PONTIANAK POST – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan di Kalimantan Barat pada 4–6 Juli 2025 menunjukkan hasil signifikan dalam upaya menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi ini merupakan bagian dari strategi darurat menghadapi musim kemarau di wilayah rawan karhutla.
Kepala Satuan Tugas Informasi dan Data Bencana BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan bahwa kegiatan OMC yang telah dilaksanakan selama tiga hari itu berjalan lancar dan memberi dampak positif.
“Kami sudah menerima informasi bahwa kegiatan OMC berlangsung dari 4 hingga 6 Juli 2025. Total telah dilakukan lima sortie penerbangan dengan durasi 10 jam 25 menit, dan sebanyak 5.000 kilogram bahan semai telah disebarkan,” ungkap Daniel, Senin (7/7).
Ia menyebutkan bahwa hasil yang dicapai sejauh ini cukup signifikan, meski pelaksanaan OMC masih akan berlangsung hingga Selasa (8/7).
OMC dilakukan dengan menaburkan bahan pemicu hujan berupa bubuk natrium klorida (NaCl) ke awan potensial menggunakan pesawat Cessna Caravan 208. Metode ini bertujuan meningkatkan intensitas hujan di wilayah-wilayah rawan terbakar, guna menekan titik panas, dan mengurangi risiko kabut asap.
Target wilayah OMC meliputi sejumlah kabupaten rawan karhutla seperti Kubu Raya, Ketapang, Sambas, Sintang, Sekadau, dan Sanggau. Total bahan semai yang disiapkan selama pelaksanaan OMC mencapai 13 ton.
“OMC di Kalbar merupakan tindak lanjut dari permintaan Gubernur Kalbar kepada Kepala BNPB, untuk mengantisipasi potensi karhutla selama musim kemarau,” jelas Daniel.
OMC ini melibatkan kerjasama lintas instansi, termasuk BNPB, BMKG, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), TNI AU, BPBD Kalbar, dan Pemprov Kalbar.
“Diharapkan, melalui upaya ini, keselamatan masyarakat tetap terjaga dan bencana kabut asap dapat dicegah sejak dini,” katanya.
Sejak OMC dimulai, beberapa wilayah seperti Kota Pontianak dan Kubu Raya sudah terpantau diguyur hujan. Meskipun demikian, kewaspadaan tetap tinggi karena curah hujan masih tergolong rendah di beberapa area, dan potensi kebakaran lahan masih ada.
OMC diharapkan dapat memberikan dampak signifikan dalam menurunkan risiko kebakaran dan menjaga kualitas udara tetap sehat bagi masyarakat Kalimantan Barat, terutama saat puncak musim kemarau ini.
Data Pemantau Air Lahan Gambut menunjukkan bahwa sebagian besar lahan gambut di Kalbar saat ini sudah mengering, dengan ketinggian air dalam tanah di bawah 40 cm, yang menandakan status rawan kebakaran.
Pada tahun 2023, data Sipongi KLHK mengindikasikan lahan terbakar di Kalbar mencapai 111.848 hektare, menunjukkan luasnya dampak karhutla sebelumnya.(bar)
Editor : Hanif