PONTIANAK POST — Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Aloysius, mengeluarkan imbauan penting kepada masyarakat menyusul maraknya peredaran uang palsu di wilayah Kota Pontianak dan Kubu Raya. Uang palsu yang beredar diketahui merupakan pecahan Rp100.000 dan Rp50.000, dan telah menjadi perhatian serius masyarakat Kakbar belakangan ini.
“Saat ini kita sedang menghadapi situasi di mana uang palsu mulai marak beredar, baik di pasar tradisional, warung, maupun toko-toko kecil,” ujar Aloysius, Kamis(21/8).
Ia menjelaskan, modus pengedaran uang palsu ini cukup merugikan pedagang dan masyarakat umum. Sebagai contoh, seorang pengedar bisa menggunakan uang palsu pecahan Rp100.000 untuk membeli barang senilai Rp20.000. Dengan begitu, sang pengedar langsung mendapat keuntungan “semu” sebesar Rp80.000, sementara pedagang justru menanggung kerugian.
“Bayangkan, pedagang hanya dapat Rp20.000, tapi harus mengembalikan uang kembalian hingga Rp80.000. Ini sangat merugikan, terutama bagi mereka yang berjualan kecil-kecilan,” tegas Aloysius.
Ia pun mengimbau seluruh masyarakat, terutama pemilik toko, warung, pedagang pasar, dan pelaku usaha mikro, untuk lebih waspada dan jeli saat menerima uang tunai. “Harus hati-hati. Periksa benar-benar uang yang diterima, terutama yang pecahan besar," ujarnya.
Aloysius juga menyoroti kondisi masyarakat di daerah pedalaman, yang sering kali tidak memiliki alat deteksi uang asli seperti mesin detector atau senter UV. “Mereka tidak punya alat, tidak mudah mengakses informasi, jadi sangat rentan tertipu. Untuk itu, kita harus saling membantu dan saling mengingatkan," ucapnya.
Untuk menanggulangi peredaran uang palsu, Ketua DPRD Kalbar berencana berkoordinasi dengan perbankan dan instansi terkait guna menggelar sosialisasi massal. “Kami akan minta bank untuk turun ke lapangan, memberi edukasi tentang ciri-ciri uang asli, cara memeriksa keaslian uang, dan bagaimana melapor jika menemukan uang palsu," ucapnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perbankan, dan masyarakat dalam memutus rantai peredaran uang palsu. “Ini bukan hanya tanggung jawab aparat keamanan, tapi juga tanggung jawab kita semua," katanya.
Dari berbagai artikel mengenali uang asli. sebenarnya cukup mudah. Pertama Raba tekstur. Uang asli memiliki tekstur timbul pada gambar dan angka nominal. Kedua lihat benang pengaman: Saat diterawang, benang pengaman berubah warna dan bergeser. Gunakan senter UV: Nominal uang akan menyala berwarna biru di bawah sinar ultraviolet.
Masyarakat yang menemukan uang palsu diimbau untuk tidak menyebarkannya, melainkan segera menyerahkan ke pihak berwajib atau bank terdekat. “Kewaspadaan dimulai dari diri sendiri. Dengan saling peduli, kita bisa cegah kerugian yang lebih besar,” pungkas Aloysius.(den)
Editor : Hanif