Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

BEI Kalbar Targetkan 100 Galeri Investasi Sekolah pada 2025

Siti Sulbiyah • Minggu, 10 Agustus 2025 | 10:21 WIB
Taufan Febiola
Taufan Febiola

PONTIANAK POST – Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Kalimantan Barat menargetkan pembentukan 100 Galeri Investasi Edukasi (GIE) di tingkat SMA/SMK sederajat pada tahun 2025 di provinsi ini. Langkah tersebut merupakan bagian dari program nasional "Guruku Investor Saham" yang menyasar guru dan kepala sekolah agar menjadi pionir literasi pasar modal di lingkungan pendidikan.

Kepala BEI Kalbar, Taufan Febiola, menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen menyambut Hari Guru Nasional 2025 yang mengangkat tema Cerdas Berinvestasi pada Pasar Modal. Melalui program ini, BEI memberikan rekening saham kepada guru dan kepala sekolah dari sekolah-sekolah yang telah bekerja sama mendirikan GIE, dengan top-up dana awal sebesar Rp100.000 untuk guru dan untuk kepala sekolah.

"Ini untuk mereka belajar dan mengenal produk pasar modal," ujarnya di Pontianak.

Taufan menambahkan, perluasan akses galeri investasi di jenjang SMA/SMK sederajat menjadi strategi percepatan literasi dan inklusi keuangan, agar edukasi pasar modal tidak hanya terfokus pada perguruan tinggi.

Tak hanya kepada para pendidik, BEI juga mengenalkan berbagai inovasi edukatif untuk para siswa SMA/SMK Sederajat. Produk edukatif seperti aplikasi IDX Mobile yang memuat fitur virtual trading, permainan edukatif yang dikompetisikan, serta buku komik bertema investasi sebagai bahan ajar ringan bagi siswa.

Hingga saat ini, ia menyebut terdapat 30 galeri investasi yang telah aktif di Kalbar. BEI menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 100 dalam waktu dekat, seiring dengan meningkatnya minat sekolah dalam mendirikan galeri yang berfungsi layaknya bank mini namun khusus untuk edukasi investasi.

Salah satu sekolah yang telah menjalankan program ini adalah MAN 1 Pontianak. Fahrizal, Guru Ekonomi dan Pembimbing Kelompok Studi Pasar Modal di sekolah tersebut menyatakan, kegiatan ini memberikan motivasi kuat bagi siswa untuk memahami investasi legal sejak dini.

"Memang sebagian besar siswa belum punya akun karena belum memiliki KTP, tetapi mereka sudah mulai memahami apa itu saham dan bagaimana cara berinvestasi yang benar," kata Fahrizal.

Ia juga menyambut baik rencana pemberian rekening saham bagi guru. “Saya rasa ini bagus program ini, karena kita selama ini nabung hanya dengan tabungan biasa. ” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalbar, Rochma Nurhidayati, mendorong literasi dan inklusi keuangan, tak hanya menabung melainkan investasi. Angka literasi keuangan menurutnya masih menghadapi tantangan tersendiri, tak terkecuali di Kalimantan Barat. 

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 OJK bersama BPS, menunjukkan Indeks Literasi Keuangan Nasional untuk data Cakupan Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) berada di angka 66,64 persen, sementara Indeks Inklusi Keuangan Nasional mencapai 92,74 persen.

“Artinya, meskipun akses terhadap layanan keuangan meningkat, pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, masih tertinggal jauh,” ucapnya.

Lebih rinci lagi, Indeks Literasi Keuangan untuk kelompok usia sampai dengan 17 tahun, yang mana 20 tahun lagi akan menduduki kelompok masyarakat usia produktif, tercatat baru sebesar 51,86 persen, masih di bawah rata-rata nasional.

Lebih memprihatinkan lagi, lanjut dia, rata-rata anak muda Indonesia usia 15-24 tahun masih rentan terhadap perilaku konsumtif, investasi bodong, hingga pinjaman daring ilegal. Berdasarkan Survei OCBC NISP Financial Fitness Index menempatkan skor kesehatan finansial generasi muda Indonesia hanya di angka 40,06 tertinggal jauh di bawah Singapura yang mencapai 62.

Selain itu, berdasarkan data OJK juga menunjukkan, dari total outstanding pinjaman perorangan pada perusahaan Fintech P2P Lending mencapai Rp 66,17 triliun per Agustus 2024, sebanyak Rp 33,05 triliun atau 51 persen persen dilakukan oleh kelompok umur 19-34 tahun.

“Laporan Satgas PASTI juga menyebut bahwa 62 persen korban pinjaman online ilegal adalah anak muda,” terangnya.

Untuk itulah, ia menilai diperlukan peningkatan literasi dan inklusi keuangan bagi kelompok ini dan dipersiapkan sedini mungkin. OJK bersama pemangku kepentingan menurutnya melakukan pendekatan efektif dengan kampanye budaya menabung dan berinvestasi yang ditanamkan sejak usia sekolah dasar. (sti)

Editor : Hanif
#bei #investasi #Pasar Modal #kalbar #guru #SNLIK #Galeri Investasi Edukasi #sma smk #kepala sekolah