PONTIANAK POST - Kesejahteraan petani di Kalimantan Barat tercatat sebagai yang tertinggi di seluruh wilayah Kalimantan, bahkan jauh di atas rata-rata nasional. Hal itu tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2025.
“Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga di 12 kabupaten di Kalimantan Barat pada Juli 2025, NTP Kalimantan Barat tercatat sebesar 167,83 poin,” ungkap Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin dalam keterangan tertulis.
Angka ini, tercatat mengungguli NTP Kalimantan Tengah 132,95, Kalimantan Timur 142,89, Kalimantan Selatan 114,30, dan Kalimantan Utara 114,86. Angka NTP Kalbar juga melampaui rata-rata nasional yang berada di level 122,64 poin.
Bila dirinci berdasarkan subsektor, Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat (NTPR) menjadi pendorong utama NTP kalbar dengan capaian 205,41. Sektor lainnya mencatat NTP Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 102,88, Hortikultura (NTPH) 104,09, Peternakan (NTPT) 99,79, dan Nelayan serta Pembudidaya Ikan (NTNP) 100,45.
NTP adalah singkatan dari Nilai Tukar Petani. Ini adalah indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Semakin tinggi NTP, semakin besar pula surplus yang dimiliki petani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Heronimus Hero, membenarkan bahwa subsektor perkebunan menjadi motor penggerak tingginya NTP di Kalbar. Pemerintah provinsi Kalbar menurutnya memang memprioritaskan sektor perkebunan karena perannya yang besar sebagai pendorong utama ekonomi Kalbar, baik melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekspor, maupun perputaran ekonomi di daerah.
“Kontribusi PDRB sekitar 20 persen sumbangan dari sektor pertanian, yang tentunya juga berasal dari subsektor perkebunan,” tuturnya, Senin (11/8).
Menurut Hero, kelapa sawit menjadi komoditas andalan perkebunan. Walau begitu, komoditas lainnya juga turut menjadi penggerak seperti karet, kopi, dan lain-lain.
Pemerintah menurutnya mendorong diversifikasi agar petani tidak bergantung pada satu jenis tanaman saja. “Masyarakat sedapat mungkin punya lebih dari satu komoditas. Misalnya kalau punya sawit, karet, atau kopi, jangan dihabiskan semua dan menyisakan satu komoditas saja,” tuturnya.
Untuk komoditas karet, tambahnya, tantangan saat ini adalah produksi lokal yang tidak mampu menopang kebutuhan industri lokal. Hal ini membuat sejumlah pabrik mengandalkan pasokan dari luar negeri.
Di sisi lain, pengembangan subsektor peternakan masih menghadapi pekerjaan rumah. Saat ini, Kalbar baru surplus telur dan daging ayam, sedangkan komoditas peternakan lain belum tercapai kemandiriannya.
“Tantangan di peternakan adalah penyakit hewan, yang masih menjadi hambatan,” kata Hero.
Secara umum, tambahnya, subsektor perkebunan masih menghadapi tantangan, terutama pada produktivitas dan kualitas hasil. Untuk itu ia menekankan perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor strategis ini. (sti)
Editor : Hanif