PONTIANAK POST - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan tiga strategi terpadu dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.
"Operasi darat dipimpin langsung oleh kepala daerah bersama TNI-Polri, dengan dukungan peralatan seperti flexible tank, pompa, dan alat pelindung diri. Sementara itu, untuk titik api besar atau lokasi sulit dijangkau, kami kerahkan heli waterbombing," kata Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto saat konferensi pers usai Rapat Penanggulangan Karhutla di Kantor Gubernur Kalbar di Pontianak, Jumat (1/8) sore.
Dia menjelaskan strategi penanganan karhutla dilakukan melalui kombinasi operasi darat, udara, dan operasi modifikasi cuaca (OMC) secara simultan.
Saat ini, kata dia, dua pesawat untuk OMC juga telah dikerahkan ke Kalbar guna memicu hujan buatan.
Jika hujan tidak cukup merata maka tiga helikopter pengebom air akan menyisir wilayah kritis.
Selain itu, satelit dan heli patroli turut dimanfaatkan untuk memverifikasi titik panas secara visual.
Seperti penanganan karhutla di Riau yang berhasil dikendalikan dalam lima hari, ia mengharapkan, Kalbar juga bisa segera memasuki tren penurunan titik api pada awal Agustus.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan Kalbar memiliki 2,7 juta hektare lahan gambut dari total 14,7 juta hektare daratan. Sebagian besar berada di kawasan produksi dan fungsi induk, yang rentan terbakar saat musim kemarau akibat pengeringan dari aktivitas pertanian.
"OMC kini menjadi langkah permanen dalam penanganan karhutla dengan efektivitas yang meningkat dari tahun ke tahun. Hasil modifikasi cuaca hari ini sudah menunjukkan hujan di beberapa wilayah," katanya.
Ia menekankan pentingnya edukasi masyarakat di daerah terdampak untuk mencegah karhutla secara merata. Seluruh perkembangan dan langkah penanganan telah dilaporkan langsung kepada Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan pihaknya telah memetakan potensi karhutla sejak enam bulan sebelumnya melalui sistem prediksi berlapis, yang diperbarui setiap 10 hari dan tujuh hari mendekati puncak kemarau.
“Prediksi kami menunjukkan puncak kemarau akan terjadi pada 7–8 Agustus, dan wilayah Kalbar berada dalam zona merah atau sangat rawan terbakar. Kami sudah siapkan dukungan teknis penuh untuk OMC di titik-titik prioritas," katanya.
BMKG juga terus memantau pertumbuhan awan hujan karena OMC hanya bisa dilakukan jika potensi awan cukup. Upaya pemadaman akan ditingkatkan pada masa puncak kemarau yang tinggal beberapa hari lagi.
"Dengan strategi terpadu yang melibatkan operasi darat, udara, dan rekayasa cuaca, pemerintah optimistis karhutla Kalimantan Barat dapat ditangani secara efektif dan cepat," katanya.
Sinergi Lintas Instansi
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto menegaskan pentingnya sinergi dan kolaborasi antarinstansi dalam menangani karhutla di Kalbar.
"Hari ini kami meninjau langsung ke lapangan dilanjutkan dengan rapat terbatas di Posko VIP Lanud Supadio, yang dihadiri oleh jajaran lintas kementerian dan lembaga, termasuk perwakilan TNI, Polri, BMKG, dan pemerintah daerah. Rapat tersebut membahas langkah-langkah strategis untuk mempercepat penanggulangan karhutla di Kalbar yang belakangan mengalami peningkatan intensitas," kata Suharyanto.
Dia mengemukakan hal itu saat meninjau sejumlah titik hotspot di wilayah Kubu Raya bersama Gubernur Kalbar Ria Norsan, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Hanif Faisol Nurofiq di Sungai Raya, Jumat (1/8).
Suharyanto menjelaskan, dari hasil pemantauan langsung, memang diperlukan percepatan upaya penanggulangan, termasuk melalui teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan. "Ini sangat penting untuk wilayah-wilayah yang sulit dijangkau tim darat," tuturnya.
Ia menyampaikan apresiasi atas kerja keras tim gabungan di lapangan yang telah berupaya maksimal memadamkan api di berbagai titik. “Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak, baik dari unsur pemerintah daerah, TNI/Polri, hingga relawan. Penanganan karhutla ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” tambahnya.
BNPB juga telah berkoordinasi dengan BMKG, TNI Angkatan Udara, serta stakeholder terkait untuk mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
"Penentuan waktu dan lokasi penyemaian awan harus didasarkan pada analisis yang tepat agar hasilnya maksimal. Ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor," katanya.
Sementara itu, Gubernur Kalbar Ria Norsan menyatakan dukungannya terhadap langkah cepat yang diambil pemerintah pusat. Ia berharap kerja sama ini membuahkan hasil nyata bagi masyarakat Kalbar.
"Upaya-upaya strategis telah kita lakukan, mulai dari penyemaian awan, water bombing, hingga penguatan patroli di titik rawan. Kami mohon doa dan dukungan masyarakat agar kondisi ini segera membaik," kata Ria Norsan.
Dia juga menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. "Tidak bisa hanya mengandalkan petugas, peran serta masyarakat juga sangat menentukan," katanya.(ant)
Editor : Miftahul Khair