PONTIANAK POST - Potensi curah hujan rendah di Kalimantan Barat diprakirakan akan berlanjut. Dasarian II antara tanggal 11 sampai dengan 20 Juni 2025 secara umum diprediksi kategori menengah dengan curah hujan berkisar antara 50-150 mm/das.
Berdasarkan ikhtisar beberapa unsur cuaca yang diamati BMKG Kalbar pada 8 lokasi di Kalbar tanggal 10 Juni 2025 Pukul 07.00 WIB sampai dengan 11 Juni 2025 Pukul 07.00 WIB terdapat jarak pandang ekstrem.
Jarak pandang di bawah 1000 meter tercatat di Kubu Raya disebabkan oleh kabut. Selain itu, tidak terdapat suhu udara ekstrem. Suhu udara tertinggi yaitu 34.6°C terjadi di Kapuas Hulu. Suhu udara rata-rata berkisar 27.1°C hingga 29.3°C.
Sementara suhu udara terendah adalah 22.9°C di Sintang. Terjadi hujan di beberapa titik pengamatan. Curah hujan tertinggi terjadi di Sintang sebanyak 39.5 mm/hari.
Kriteria hari tanpa hujan termasuk kategori sangat pendek (1-5 hari) dan pendek (6 - 10 hari). Tidak terdapat kejadian angin kencang. Kecepatan angin tertinggi yaitu 24 Knot di Sambas. Arah angin dominan dari arah Timur - Barat.
Fitri, Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas 1 Supadio ingatkan masyarakat bahwa potensi kemudahan kebakaraan hutan dan lahan masih mengancam di sebagian wilayah Kalimantan Barat hingga sepekan ke depan.
"Untuk potensi kemudahan kebakaraan hutan dan lahan dalam satu minggu ke depan di sebagian wilayah Kalimantan Barat berada dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar," katanya.
BMKG Kalbar juga ingatkan masyarakat untuk waspada terhadap potensi hujan intensitas sedang hingga lebat pada 13,15,16 dan 17 Juni 2025 yang dapat terjadi di sebagian wilayah.
Fitri mengatakan prakiraan pada Kamis (12/6), wilayah Kalimantan Barat dominan berawan. Namun, di beberapa wilayah berpotensi terhadi hujan ringan hingga sedang pada siang, sore, dan malam hari. "
"Namun, di beberapa wilayah berpotensi terhadi hujan ringan yang tidak merata," ujarnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalbar bersama TNI terus berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa titik di Kabupaten Kubu Raya dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya di Jalan Sultan Agung, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, yang terbakar sejak Selasa pagi (10/6).
Vegetasi berupa pakis, dan jenis tanah gambut membuat api cepat menyebar, ditambah hambatan seperti jarak sumber air yang jauh, dan tiupan angin kencang. Meski begitu, api berhasil dipadamkan, meski masih menyisakan asap dan potensi kebakaran ulang.
Selain di Kuala Dua, tim juga melakukan operasi pemadaman di Jalan Parit Pangeran, Desa Arang Limbung. Di lokasi ini, sumber air yang minim menjadi tantangan tersendiri. Namun, kondisi api sudah dinyatakan padam dengan asap tipis yang masih terpantau.
Ketua Satgas Bencana BPBD Kalbar, Daniel mengatakan pemadaman dilakukan dengan metode pemblokiran, dan pembasahan lahan untuk mencegah api kembali menyala. "Jenis lahan gambut membuat proses pemadaman memakan waktu, dan sumber daya yang tidak sedikit," ujarnya.
Daniel juga menyebut operasi darat masih menjadi andalan, karena banyak titik api sulit dijangkau kendaraan, dan alat berat. “Dengan kerjasama, dan koordinasi yang baik, BPBD Kalbar, dan TNI dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, dan melakukan operasi pemadaman dengan efektif,” ujarnya.
Wagub Kalbar, Krisantus Kurniawan menekankan pentingnya pendekatan yang lebih bijaksana, dan humanis dalam menangani kasus karhutla, terutama di wilayah perhuluan yang masih banyak bergantung pada praktik peladangan tradisional.
“Saya berpesan agar kita memahami bahwa ada kearifan lokal dalam membuka lahan. Di wilayah perhuluan, banyak masyarakat yang hidup sebagai peladang. Jangan sampai mereka terus-menerus dijadikan kambing hitam atas terjadinya kebakaran lahan,” tegasnya kepada awak media, Rabu (11/6).
Menurutnya, titik api di daerah hulu seringkali berkaitan dengan aktivitas perladangan yang masih menggunakan metode bakar terbatas. Karena itu, Krisantus meminta aparat penegak hukum tidak langsung mengambil langkah represif.
“Peladang biasanya membuka lahan secara tradisional, dan berskala kecil. Perlu ada pendekatan edukatif, dan dialog, bukan hanya sanksi,” tambahnya.
Wagub juga mendorong sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, aparat, swasta, hingga masyarakat adat, untuk memberikan solusi alternatif agar perladangan tak lagi identik dengan pembakaran.
“Sejauh ini belum ada karhutla besar, baru titik api kecil, dan cuaca juga belum terlalu kering. Tapi kami tetap harus waspada, terutama menjelang puncak musim kemarau,” pungkasnya. (mrd/bar)
Editor : Miftahul Khair