PONTIANAK POST — Aksi damai ratusan mahasiswa di depan Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat yang sejak sore berlangsung tertib, berubah tegang, memanas dan ricuh hingga akhirnya dibubarkan secara paksa oleh aparat kepolisian pada pukul 18.04 WIB.
Meski telah berkali-kali diimbau melalui pengeras suara untuk membubarkan diri, massa aksi tetap bertahan di halaman gedung dewan.
Ketegangan mulai memanas sebelumnya, sekitar pukul 17.30 WIB, ketika sekelompok peserta aksi membakar bahan-bahan publik dan benda lainnya. Asap hitam tebal membumbung tinggi ke langit.
Tidak lama berselang, dari arah belakang kerumunan, sejumlah botol mineral dan benda lainnya dilontarkan ke arah aparat yang berjaga.
Baca Juga: Mahasiswa Kembali Gelar Aksi Damai di DPRD Kalbar, Tuntut Keadilan dan Pengusutan Tindakan Aparat
Respons cepat ditunjukkan aparat kepolisian yang langsung membentuk pagar betis dan menguatkan barisan pengamanan.
Perwakilan DPRD Kalbar yang hadir, termasuk Agus Sudarmansyah, Darwis, Robby Z, Rizka A Wahab, Zulfydar Zaidar Mochtar, sempat turun tangan menenangkan massa, meminta agar tidak terpancing emosi. Namun, upaya mediasi gagal mencapai kesepakatan.
Melihat situasi semakin tidak kondusif dan berpotensi ricuh, pihak kepolisian akhirnya mengambil tindakan tegas.
Sebab, waktu massa aksi yang disepakati, sudah melewati batas sampai pukul 18.00 WIB. Water cannon dikerahkan untuk membubarkan massa yang masih bertahan di Jalan A. Yani I, tepat di depan gedung dewan.
Aksi bubar secara perlahan setelah semburan air dari water cannon memaksa massa mundur. Beberapa kali peringatan keras disampaikan melalui pengeras suara.
Baca Juga: LBH Kalbar Kecam Represif Aparat pada Aksi Kalbar Bergerak, Desak Polisi Hentikan Pelanggaran HAM
Arus lalu lintas di Jalan A. Yani I juga sempat terhambat. Satu jalur ditutup sementara untuk memudahkan evakuasi massa dan kelancaran operasi pembubaran termasuk kelancaran arus lalu lintas.
Sebelum dibubarkan, massa sempat menegaskan tuntutan mereka yakni pengusutan dugaan tindakan refresif yang menimpa korban peserta aksi sebelumnya, keadilan atas meninggalnya driver ojol Affan Kurniawan, serta penolakan terhadap wacana kenaikan tunjangan DPR RI. Isu lokal seperti PETI, Satgas PKH, Dugaan Oli Palsu dan lainnya.
Dari aksi tersebut, terlibat beberapa peserta aksi ikut diamankan kepolisian di gedung DPRD Kalimantan Barat. (den)
Editor : Miftahul Khair