ragu, apakah hujan atau panas,” ujar Daniel kepada awak media, Selasa (20/5).
Daniel menambahkan, saat ini sudah ada dua kabupaten yang menetapkan status siaga bencana asap akibat karhutla, yakni Sambas dan Kubu Raya. Namun ia menegaskan, seluruh kabupaten/kota di Kalbar sebaiknya ikut menetapkan status siaga.
“Masalah kemarau ini tidak hanya terjadi di Kubu Raya dan Sambas. Tapi juga seluruh kabupaten/kota di provinsi ini berpotensi terjadinya bencana asap akibat karhutla,” tegasnya.
Menurutnya, penetapan status siaga penting agar ada dasar hukum pembentukan satgas di masing-masing daerah. “Kalau kabupaten/kota tidak menetapkan status, berarti tidak ada satgas yang bertanggung jawab dalam mengantisipasi terjadinya kemarau di wilayah tersebut,” jelasnya.
Daniel menyebut puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juni hingga September. Pada periode tersebut, biasanya masyarakat mulai membuka lahan untuk bercocok tanam, terutama menanam padi. “Karena itu, penetapan status siaga ini sangat penting sebagai langkah antisipasi,” katanya.
Penetapan status siaga, dan pembentukan satgas tertuang dalam dua keputusan (SK) gubernur. Pertama, Keputusan Gubernur Kalbar Nomor 667/BPBD/2025 tentang Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Asap Akibat Karhutla di Kalbar. Kedua, Keputusan Gubernur Kalbar Nomor 668/BPBD/2025 tentang Pembentukan Komando Satgas Penanganan Bencana Asap Akibat Karhutla Tahun 2025. Keduanya berlaku sejak 17 April 2025.
Sebelumnya, BMKG melalui Stasiun Klimatologi Kalbar telah mengingatkan adanya potensi penurunan curah hujan di sejumlah wilayah, seiring masuknya dasarian kedua Mei 2025. Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan di antaranya Kabupaten Sambas, Kota Singkawang, dan Kabupaten Sekadau.
Dalam rilis resminya per 10 Mei 2025, BMKG menyebut curah hujan periode 11–20 Mei umumnya berada dalam kategori rendah hingga menengah, yakni antara 20 hingga 100 milimeter per dasarian. Sifat hujan diperkirakan normal hingga atas normal, kecuali beberapa wilayah seperti Sambas, Singkawang, dan Sekadau yang diprediksi mengalami hujan di bawah normal.
“Dengan tren hujan yang mulai menurun, masyarakat diminta untuk mulai siaga, terutama terkait potensi kekeringan lokal,” tulis BMKG dalam laporan itu.
Sambas menjadi wilayah paling menonjol dalam catatan monitoring hujan terakhir. Pos Hujan Jawa di daerah tersebut mencatat sudah 15 hari tanpa hujan, terpanjang di Kalbar untuk saat ini. Kondisi itu menguatkan alasan penetapan status siaga bencana asap akibat karhutla di Kalbar.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti informasi cuaca dan iklim terkini guna mengantisipasi dampak terhadap aktivitas pertanian, ketersediaan air bersih, dan kegiatan harian.
Luas lahan yang terbakar di Kalbar pada tahun 2022 tercatat sekitar 21.836 hektare. Angka lain juga menyebutkan 21.839 hektare. Pada tahun ini, kondisi musim kemarau berkepanjangan dan fenomena El Nino turut mendukung terjadinya kebakaran.
Salah satu kejadian signifikan adalah karhutla di Kapuas Hulu pada April 2022, yang nyaris membakar kantor Dinas PU Kabupaten Kapuas Hulu. Kebakaran hutan di Kalbar, khususnya di Pontianak, mengakibatkan kabut asap ekstrem yang merugikan banyak pihak, termasuk dampak ekonomi dan kesehatan.
Luas lahan yang terbakar di Kalbar mengalami peningkatan drastis dibandingkan tahun 2022. Hingga kuartal ketiga 2023, total 82.411,38 hektare diindikasikan terbakar. Angka lain menyebutkan 54.402,81 hektare terbakar hingga periode Januari-September 2023.
Fenomena El Nino juga berkontribusi memperparah dampak musim panas di Kalbar, menyebabkan asap pekat mengancam warga Kota Pontianak.
Kota Pontianak masih bebas dari kebakaran lahan secara umum, meskipun ada kejadian kebakaran gambut di Kecamatan Pontianak Tenggara pada Oktober 2024 yang menyebabkan kualitas udara memburuk.
BPBD Kota Pontianak mencatat 32 kejadian karhutla sepanjang tahun 2024. Sementara Pembak Sambas telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak tahun 2024.
Secara umum, faktor penyebab karhutla di Kalbar meliputi pembukaan lahan dengan cara pembakaran, kondisi lahan gambut yang mudah terbakar, minimnya pengawasan, lemahnya penegakan hukum, serta keterbatasan sarana prasarana.(bar)
Editor : Hanif