PONTIANAK POST - Beredarnya uang palsu yang dilakukan oleh oknum dengan sasaran warung kecil dan pusat perbelanjaan tradisional kini menjadi perhatian para pedagang. Tak ingin merugi, mereka pun kini lebih selektif memeriksa uang saat bertransaksi.
Andi, pedagang ayam yang berjualan di Pasar Flamboyan sudah mengetahui hal tersebut. Maraknya peredaran uang palsu di daerah Kalbar membuatnya lebih selektif ketika melakukan transaksi jual beli ayam potong.
“Kita pedagang tahu, ketika ada gerak-gerik konsumen yang mencurigakan. Jika menemukan konsumen seperti ini, saya pasti mengecek uangnya. Takut uang yang digunakan itu palsu,” ungkapnya kepada Pontianak Post, Selasa (5/8).
Namun kadang antisipasi peredaran uang palsu agak kendor dilakukannya. Terutama ketika pembeli sedang ramai. Akibatnya, semua pembayaran langsung diterima saja tanpa dilakukan pengecekan lagi.
Sebagai antisipasi dia juga menyediakan pembayaran melalui QRIS. Dengan pembayaran digital, uangnya langsung ditransfer konsumen ke rekening langsung. Dengan demikian, ini dapat mencegah terjadinya peredaran palsu.
Salah satu pedagang kecil lainnya, Dedi juga khawatir dengan dugaan beredarnya uang palsu di Kalimantan Barat. Jika dugaan peredarannya di Kalbar, Kota Pontianak juga berpotensi peredaran uang palsu ini.
Apalagi sasaran peredaran uang palsu ini ke pedagang kecil sepertinya. Pedagang penjual rokok, makanan kecil dan lainnya. “Jika satu saja uang palsu masuk ke warung kecil saya, pasti akan terasa ruginya. Kita inikan pedagang kecil. Seribu perak pun kami hitung untungnya,” ujarnya.
Dia berharap pelaku peredaran uang palsu di Kalbar bisa cepat ditemukan. Sebab ketika ini dibiarkan tanpa ada pergerakan dari pemilik kebijakan, akan semakin besarlah kerugian yang ditanggung oleh para pedagang. Sebab ini sasaran mereka para pedagang kecil. ”Sudahlah kondisi sekarang susah cari uang, ini ditambah lagi ada peredaran uang palsu,” keluhnya.
Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin minta tim pengendali inflasi juga melakukan pemantauan di lapangan bersama pihak terkait. Dia juga minta untuk melibatkan Bank Indonesia serta OJK. Tujuannya sekaligus sosialisasi ciri uang palsu ke pedagang kecil.
Dia khawatir peredaran uang palsu ini jumlahnya sudah besar. Jika demikian, akan besar kemungkinan peredaran uangnya sudah ke mana-mana. Sehingga sasaran pedagang yang tertipu saat bertransaksi dengan oknum pengguna uang palsu semakin besar.
“Pemkot juga harus tanggap dengan isu ini. Sebab jika dugaan peredarannya di Kalbar, potensi peredaran uang palsu di Pontianak juga begitu besar. Saya minta pedagang kecil waspada. Cek terlebih dulu kondisi fisik uang. Takutnya saat transaksi justru tertipu,” ungkapnya.(iza)
Editor : Hanif