PONTIANAK POST – Sebanyak 50 perupa anak-anak dan dewasa asal Kalimantan Barat menampilkan 65 karya bertema Daur Ulang Imajinasi dalam Pameran Drawing On Kompak 2025 di Galeri Hasil Hutan Jalan Veteran Pontianak. Kegiatan ini digelar dari 30 Mei 2025 hingga 7 Juni 2025.
Seluruh perupa tersebut tergabung dalam Komunitas Perupa Kalbar (Kompak). Tahun ini, tema yang diangkat adalah "Daur Ulang Imajinasi", yang merupakan ungkapan metaforis yang berarti menghidupkan kembali ide-ide lama atau hal-hal yang dianggap tak berguna menjadi sesuatu yang kreatif dan bernilai baru.
Rudiansyah, selaku Ketua Kompak mengatakan pameran ini dilaksanakan untuk merayakan Hari Menggambar Nasional secara serempak di seluruh Indonesia bersama komunitas-komunitas gambar. Selain itu, pameran ini juga bertujuan untuk menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
“Pada pameran ini, para perupa menggambar di atas benda-benda bekas atau limbah, mengubahnya menjadi karya seni yang bernyawa,” katanya.
Rudiansyah mengungkapkan pihaknya juga ingin mengenalkan drawing dan teknik dasar menggambar kepada masyarakat luas sebagai sarana ekspresi, edukasi, dan terapi yang mudah diakses siapa saja. Pameran ini juga bertujuan membangun jejaring dan kolaborasi antar komunitas seni visual, baik lokal maupun nasional, dalam semangat berbagi, belajar, dan berkarya bersama.
Pameran ini juga mendorong penggunaan media ramah lingkungan dalam praktik menggambar, sekaligus menyuarakan pentingnya kesadaran ekologis dalam dunia seni. Melalui pameran ini, Kompak ingin membuka ruang inklusif bagi semua kalangan untuk terlibat, mencipta, dan berekspresi tanpa batasan.
Pemilihan lokasi di Taman Hutan Kota, karena ruang terbuka hijau ini tidak hanya menjadi latar tempat, tetapi juga simbol dari semangat pelestarian dan keberlanjutan.
Selama pameran, terdapat kegiatan lain yang juga sukses dilaksanakan, seperti bedah karya, workshop menggambar, workshop seni kriya, dan fashion show karya daur ulang. Kegiatan pendukung tersebut juga sukses dilaksanakan dengan antusiasnya masyarakat luas untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut.
Ia menilai pameran ini menjadi salah satu contoh bagaimana seni dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran ekologis dan mempromosikan keberlanjutan. Melalui karya-karya seni yang dipamerkan, pengunjung dapat melihat bagaimana benda-benda bekas dapat diubah menjadi karya seni yang bernilai dan memiliki makna.
“Pameran ini menjadi salah satu contoh bagaimana seni dapat digunakan sebagai sarana untuk mengurangi limbah dan mempromosikan daur ulang,” katanya.
Dia berharap pameran ini dapat menjadi contoh bagi komunitas seni lainnya untuk mengadakan pameran yang serupa, sehingga dapat meningkatkan kesadaran ekologis dan mempromosikan keberlanjutan di masyarakat. (sti)
Editor : Hanif