Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bea Cukai Kalbagbar Lampaui Target Rp265,9 Miliar, Perolehan Tembus Rp295 Miliar

Siti Sulbiyah Kurniasih • Selasa, 1 Juli 2025 | 09:12 WIB
Kantor Bea Cukai Pontianak.
Kantor Bea Cukai Pontianak.

PONTIANAK POST - KINERJA penerimaan bea dan cukai yang dihimpun Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kalimantan Bagian Barat menunjukkan tren positif hingga 31 Mei 2025. Total penerimaan mencapai Rp295 miliar, melebihi target tahun ini sebesar Rp265,9 miliar.

“Surplus Rp 29,1 miliar dari target,” ungkap Kepala Seksi Penerimaan dan Pengelolaan Data Kanwil DJBC Kalbar, Kadri Ansyari.

Hingga Mei 2025, realisasi bea masuk telah mencapai Rp26,5 miliar atau 74,57 persen dari target tahun 2025. Sementara bea keluar tercatat Rp203,3 miliar, telah melampaui target tahunan dengan capaian 198,61 persen. 

Kadri menjelaskan, penerimaan bea keluar didominasi oleh ekspor komoditas unggulan seperti Crude Palm Oil (CPO), produk turunan CPO, serta bungkil dan kernel. Sementara itu, bea masuk ditopang oleh kegiatan impor bahan baku industri, khususnya caustic soda. 

“Komoditas impor penyumbang bea masuk terbesar adalah Caustic Soda sebesar 68% atau senilai dengan Rp18 miliar,” sebutnya. 

Selain caustic soda, pendongkrak bea masuk terbesar juga berasal dari spare part kendaraan, bahan baku pupuk, kacang tanah, dan truk dari PT Borneo Alumindo Prima (BAP). 

Untuk sektor cukai, Kadri menyebutkan realisasinya telah mencapai Rp65,3 miliar atau 50,99 persen dari target yang dicanangkan pada tahun ini.

“Penerimaan Cukai Hasil Tembakau ditopang oleh KPPBC Sintete dan KPPBC Pontianak,” katanya.

Ia menyebut ada beberapa komoditas impor dengan devisa terbesar, yakni listrik, kapal tongkang, barang modal PT BAP, pupuk potash, dan caustic soda. 

“Komoditi impor devisa terbesar yang pertama adalah listrik sebesar Rp474 Miliar sampai dengan Mei 2025,” tuturnya.

Adapun penyumbang devisa terbesar dari aktivitas ekspor yakni Smelter Grade Alumina dan Chemical Grade Alumina, CPO, karet alam, biodiesel, dan kelapa. 

“Komoditas devisa terbesar 2025 yang didominasi oleh Smelter Grade Alumina dan Chemical Grade Alumina sebesar 65 persen atau dengan nilai rupiah sebesar Rp9.056 miliar,” sebutnya. (sti)

Editor : Hanif
#DJBC #cukai #Kalbagbar #CPO #bea cukai #Bea