Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Heboh Beras Premium Dioplos, Masyarakat Khawatir Soal Kesehatan dan Keamanan Pangan

Deny Hamdani • Selasa, 15 Juli 2025 | 15:52 WIB
BANYAK KECURANGAN: Kementerian Pertanian menemukan banyak produk beras yang tak sesuai dengan labelnya, mulai dari kualitas, takaran, sampai ketentuan HET.
BANYAK KECURANGAN: Kementerian Pertanian menemukan banyak produk beras yang tak sesuai dengan labelnya, mulai dari kualitas, takaran, sampai ketentuan HET.

PONTIANAK POST - Terendusnya hasil investigasi Kementerian Pertanian yang menyebutkan bahwa 85 persen beras premium dan 88 persen beras medium tidak memenuhi standar mutu membuat banyak masyarakat mulai angkat suara.

Banyak konsumen mengaku kaget, khawatir akan ancaman kesehatan keluarganya, bahkan marah atas temuan tersebut. Sebab, bukan rahasia baru sudah lama warga Kalbar-Indonesia mengkonsumsi beras yang dianggap bermasalah tersebut.

“Dulu saya pikir beli beras mahal berarti pasti bagus. Ternyata malah isinya pecah-pecah, nasinya keras, baunya neh,” kata Sri Suharyanti (43) , seorang ibu rumah tangga di Kubu Raya, usai membaca banyak berek beras premium dan medium yang biasa menjadi konsumsi keluarganya dianggap tak memenuhi standar mutu.

Tidak hanya soal kualitas, beberapa pembeli juga mengeluhkan ketidakkonsistenan isi kemasan. Ahmad Rizal (39), seorang karyawan swasta di Pontianak, mengaku pernah menimbang beras kemasan 5 kg yang baru saja dibelinya. Hasilnya? “Isinya cuma 4,8-4,9 kilo. Padahal harganya sudah di atas HET. Ini kayaknya ada main-mainnya,” keluhnya.

Dia merasa kecewa karena meskipun membayar harga tinggi, kualitas beras yang didapat justru buruk. “Nasinya lengket, baunya apek, dan basah dihangatkan meskipun pakai pemanas terbaru. Saya jadi mikir-mikir kalau mau beli lagi," ujarnya.”

Pemberitaan yang berseliweran tersebut membuat banyak warga mulai teliti saat membeli beras. Mereka mulai memperhatikan label kemasan, mencari tahu kadar air dan kepatahan beras, serta membandingkan harga di pasaran.

“Sekarang saya selalu cek labelnya. Kalau bisa lihat langsung isi berasnya, saya pegang-pegang dulu. Kalau terlalu putih atau terlalu wangi, saya curiga itu pakai pemutih atau pengawet,” tambah Sri kembali

Kekhawatiran di kalangan masyarakat sendiri masih terjadi. Banyak konsumen juga meragukan keamanan beras kemasan merek terkenal yang selama ini mereka beli tanpa curiga.

“Saya biasa beli beras kemasan merk A karena katanya premium dan mahal. Tapi setelah dilihat-lihat, nasinya lengket, banyak pecahan. Saya jadi takut, apa nggak ada zat berbahaya di dalamnya?” ujar Nurul Fitri (37), ibu rumah tangga ditemui di mini market kemarin.

Dia mengaku sudah mulai beralih ke beras lokal yang bisa dilihat langsung kualitasnya. “Sekarang saya beli beras curah, lalu saya cuci sendiri. Lebih tenang, meski agak repot," ucapnya.

Di tengah maraknya kasus beras oplosan, rakyat biasa berharap agar pemerintah benar-benar hadir sebagai pelindung. “Kami ingin bisa makan nasi tanpa rasa khawatir. Ini soal kebutuhan pokok, bukan barang mewah,” lanjut Teguh (41), seorang pedagang kelontong di Kuala Dua.

Kasus ini menjadi momentum penting untuk memperkuat regulasi, pengawasan, dan transparansi di sektor pangan. Pasalnya, ketika beras makanan pokok bangsa tidak aman dikonsumsi, maka kesehatan jutaan orang pun terancam.

Bahaya Jangka Panjang bagi Kesehatan

Para ahli gizi, pangan dan pakar keamanan pangan dilansir dari artikel kesehatan menjelaskan bahwa beras yang dioplos dengan beras berkualitas rendah dapat membawa risiko kesehatan, terutama jika beras tersebut mengandung jamur atau aflatoksin.

Aflatoksin adalah racun yang dihasilkan oleh jamur seperti Aspergillus flavus. Jika tertelan secara terus-menerus, bisa menyebabkan kerusakan hati, gangguan sistem imun, bahkan kanker.

Selain itu, butiran beras yang rusak dan berdebu juga rentan terhadap kontaminasi logam berat dan sisa pestisida, terutama jika beras tersebut disimpan di tempat yang tidak layak.

Kementan mengimbau masyarakat untuk memilih beras yang memiliki sertifikasi halal dan SNI. Mencermati label kemasan, termasuk kadar air, tingkat kepatahan, dan tanggal produksi. Menuntut haknya jika mencurigai adanya kecurangan pada produk yang dibeli. melapor ke BPOM atau Dinas Perdagangan setempat jika menemukan beras mencurigakan. (den)

Editor : Miftahul Khair
#pangan #premium #kesehatan #Keamanan #masyarakat #beras dioplos