Oleh: Prof. Gusti Hardiansyah
Eksekutif Komite GCF Task Force Indonesia – Kalimantan Barat
PONTIANAK POST - Kunjungan ke Acre, Brasil, membuka mata kita pada lompatan besar dalam tata kelola lingkungan berbasis teknologi dan kelembagaan yang terintegrasi. Di sana, berdiri sebuah institusi unggulan bernama Centro Integrado de Geoprocessamento e Monitoramento Ambiental (CIGMA), di bawah SEMA (Secretaria de Estado do Meio Ambiente), yang berperan sebagai otak dan jantung pemantauan lingkungan regional.
CIGMA bukan sekadar pusat data. Ia merupakan pusat komando yang mengelola informasi lingkungan secara real-time dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI), penginderaan jauh, sistem informasi geospasial, dan jaringan sensor hidrometeorologi. Dengan sistem ini, pemerintah dapat mendeteksi dini kebakaran hutan, degradasi, pencemaran air, serta perubahan penutupan lahan dengan akurasi tinggi dan kecepatan yang dapat langsung ditindaklanjuti.
Kalimantan Barat: Kompleksitas Lanskap, Fragmentasi Data
Kalimantan Barat memiliki bentang alam yang sangat kompleks: hutan gambut, DAS besar seperti Kapuas, pesisir dan pulau-pulau kecil, hingga kawasan rawan longsor di daerah upland. Namun, sejauh ini, pengelolaan data lingkungan di Kalbar masih bersifat sektoral dan tersekat antar-OPD.
Data perubahan tutupan lahan dimiliki DLHK. Data perkebunan sawit dan karet ada di DISBUN. Sementara itu, data kerusakan pertanian akibat banjir dikelola oleh DISTAN. BPBD memiliki peta risiko bencana, sementara data izin tambang dan potensi energi ada di Dinas ESDM. Di pesisir dan laut, Dinas Kelautan dan Perikanan (KKP) menyimpan data zona konservasi, tangkapan nelayan, dan degradasi ekosistem. Di sisi lain, UPT Kehutanan memegang kendali patroli tapak dan pengawasan lapangan.
Tanpa integrasi, data ini menjadi tumpukan informasi yang pasif. Padahal tantangan kita—mulai dari karhutla, konversi lahan, banjir, hingga tambang ilegal—adalah persoalan lintas sektor dan spasial.
Menuju “CIGMA Kalbar”: Sistem Real-Time Berbasis AI
Mengacu pada pelajaran dari Brasil, Kalimantan Barat perlu segera membentuk Pusat Pemantauan dan Tanggap Ekologi Kalbar, sebuah Environmental Situation Room yang didesain sebagai ruang kolaborasi antarinstansi dan pengambil keputusan.
Pusat ini dapat berfungsi untuk:
Menyatukan seluruh data spasial dan tematik dari DLHK, DISBUN, DISTAN, ESDM, KKP, BPBD, dan UPT Kehutanan.
Mengelola sistem peringatan dini untuk karhutla, banjir, pencemaran air, degradasi pesisir, dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati.
Mengembangkan dashboard analitik berbasis AI yang mampu membaca pola perubahan lahan, memproyeksi risiko, dan merekomendasikan tindakan adaptif berbasis bukti.
Mendorong keterbukaan informasi lingkungan kepada publik, akademisi, dan dunia usaha sebagai bagian dari transparansi dan akuntabilitas.
Langkah awal bisa dilakukan dengan pilot project di beberapa kabupaten prioritas, misalnya Kubu Raya (lahan gambut), Kapuas Hulu (jasa ekosistem dan perbatasan), serta pesisir Sambas dan Ketapang.
Menarik Dukungan Global
Yang lebih penting, keberadaan pusat pemantauan terpadu ini akan memperkuat posisi Kalbar dalam mengakses pembiayaan global seperti Green Climate Fund (GCF), FCPF Bank Dunia, atau pendanaan bilateral lainnya. Sistem seperti ini menjadi tulang punggung dari kerangka MRV (Measurable, Reportable, Verifiable) yang dibutuhkan dalam program REDD+, pengelolaan karbon biru, hingga inisiatif adaptasi perubahan iklim.
CIGMA di Acre dibangun dengan dukungan internasional dan kepemimpinan lokal yang kuat. Kalbar memiliki potensi yang sama. Kita memiliki SDM yang kompeten, jaringan akademik dan NGO yang aktif, serta komitmen kelembagaan yang semakin matang melalui GCF Task Force Indonesia.
Penutup
Menjaga lingkungan Kalimantan Barat tidak lagi cukup dengan pendekatan administratif biasa. Kita harus naik kelas—menuju era pemantauan berbasis data real-time, teknologi AI, dan koordinasi lintas sektor. CIGMA memberi kita contoh. Kini waktunya Kalbar bertindak, membangun sistem yang bukan hanya mampu mendeteksi masalah, tapi juga memandu solusi. Karena dari hutan hingga pesisir, dari tambang hingga sawah, keberlanjutan adalah satu nadi yang harus dijaga bersama.
Editor : Hanif