PONTIANAK POST - Untuk mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Barat, terus melakukan upaya menekan luasan kebakaran hutan dan lahan, salah satunya dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar, Daniel mengatakan, kegiatan OMC kali ini dilakukan dalam rangka penanganan siaga darurat bencana asap akibat karhutla yang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kalbar.
“Operasi dilakukan dengan dua sortie penerbangan menggunakan pesawat Cessna Caravan 208B EX PK-SNG,” jelas Daniel, Jumat (25/7/2025).
Dalam sortie pertama yang berlangsung pada pukul 13.45 hingga 16.06 WIB, penyemaian awan dilakukan di wilayah Kabupaten Kubu Raya, Landak, Bengkayang, dan Kota Singkawang. Sebanyak 1.000 kg bahan semai Natrium Klorida (NaCl) ditebar ke atmosfer.
Sementara pada sortie kedua, yang berlangsung dari pukul 16.58 hingga 19.18 WIB, penyemaian awan menyasar wilayah Kabupaten Sanggau dan Landak, dengan penggunaan bahan semai sebanyak 1.000 kg NaCl.
Daniel menjelaskan bahwa bahan semai yang digunakan dalam OMC adalah NaCl powder, atau lebih dikenal sebagai garam dapur murni. Namun, berbeda dengan garam dapur konsumsi, NaCl dalam OMC memiliki kemurnian lebih tinggi dan tidak mengandung zat aditif seperti anti kempal.
“NaCl digunakan karena sifatnya yang mampu memengaruhi proses pembentukan awan dan hujan. Dengan partikel-partikel tersebut, kita bisa memicu atau memperkuat hujan di wilayah-wilayah rawan karhutla,” terang Daniel.
Keberhasilan OMC, menurut Daniel, tidak bisa diukur hanya dari angka atau persentase semata. Perlu ada penilaian berbasis dampak nyata serta tujuan spesifik dari setiap operasi yang dilakukan.
“Faktor cuaca seperti suhu, kelembaban, dan arah angin sangat menentukan keberhasilan. Selain itu, teknologi dan metode penyemaian juga punya peran penting,” tambahnya.
Konteks lokal, seperti potensi titik api dan kondisi tanah, juga turut menjadi pertimbangan dalam menilai efektivitas OMC. Daniel menegaskan bahwa keberhasilan OMC salah satunya terlihat dari penurunan risiko kebakaran dan membaiknya kualitas udara.
OMC sendiri, lanjut Daniel, bukan satu-satunya solusi dalam menghadapi ancaman karhutla di Kalbar. Ia menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dan strategi terpadu yang mencakup pencegahan dini, pengawasan lapangan, edukasi masyarakat, dan respons cepat ketika titik api terdeteksi.
“OMC adalah bentuk ikhtiar manusia memanfaatkan teknologi untuk mengurangi risiko bencana. Ini bagian dari strategi besar penanggulangan karhutla, bukan solusi tunggal,” tegasnya.
Hingga saat ini, BPBD Kalbar bersama TNI AU, BRIN, dan lembaga terkait terus memantau perkembangan kondisi atmosfer dan hotspot untuk merencanakan OMC berikutnya jika diperlukan.(arf)