Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Wali Kota Pontianak Imbau Warga Batasi Aktivitas Malam Saat Kabut Asap

Mirza Ahmad Muin • Kamis, 31 Juli 2025 | 10:45 WIB
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono

PONTIANAK POST - Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak kabut asap yang kembali menyelimuti wilayah kota. Menurutnya, kondisi ini terjadi akibat asap kiriman dari wilayah kabupaten sekitar yang diduga berasal dari aktivitas pembakaran lahan.

“Kalau asap di Pontianak ini umumnya kiriman. Di musim kemarau, seperti menjelang Agustus dan September, curah hujan sangat rendah. Ini membuat suhu cenderung panas dan memicu pembakaran lahan, baik akibat pembersihan maupun pembukaan lahan,” ungkapnya, Rabu (30/7).

Pemerintah Kota Pontianak, lanjutnya, telah meningkatkan pengawasan dan pemantauan di lapangan berkoordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, dinas terkait, RT, RW, hingga kelurahan. 

“Terutama di daerah rawan seperti Pontianak Selatan, Tenggara, dan Utara, yang memiliki lahan gambut,” ujar Edi.

Selain itu, dia mengingatkan warga untuk membatasi aktivitas di luar rumah, terutama pada malam hari. Sebab saat malam hari kabut asap semakin tebal dan membahayakan kesehatan.

“Asap pada malam hari cenderung lebih pekat karena berat jenisnya turun ke bawah. Ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan,” katanya.

Berdasarkan pantauan kualitas udara, lanjutnya lagi, kondisi saat ini sudah masuk kategori tidak sehat, terutama pada malam dan pagi hari. Meski begitu, ia berharap kondisi ini tidak berlangsung lama karena ada potensi curah hujan dalam beberapa hari ke depan.

Edi juga menyebutkan sudah ada laporan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) di sejumlah fasilitas kesehatan. 

“Gejala ISPA sudah mulai dilaporkan, terutama menyerang kelompok rentan seperti balita dan penderita asma. Warga diimbau untuk memakai masker dan membatasi aktivitas luar ruangan,” tandasnya.

Pemerintah Kota Pontianak terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan langkah pencegahan dan penanganan berjalan optimal.

Sementara itu, Kalimantan Barat menjadi episentrum kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan lonjakan drastis titik panas (hotspot) yang terdeteksi. Dalam 24 jam terakhir, dari total 3.506 titik panas yang tersebar di seluruh Indonesia, 1.810 hotspot di antaranya berada di Kalimantan Barat. Angka ini menempatkan Kalbar sebagai provinsi dengan konsentrasi hotspot tertinggi secara nasional.

Data yang dirilis oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Barat menunjukkan, sejak Mei hingga Juli 2025, tercatat 8.644 titik panas terpantau di Kalbar. Mirisnya, 2.652 titik panas di antaranya berada di dalam area konsesi perusahaan perkebunan.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat juga turut memantau situasi. Per Selasa (29/7), BPBD mendeteksi 416 titik panas, dengan 27 di antaranya masuk kategori tinggi. Kabupaten Mempawah menjadi sorotan utama karena memiliki jumlah hotspot terbanyak.

Peningkatan signifikan jumlah titik panas ini menjadi indikasi kuat meluasnya potensi kebakaran hutan dan lahan. Kondisi ini diperkirakan menjadi pemicu utama kabut asap tebal yang kini menyelimuti Pontianak dan daerah sekitarnya, mengganggu aktivitas warga serta kesehatan masyarakat.

“Berdasarkan informasi dari BMKG, 341 titik masuk kategori rendah, 48 kategori menengah, dan 27 titik dikategorikan tinggi. Tim gabungan di seluruh Kalbar melakukan ground check terhadap titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tersebut, untuk memastikan apakah benar merupakan titik api,” ungkap Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar, Daniel.

BPBD Kalbar juga mencatat telah terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang bulan Juli ini di beberapa daerah, seperti Kabupaten Kubu Raya, Kota Singkawang, Sanggau, Bengkayang, Mempawah, dan Kapuas Hulu.

Namun, hingga saat ini pihaknya belum dapat memastikan total luas lahan yang terbakar. “Masih dalam proses penghitungan oleh instansi teknis,” kata Daniel.

Untuk upaya mitigasi, Pemprov Kalbar bersama BPBD telah melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan pada 4–8 Juli, dan tahap kedua pada 24–28 Juli 2025.

"Kami harap operasi ini berdampak signifikan. Beberapa wilayah sudah diguyur hujan, semoga bisa membasahi lahan-lahan yang berpotensi terbakar,” jelasnya.

Selain OMC, BNPB juga mengirim dua unit helikopter. Satu unit untuk patroli udara dan verifikasi titik api, serta satu unit lainnya untuk water bombing. “Dua helikopter ini sudah beroperasi sejak 27 Juli hingga hari ini, 29 Juli,” tambahnya.(iza)

Editor : Hanif
#musim kemarau #ispa #bpbd #karhutla #Edi Rusdi Kamtono #Wali Kota Pontianak #aktivitas malam hari #kabut asap