PONTIANAK POST — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Global Health Strategies (GHS) dan Dinas Kesehatan Kalimantan Barat menggencarkan kampanye imunisasi dengan pendekatan berbasis media sosial, pelibatan tokoh masyarakat, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.
Senior Advisor Global Health Strategies Kemenkes RI, Anung Sugihantono, mengungkapkan bahwa Kalimantan Barat telah menggunakan media sosial sebagai sarana kampanye imunisasi. Namun, menurutnya, intensitas dan cakupannya masih perlu ditingkatkan.
“Kami bekerja sama dengan Direktorat Imunisasi dan Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat kapasitas Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam memaksimalkan media sosial guna meningkatkan knowledge, attitude, dan practice masyarakat terkait imunisasi,” ujarnya dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Promosi Imunisasi Berbasis Media Sosial di Hotel Ibis, Senin (23/6) siang.
Anung menegaskan bahwa meski media sosial bukan satu-satunya strategi, efektivitasnya cukup tinggi mengingat tingginya kepemilikan smartphone di masyarakat.
“Strategi ini relevan, terutama saat kita harus melakukan efisiensi anggaran. Namun peran tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan tetap menjadi ujung tombak. Riset kami di Pontianak dan Mempawah menunjukkan 85 persen masyarakat masih sangat mempercayai petugas kesehatan,” tambahnya.
Senada dengan itu, Direktur Global Health Strategies, Ganendra Awang Kristandya, menyampaikan bahwa ada empat strategi utama yang diterapkan GHS dalam mendukung kampanye imunisasi bersama Dinkes kabupaten/kota.
Pertama, peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan dalam menggunakan media sosial sebagai sarana kampanye. Kedua, penguatan komunikasi interpersonal, mengingat masyarakat kini ingin mengetahui secara rinci tentang proses imunisasi, mulai dari cara pemberian hingga titik penyuntikannya.
“Ketiga, kami melihat perlunya pelibatan jurnalis untuk menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat, mengingat masih banyak warga yang percaya pada sumber informasi yang tidak kompeten,” katanya.
Strategi keempat menurut Ganendra adalah memastikan masyarakat memahami bahwa proses imunisasi berjalan melalui sistem yang akurat, mulai dari penyimpanan hingga distribusi vaksin.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kalbar, Yuliana menyebutkan bahwa upaya edukasi terus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap manfaat imunisasi. Pihaknya telah menggelar pelatihan promosi kesehatan di 14 kabupaten/kota untuk membekali SDM dalam menyampaikan literasi imunisasi secara digital.
“Harapannya, pendekatan digital ini bisa mendukung kami dalam memberikan pemahaman yang lebih baik dan sesuai dengan era digitalisasi saat ini,” ujarnya.
Sementara itu, Danu Ramadityo dari Tim Kerja Strategi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Kemenkes RI menambahkan bahwa pelatihan juga diberikan kepada kader posyandu dan tokoh masyarakat agar mereka bisa menjadi agen informasi yang tepat.
“Kita ingin mencegah disinformasi dan hoaks soal imunisasi. Maka dari itu, pelatihan promosi imunisasi berbasis media sosial juga mencakup cara mengedukasi masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang keliru,” jelas Danu.
Danu juga menekankan pentingnya memperkuat kapasitas petugas kesehatan di puskesmas agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat lebih dipercaya dan tepat sasaran. (mse)
Editor : Miftahul Khair