Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kerawanan Karhutla Kalbar Sangat Tinggi, Modifikasi Cuaca Diintensifkan

Marsita Riandini • Minggu, 3 Agustus 2025 | 10:13 WIB
Dwikorita Karnawati ,Kepala BMKG
Dwikorita Karnawati ,Kepala BMKG

PONTIANAK POST - Hujan yang mengguyur sebagian besar Kalimantan Barat pada 1 hingga 2 Agustus dan banyaknya potensi hujan beberapa hari ke depan, diharapkan dapat menurunkan titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebab, Kalimantan Barat menghadapi ancaman serius dari karhutla dengan tingkat kerawanan yang sangat tinggi pada awal Agustus 2025. Kubu Raya menjadi wilayah dengan risiko tertinggi.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan beberapa faktor utama yang memperburuk kondisi ini. Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam siaran resminya, pemantauan satelit menunjukkan tingkat kemudahan terbakar hutan dan lahan di Kalbar sangat tinggi, terutama antara 1 hingga 8 Agustus 2025.

Hal ini didukung oleh data lonjakan titik panas (hotspot) yang signifikan di akhir Juli. Pada 29 Juli, terdeteksi 108 titik, diikuti 19 titik pada 30 Juli, dan 26 titik pada 31 Juli. Sebaran asap bahkan telah mencapai Laut Natuna dan perbatasan negara tetangga, yang menjadi perhatian serius mengingat isu trans-boundary haze. "Selain faktor cuaca, kondisi tinggi muka air tanah (TMAT) juga menjadi indikator penting dalam kerawanan karhutla," paparnya.

Berdasarkan laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup, TMAT di beberapa wilayah masih berada pada kategori mengkhawatirkan. Lahan gambut dengan TMAT yang dalam sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Kubu Raya menjadi wilayah dengan risiko tertinggi. Dari sembilan stasiun pemantauan TMAT, dua stasiun (IX) berada dalam kategori berbahaya, satu stasiun sangat rawan, dan sembilan stasiun lainnya rawan. Wilayah lain seperti Sintang, Ketapang, dan Sambas juga menunjukkan kondisi rawan, meskipun tidak separah Kubu Raya.

Untuk menanggulangi situasi ini, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah Provinsi, dan TNI telah meningkatkan upaya penanganan, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Kegiatan OMC yang telah dilakukan dari 24-30 Juli berhasil menyemai 17.000 kg NacI dan menghasilkan tambahan volume air hujan sebesar 182,3 juta meter kubik. Namun, melihat lonjakan kerawanan, OMC akan terus dioptimalkan hingga malam hari.

Rapat koordinasi yang dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Menteri KLH/BPLH, Kepala BNPB, Gubernur Kalbar, Pangdam XIi/Tanjungpura, dan Wakapolda Kalbar, menunjukkan komitmen kuat untuk memperkuat koordinasi dan mitigasi karhutla.

"Dengan sinergi seluruh stakeholder, diharapkan penanganan karhutla dapat dilakukan secara lebih efektif untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat," paparnya. (mrd/r)

Editor : Hanif
#pangdam XII #bnpb #kalbar #Rawan #bmkg #modifikasi cuaca #karhutla #kubu raya #Stakeholder #dwikorita karnawati