PONTIANAK POST – Fajar belum sepenuhnya menyingsing, namun halaman dan ruang utama Masjid Ikhwanul Mukminin telah dipenuhi jamaah yang datang dengan wajah penuh semangat. Ahad, 17 Muharram 1447 H atau bertepatan dengan 13 Juli 2025, mereka menghadiri kegiatan bertajuk
Subuh Penuh Berkah yang dirangkai dengan Shalat Subuh berjamaah, ceramah hikmah, santunan, dan sarapan bersama.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Safah Marwah (Gerakan Shalat Fardhu Berjamaah Menggapai Ridha Allah SWT), sebuah gerakan yang bertujuan menghidupkan kembali semangat berjamaah, khususnya di waktu Subuh. Harapannya, suatu saat saf Subuh akan seramai shalat Jumat.
Santunan untuk Perempuan Tangguh
Usai shalat Subuh, suasana haru menyelimuti masjid saat tujuh orang perempuan kepala rumah tangga dipanggil ke depan. Mereka menerima bingkisan santunan sebagai bentuk kasih sayang dan kepedulian dari jamaah masjid. Tak ada seremoni berlebihan, hanya uluran tangan yang tulus dan doa yang lirih.
"Ini bukan hanya bentuk bantuan materi, tapi wujud nyata ukhuwah Islamiyah," ujar salah satu pengurus masjid.
Muharram, Bulan Penuh Pintu Amal
Mengisi tausiyah Subuh, Ustadz Drs. H. Zulfan Affan Abdurrahman, SH mengangkat tema kemuliaan bulan Muharram. Beliau menjelaskan bahwa ada empat bulan mulia dalam Islam yang disebut dalam Al-Qur’an: Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab.
Khusus Muharram, beliau mengajak jamaah untuk:
Melaksanakan puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan untuk menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu.
Memperbanyak sedekah, terutama kepada anak yatim dan kaum dhuafa.
Meningkatkan amal sunnah, seperti membaca Al-Qur'an, dzikir, shalat malam, dan menjalin silaturahmi.
Memuliakan anak-anak yatim, karena bulan ini juga dikenal sebagai momentum menyentuh hati mereka yang kehilangan kasih orang tua.
“Bulan Muharram adalah bulan untuk memperbaiki niat, memperkuat tekad, dan membuka pintu-pintu amal. Kita dianjurkan memperbanyak amal pribadi, sekaligus memperluas manfaat sosial,” pesan beliau dengan nada tenang dan menginspirasi.
Kue, Teh, dan Kebersamaan Pagi
Kegiatan ditutup dengan sarapan bersama yang sederhana namun menghangatkan suasana. Jamaah menikmati kue dan teh sambil berbincang hangat. Momen ini mempererat ukhuwah dan memberi kesan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang kebersamaan dan pemberdayaan.
Semoga kegiatan seperti ini terus berlangsung dan menjadi inspirasi bagi masjid-masjid lainnya. Karena sejatinya, masjid adalah pusat cahaya – tempat bertemunya ibadah, ilmu, dan kepedulian.**
Editor : Hanif