PONTIANAK POST - Dibukanya kembali jalur penerbangan internasional Bandara Supadio Pontianak disambut baik oleh banyak kalangan. Hal ini diyakini dapat meningkatkan wisatawan dari luar negeri ke Kalimantan Barat. Namun begitu, jangan sampai hal tersebut sebatas euforia tanpa fokus pada upaya serius membangun daya tarik lokal.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Kalimantan Barat, Oktavia. Ia menilai dibukanya kembali jalur penerbangan internasional Bandara Supadio Pontianak tentunya memudahkan akses banyak kalangan, salah satunya pengusaha yang memiliki kerja sama bisnis dengan Malaysia, Brunei Darussalam maupun negara lainnya.
“Jadi bisa mempersingkat waktu perjalanan yang mana hal ini juga diharapkan dapat menarik warga dari LN (Luar Negeri) untuk berkunjung ke Kalbar,” tuturnya.
Namun, ia menekankan perlunya dilakukan langkah-langkah persiapan terhadap perubahan status Bandara Supadio menjadi bandara internasional, seperti peningkatan fasilitas maupun pelayanan bandara. Selain itu, keamanan dan konektivitas juga harus diperhatikan.
Antusiasme masyarakat terhadap perjalanan lintas negara terlihat dari pergerakan penumpang di Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Salah satunya di PLBN Entikong, Kabupaten Sanggau. Berdasarkan data Kalimantan Barat Dalam Angka yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, tercatat total pergerakan penumpang baik yang menggunakan angkutan umum maupun kendaraan pribadi, mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya.
BPS Kalbar mencatat pada 2024 tercatat 57.458 orang masuk ke Indonesia melalui PLBN Entikong, naik dari 56.628 pada 2023. Sementara jumlah penumpang keluar melonjak menjadi 148.139 orang dari sebelumnya 137.569 orang.
Jika dilihat angka tersebut, kunjungan ke luar negeri lebih tinggi dari pada orang yang masuk ke dalam negeri. “Fakta ini tak bisa kita pungkiri. Memang lebih banyak warga kita yang ke Malaysia ketimbang sebaliknya,” tutur Oktavia menanggapi data tersebut.
Ia mengakui, Kuching, Sarawak, memang menawarkan banyak hal yang menjadi daya tarik wisatawan, mulai dari tata kota yang tertata rapi, infrastruktur jalan yang baik, suasana lalu lintas yang tertib, hingga pengalaman kuliner yang berbeda. Bahkan, dalam hal layanan kesehatan, banyak warga Kalbar memilih berobat ke Malaysia karena dinilai lebih berkualitas dan terjangkau.
“Bagaimana tidak coba kita bandingkan Kuching, Sarawak dengan Pontianak dari segi tatanan kota saja sudah beda. Misalnya, kita lihat dari suasana kota, kebersihan, lalu lintasnya juga lebih lancar karena jalan-jalan di sana yang lebih lebar bahkan pengalaman kuliner di sana juga jadi terasa berbeda,” katanya.
Karena itu, ia menekankan jangan terlena dengan perubahan status Bandara Supadio menjadi internasional. Sebab, kata dia, kemudahan akses ini bisa jadi salah satu pemicu banyak warga daerah yang akan lebih sering ke luar negeri tanpa diimbangi upaya serius membangun daya tarik lokal.
“Daerah kita sebenarnya banyak wilayah-wilayah yang berpotensi untuk jadi tujuan wisata hanya saja memang infrastruktur untuk menjangkau tempat wisata tersebut tidak memadai,” ungkapnya.
Ia menekankan penting bagi daerah ini berubah dari banyak sisi agar dapat menarik pengunjung atau wisatawan mancanegara datang berkunjung ke kalbar. “Kita juga belum punya sentra oleh-oleh yang lengkap tersedia di satu tempat misalnya di satu sentra itu terdapat semua produk unggulan Kalbar dari kriya maupun kulinernya,” ucapnya.
Menurut Oktavia, Kalbar memiliki kekuatan pada kekayaan budaya, ragam kuliner lokal, serta kerajinan tangan yang khas. Jika dikelola dengan baik dan dikemas secara menarik, potensi ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan luar negeri.
Terkait dampak penerbangan internasional terhadap transportasi darat, terutama jalur Pontianak–Kuching yang selama ini menjadi satu-satunya akses langsung, Oktavia menilai pengaruhnya tidak akan signifikan.
“Hal ini saya rasa tidak berdampak terlalu besar karena dari segi biaya transportasi udara lebih mahal dari pada darat jadi akan tetap banyak yang memilih menggunakan transportasi darat,” pungkasnya. (sti)
Editor : Hanif