Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tanggapan Bengkel dan Pengendara; Oli Palsu Ancam Keselamatan dan Biaya Perawatan

Deny Hamdani • Senin, 30 Juni 2025 | 14:30 WIB
Ilustrasi bengkel motor.
Ilustrasi bengkel motor.

 

PONTIANAK POST– Pasca-penggerebekan gudang oli palsu di Kubu Raya, Kalimantan Barat, berbagai pihak mulai buka suara. Selain dari Asosiasi Pelumas Indonesia (Aspelindo) dan pemerintah daerah, tanggapan juga datang dari pemilik bengkel, pengemudi kendaraan roda dua dan empat. Mereka mengungkapkan dampak langsung dari maraknya peredaran pelumas ilegal yang selama ini mereka rasakan.

Salah satu pemilik bengkel motor di Kubu Raya, Hendra (44), mengatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, ia menerima keluhan dari konsumen yang mesin kendaraannya bermasalah setelah menggunakan oli tidak jelas asal-usulnya.

"Banyak motor masuk dengan gejala seperti suara mesin kasar, tarikan loyo, bahkan ada yang sampai mogok total. Setelah dicek, ternyata oli yang dipakai kualitasnya tak seperti diharapkan,” ucap Hendra, pemilik bengkel kendaraan roda dua.

Dia menambahkan, sebagian besar konsumen memilih oli berdasarkan harga murah tanpa memperhatikan keaslian produk. “Mereka ingin hemat, padahal biaya servis nanti bisa lebih mahal karena kerusakan mesin,” katanya.

Hendra mendukung langkah tegas aparat gabungan untuk memberantas peredaran oli palsu. Ia juga berharap produsen pelumas menyediakan sistem verifikasi yang lebih mudah diakses oleh masyarakat umum.

Senada dengan Suryadi, Amran(38), seorang pengemudi roda dua, menceritakan pengalamannya saat mencoba oli dengan harga murah dari pemilik bengkel biasa. Hasilnya, mesin mobilnya menjadi panas dan performa mesin menurun drastis. "Dulu beli oli di luar bengkel resmi karena harganya separuh dari yang asli. Tapi setelah beberapa minggu pakai, akselerasi mobil jadi lemot dan harus ganti oli lagi. Total malah lebih mahal karena ongkos servis tambahan,” tuturnya.

Amran kini lebih selektif dan hanya membeli oli melalui bengkel resmi atau toko online terpercaya. “Lebih baik bayar sedikit mahal tapi aman. Lagipula oli itu darahnya mesin, kalau salah pilih, bisa fatal akibatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Fahrul (35), pengemudi ojek online di Pontianak, mengaku khawatir jika menggunakan oli abal-abal, apalagi menjadi bagian dari proses penggerebekan kemarin. Sebab, sepeda motornya digunakan hampir 10 jam sehari untuk mencari nafkah. "Kalau motor rusak, penghasilan harian bisa hilang. Makanya saya pastikan oli yang dipakai benar-benar asli. Meskipun agak mahal, tapi lebih awet dan tenang saat berkendara,” kata Fahrul.

Fahrul juga mengimbau kepada rekan-rekan sesama pengemudi ojol agar tidak tergiur harga murah. “Jangan sampai karena hemat Rp10 ribu, nanti kita rugi jutaan rupiah karena motor harus turun mesin,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum Aspelindo, Yomie Harlin, menyambut baik respons dari masyarakat dan pelaku usaha. Menurutnya, kesadaran masyarakat merupakan kunci utama dalam memerangi oli palsu. "Kami akan dorong edukasi lebih masif, termasuk bekerja sama dengan komunitas pengemudi, bengkel, dan platform digital untuk memberikan informasi cara membedakan oli asli dan palsu,” ujar Yomie.

Dia juga menyarankan produsen pelumas untuk menyertakan kode unik atau fitur autentikasi pada kemasan sehingga lebih mudah diverifikasi oleh konsumen.

Ke depannya, Aspelindo bersama instansi terkait akan menggelar kampanye nasional tentang bahaya penggunaan oli palsu. Kampanye ini akan menyasar berbagai wilayah, terutama di luar kota besar yang rentan menjadi target pasar pelumas ilegal. "Kita butuh langkah nyata. Perlindungan konsumen harus menjadi prioritas bersama demi keselamatan berkendara dan keberlanjutan industri pelumas nasional,” tutup Yomie.(den)

Editor : Hanif
#pengendara #ancam keselamatan #oli palsu #bengkel #biaya perawatan #kubu raya